Pertolongan Pertama pada Gadis Desa

Malam Minggu yang gerimis dan macet di Bogor membuat saya khawatir ketinggalan KRL terakhir ke Jakarta yang berangkat sekitar jam 8 malam dari Stasiun Bogor. Sopir ojek online yang mengantar saya menyelinap gesit dan lincah di antara mobil-mobil, melewati jalan setapak, mencari jalur alternatif untuk menghindari macet agar saya tidak ketinggalan kereta. Bersyukur, saya sampai di Stasiun Bogor sebelum KRL terakhir berangkat tanpa harus berlarian mencari gerbong yang masih kosong.


“Senen, kan?” seorang pria paruh baya yang berjalan di depan saya bertanya kepada petugas sebelum ia memasuki gerbong.
Si petugas mengangguk, “Ya, Senen, Pak. Ayo masuk.”
  
Saya mengekor di belakang pria paruh baya beransel hitam tersebut tanpa khawatir salah kereta. Benar, kereta ini yang akan membawa saya ke Stasiun Pasar Senen. Penumpang lain pun masuk. Namun, sebelum semua kursi terisi, terdengar pengumuman bahwa penumpang diminta pindah ke kereta lain. Kami keluar dan menuju kereta yang dimaksud. Tetapi, kereta tak segera berangkat. Entah mengapa. Hampir setengah jam saya menunggu, namun kereta tak kunjung melaju.

Jam digital di layar gawai menunjukkan pukul 20.25. Saya mulai khawatir karena kereta yang sudah saya pesan akan berangkat jam 22.20 dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Namun, kekhawatiran itu mulai lenyap saat sepuluh menit kemudian, kereta mulai melaju pelan-pelan meninggalkan kota hujan.

Tetapi, lenyapnya kekhawatiran itu hanya sementara. Seiring laju kereta, cemas dan khawatir juga melaju di hati saya. Bagaimana tidak? Saat jam sudah menunjukkan pukul 21.30, kereta belum juga sampai di Stasiun Pasar Senen.

“Kira-kira sampai Senen jam berapa ya, Mbak?” tanya saya pada seorang wanita di samping kanan.
“Kurang tahu, saya turun di Manggarai,” jawabnya.

Tak lama kemudian, ia beranjak dan turun di Stasiun Manggarai. Sedangkan saya masih harap-harap cemas dan bertanya-tanya. Kapan kereta ini sampai di Stasiun Pasar Senen? Bagaimana jika saya ketinggalan kereta?

Saya semakin cemas saat tahu bahwa dari Stasiun Manggarai, kereta ini menuju Stasiun Mampang, lalu Sudirman, dan entah stasiun apa lagi yang akan dilalui. Ternyata, rute kereta ini berbeda dengan rute sebaliknya, Pasar Senen-Bogor, yang melewati Stasiun Jatinegara, seperti beberapa hari lalu saat saya berangkat ke Bogor.

Kalian yang sehari-hari akrab dengan KRL di Jabodetabek mungkin senyum-senyum atau bahkan tertawa karena “keluguan” saya. Bahkan saya sendiri juga senyum-senyum jika mengingat momen ini. Tapi memang begitulah. Saya yang terbiasa dengan kereta Prameks tujuan Jogja-Solo dan sebaliknya menjadi bingung dengan banyaknya rute KRL di Jabodetabek. Gadis desa yang terjebak oleh rute KRL di ibu kota, itulah saya. Memang ini bukan pertama kali saya naik KRL, tapi pertama kalinya naik untuk rute sejauh ini.

“Bu, dari sini ke Stasiun Pasar Senen masih lama?” saya bertanya pada seorang ibu yang duduk di seberang, karena penumpang di kiri kanan saya sudah turun semua.
“Nggak tahu!” ujarnya singkat, bahkan sedikit ketus. Ah, mungkin dia kecapekan, batin saya.

Sementara itu, gawai saya sudah kehabisan baterai sehingga saya tak bisa mengecek jam saat itu. Konyolnya, power bank yang nyaris tak pernah ketinggalan pun juga kehabisan daya karena tadi siang saya kurang pas memasang charger pada colokan, sehingga power bank tetap kosong meski sudah di-charge berjam-jam.

