Tergoda Aneka “Makanan” di Wonderfood Museum Penang


Kedatangan saya disambut oleh semangkuk “es kacang merah” superbesar di depan pintu masuk. Jika saja ukurannya tak sebesar itu, pasti saya sudah mengira bahwa semangkuk es tersebut benar-benar asli dan bisa dikonsumsi. Apalagi cuaca Penang yang cukup panas meski hari masih pagi, membuat “es kacang merah” terlihat menggoda.


“Malaysia?” tanya seorang petugas di konter tiket.
“Indonesia,” jawab saya.

Memang ada perbedaan harga tiket masuk Wonderfood Museum bagi turis lokal dan luar. Tiket untuk turis luar dijual seharga 25 Ringgit, sedangkan untuk turis lokal alias warga Malaysia dijual seharga 15 Ringgit.

Setelah membeli tiket, seorang petugas mengarahkan saya menuju ruang yang memajang aneka “makanan” khas Melayu, Cina, India, dan peranakan. Di ruang pertama ini, saya cukup lama mengamati berbagai “makanan” yang dipajang. Semangkuk laksa dengan kuah berwarna oranye dipajang di balik kaca.  Ada curry, mi goreng, nasi biryani, dan masih banyak lagi.



Tampilan “makanan-makanan” tersebut begitu menggoda, so mouthwatering. Awalnya saya kira “makanan” yang dipajang merupakan makanan asli yang entah diawetkan dengan cara bagaimana. Ternyata saya salah. Staf museum menjelaskan bahwa “makanan” tersebut dibuat dari plastik—ultra-realistic plastic. Sehingga, tak heran jika tampilannya begitu menawan dan terlihat sangat nyata. Plastik tak pernah terlihat semenarik ini untuk dimakan. Membuat siapa saja menahan liur serta nafsu makan saat melihatnya. Bahkan, saat saya menggunggah salah satu foto di Insta Story yang menampilkan ayam berwarna ungu pekat, beberapa teman penasaran dan menanyakan itu menu apa. Iseng, saya jawab, “ayam celup tinta pemilu.” Hehehe....


Lantai satu Wonderfood Museum banyak menyajikan tiruan makanan-makanan tradisional dalam berbagai ukuran, mulai ukuran standar sampai superbesar. Salah satu yang menarik perhatian  adalah berbagai jenis jajan pasar yang tidak asing bagi saya. Tapi, saya baru tahu bahwa makanan-makanan tersebut adalah makanan khas peranakan. Selama ini, saya mengira kue lapis, dadar gulung, klepon, pastel merupakan kue-kue asli Indonesia, ternyata bukan. Betapa banyak kuliner kita yang merupakan hasil perpaduan budaya yang dibawa oleh imigran Cina ratusan tahun lalu dan telah menyatu dengan budaya lokal, yang kemudian menghasilkan kuliner khas peranakan.




“Di atas masih banyak,” kata seorang staf yang membantu saya mengambil gambar.
Hampir di tiap spot foto ada staf yang siap membantu pengunjung mengambil gambar sekaligus menjadi pengarah gaya. Tapi, jangan berharap banyak bahwa tiap staf bisa memotret sesuai ekspektasi. Hehehe....

Menjelang siang kala itu, perut saya semakin lapar. Apalagi di sekitar saya banyak “makanan”, yang meskipun tidak edible tapi terlihat sangat menggoda. Meski sudah lapar, namun saya terus melanjutkan ke lantai dua. Sudah bayar mahal, masa cuma ke lantai satu? Rugi!


Lantai dua lebih banyak menampilkan tiruan makanan-makanan modern dan western disertai kutipan-kutipan lucu serta inspiratif. Pengunjung juga bisa melihat diorama para penjual makanan di zaman dulu yang lebih sering menjajakan makanannya dengan sepeda atau pikulan.

Banyak spot foto unik dan lucu di Wonderfood Museum ini. Di lantai dua, spot-spot foto lebih variatif, mulai lapak jualan mi goreng, sembako, sampai spot-spot unik dengan kutipan inspiratif. Terakhir, sebelum turun ke pintu keluar di lantai satu, saya sempat kaget melihat bocah berambut kumal berjongkok di lantai, di pojokan. Sementara penerangan di ruang ini cukup minim. Tapi ternyata, bocah tersebut hanya sebuah patung. Di dinding, tertulis kutipan agar kita tidak menyia-nyiakan makanan. Bagi saya, ini yang paling menohok, mengingat banyak sekali sampah makanan sisa yang terbuang, padahal di luar sana atau di belahan bumi lainnya, banyak orang kelaparan.

Jika berkunjung ke Penang, Wonderfood Museum ini layak kamu masukkan daftar destinasi yang harus kamu kunjungi. Bagi turis luar, harga tiket masuk memang sedikit mahal, tapi saya puas berkunjung ke sini. Saya menghabiskan waktu sekitar dua jam lebih untuk berkeliling, melihat-lihat, membaca keterangan, dan tentu saja antre berfoto karena pengunjung cukup banyak.

Lokasi Wonderfood Museum tak jauh dari Victoria Clock Tower Untuk menuju Wonderfood Museum, kita bisa naik bus Rapid Penang atau Grab. Awalnya saya berencana naik bus, tapi setelah menunggu lama di KOMTAR, bus tak kunjung datang. Akhirnya, saya pesan Grab. Tapi begitu Grab datang, bus yang saya tunggu juga datang. Telat, Rangga, madingnya udah mau terbit!

Wonderfood Museum Penang
49, Lebuh Pantai, George Town, 10200, Penang, Malaysia
Open Hour: 9 AM–6 PM
Entry Ticket:
RM 25 (foreign tourist)
RM 15 (local tourist)


Share:

0 komentar

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...