Saya mengamati peta rute KRL yang tertulis di atas tempat duduk. Sepertinya kereta ini semakin menjauh dari Stasiun Pasar Senen yang menjadi tujuan saya. Di ujung gerbong, saya melihat bapak beransel hitam yang tadi juga akan ke Stasiun Pasar Senen. Dia terlihat santai bersandar di kursi yang mulai kosong. Berbeda dengan saya yang semakin cemas menunggu dalam ketidakpastian. Terakhir saya lihat jam di gawai menunjukkan pukul 21.46. Setelah itu, gawai benar-benar mati.

Kereta terus melaju seiring laju kecemasan dan ketidaktahuan di lokasi mana saya berada. Entah sudah berapa lama, namun kereta tak kunjung sampai di Stasiun Pasar Senen, justru berhenti di Stasiun Angke. Saya ingat perjalanan menuju Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu melalui Pelabuhan Muara Angke. Artinya, stasiun ini pasti tak jauh dari pelabuhan yang lokasinya di Jakarta bagian utara. Pada titik inilah saya pasrah. Ikhlas. Saya rela jika harus ketinggalan kereta. Biarlah kursi saya kosong sehingga pemilik kursi di sebelah saya bisa duduk lebih lega.

Lalu entah pada jam berapa, saya mendengar pengumuman bahwa stasiun berikutnya adalah Stasiun Pasar Senen. Saya dan beberapa penumpang lainnya bersiap turun. Namun, pintu tak kunjung dibuka meski kereta telah sampai di stasiun yang dimaksud. Kereta terus melaju selama beberapa menit dan baru berhenti di Stasiun Sentiong. Lho, apa-apaan ini?! Saya benar-benar bingung.

Dengan sedikit ragu, saya memilih turun daripada terbawa kereta yang entah ke mana tujuannya, apalagi sudah larut malam. Toh Stasiun Sentiong tidak jauh dari Stasiun Pasar Senen.

“Kok berhenti di sini, Pak? Katanya ke Senen bisa ikut kereta ini?” tanya saya lugu.
“Iya, Mbak, berhenti di Senen nanti setelah keretanya putar balik. Mbak nunggu di sini aja, nanti naik kereta ini lagi,” kata petugas yang saya tanyai.

Saya pun keluar dari kereta.

“Mau ngejar kereta ke Jawa, Mbak? Naik Gojek aja dari sini,” kata seorang petugas di Stasiun Sentiong.
Jakarta kan di Pulau Jawa juga, batin saya, lalu menggeleng. “Enggak kok, Mas. Saya mau ngejar jodoh saja.”

Gimana mau ngejar kereta kalau sekarang sudah jam 23.00, sedangkan kereta sudah berangkat 30 menit lalu? Saya duduk di kursi tunggu sambil memikirkan cara terbaik, termudah, dan kalau bisa juga termurah untuk pulang ke Jogja dengan kereta paling pagi esok hari karena Senin pagi saya sudah harus kembali bekerja.

Serangkaian kereta ekonomi melintas di hadapan saya. Terbayang sebuah adegan film India jadul saat Shahrukh Khan mengulurkan tangan dari atas kereta kepada Kajol yang mengejarnya setelah mendapat restu dari sang ayah. Tapi, saya bukan Kajol, di kereta itu juga tidak ada seseorang yang mengulurkan tangan seperti Shahrukh Khan. Dan yang terpenting, kereta tersebut bukan kereta tujuan Jogja.
source: filmsofindia.com
Sekitar 20 menit kemudian, kereta yang tadi saya tumpangi datang lagi. Saya naik kereta yang sama selama beberapa menit sebelum akhirnya kereta benar-benar berhenti di Stasiun Pasar Senen.

Mata sudah sangat mengantuk saat saya turun dari kereta. Badan juga sudah capek. Namun saya belum bisa tenang jika belum dapat tiket untuk pulang ke Jogja besok. Harus besok. Tak peduli loket penjualan tiket di stasiun sudah tutup, saya tetap harus dapat tiket.

Adakah pertolongan pertama untuk gadis desa yang tersesat di ibu kota, lalu ketinggalan kereta?

Saya berjalan menuju sebuah minimarket waralaba yang buka 24 jam di sekitar stasiun. Setelah membeli secangkir kopi, saya numpang nge-charge. Gawai menyala dan seketika jemari saya lincah membuka sebuah aplikasi travel agent, apalagi jika bukan Traveloka yang menjadi partner resmi KAI.

Dengan agak deg-degan, saya masukkan tanggal keberangkatan dan stasiun tujuan. Beruntung, masih banyak kursi tersisa. Saya lega dan bahagia karena bisa memilih kursi. Tentu saja, window seat menjadi favorit saya, meskipun besok di kereta pasti saya lebih banyak tidur daripada melihat ke luar jendela. Usai memesan, segera saya selesaikan pembayaran dengan transfer via ATM.

Dengan fitur passanger quick pick, memesan tiket kereta api lewat Traveloka juga lebih mudah dan praktis karena dengan sekali klik, kita bisa memasukkan nama penumpang. Fitur ini sangat memudahkan kita ketika memesan tiket mudik (untuk beberapa orang). Berburu tiket saat pergantian hari menjadi kebiasaan para pemudik demi mendapat tiket yang jadi rebutan banyak orang. Telat beberapa detik saja daripada pembeli lain, dijamin tiket akan melayang. Dengan passanger quick pick, kita tak perlu menghabiskan waktu dengan mengisi data penumpang satu per satu. 


Penggunaannya pun mudah. Kita tinggal log in ke akun Traveloka, masuk ke my account dan pilih passanger quick pick. Klik add passanger lalu isi dengan data calon penumpang. Fitur passanger quick pick ini bisa diisi hingga 20 nama, lo. Jadi, saat akan mengisi passanger detail, nama-nama yang telah kita masukkan ke passanger quick pick akan muncul secara otomatis dan kita bisa memilihnya. Benar-benar menghemat waktu.     


Kemudahan lain yang membuat saya benar-benar merasa terbantu adalah adanya fitur last minute booking di Traveloka. Sebab, kadang banyak hal yang menjadi drama tak terduga dalam perjalanan, misalnya ketinggalan kereta seperti ini. Last minute booking memungkinkan kita untuk memesan tiket kereta bahkan hingga 3 jam sebelum keberangkatan. Selain perkara ketinggalan kereta, banyak juga hal tak terduga yang kadang mengharuskan kita pergi ke luar kota secara mendadak, entah untuk urusan pekerjaan, keluarga, kangen pacar (bagi yang LDR), atau kabur dari mantan yang masih suka ngejar-ngejar, fitur last minute booking sangat membantu. Misalnya, saat bangun tidur di pagi hari, kamu melihat chat di gawaimu dari pacar yang bilang bahwa dia kangen banget. Lalu, kamu ingin memberinya kejutan dengan mendatanginya secara tiba-tiba, maka kamu bisa membeli tiket kereta api secara online hari itu juga di Traveloka, maksimal 3 jam sebelum keberangkatan. Wow!

Tapi, jangan sedih kalau nggak punya pacar! You're not alone. Soalnya masih banyak yang senasib. *nunjuk diri sendiri

Jangan sedih juga saat terdampar di stasiun tengah malam karena ketinggalan kereta. Mungkin memang tidak akan ada pangeran berkuda putih yang bisa membantu, tapi akan selalu ada si burung biru bernama Traveloka yang memberi pertolongan pertama pada gadis desa seperti saya, hingga saya #jadibisa kembali ke Jogja.

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru
Dalam rindu....  
(Yogyakarta-KLA Project)

Share:

2 komentar

  1. Selendang mana selendang hahahaha.
    Aduh aku tertawa di atas penderitaan orang yang ketinggalan kereta. *sungkemdulu

    Aku baru tahu juga sekarang ternyata jalur berangkat kereta dan jalur pulang itu gak sama. Persis kayak jalur bus di Hong Kong *pamer pernah ke Hong Kong *dilepehinmassa

    Tapi aku juga pernah panik luar biasa kayak gini saat nyari jalur bus ke bandara. Kirain kalau berhenti di halte A, naik ke bandaranya di halte A juga, ternyata nggak.

    Untung gak ketinggalan pesawat. Piuuh. Keren deh Traveloka, bisa sampe 3 jam limit sebelum kereta berangkat buat beli. Ketjeh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya, cara paling mudah dari Bogor turun di Sudirman, lanjut ngegojek ke Senen, tapi waktu itu aku belum tahu. Di dalam kereta cuma bisa harap-harap cemas takut ketinggalan kereta soalnya trauma ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya. Huahahaha....


      Situ pernah ke Hongkong? Aku dong pernah makan hongkong.

      Delete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...