Jelajah Mataram Islam, dari Kotegede, Kerto, hingga Pleret

Suatu hari di masa depan…
“Ibu, ayo cerita lagi…,” kau mulai merengek. Belum sempat aku memulai cerita, kau berujar setengah protes—ternyata sikapku menurun padamu, “Tapi cerita yang beda, aku bosan mendengar cerita tentang binatang.”
Lalu ingatanku kembali pada sebuah akhir pekan di bulan Oktober 2017. Hari itu, 14 Oktober, adalah sebuah Sabtu yang tak banyak disinari oleh matahari, tapi banyak cerita yang bisa kugali. Cerita inilah yang akan kuceritakan padamu sebagai pengantar tidur.

***
Masjid Kotagede

Seperti sejarah Mataram Islam yang berawal dari Kotagede, dari sini pula aku memulai jelajah Mataram Islam bersama Komunitas Malam Museum. Ditemani guide dari Komunitas Jelajah Pusaka Mataram, aku dan mereka menyusuri jejak sejarah di Kogade. Rumah-rumah berimpitan, dipisahkan gang-gang sempit bak labirin yang membingungkan. Kotagede tidak hanya padat oleh pemukiman, tetapi lebih dari itu, sejarah panjang Mataram Islam melekat di setiap jengkalnya.
Between Two Gates di Kampung Alun-Alun, Purbayan
Jauh sebelum menjadi destinasi wisata di era modern seperti sekarang, Kotagede adalah hamparan hutan yang ditumbuhi pohon mentaok sehingga disebut alas mentaok. Lalu, sebuah sayembara mengawali sebuah kisah tentang cikal-bakal Mataram Islam yang kemudian mengubah alas mentaok menjadi sebuah peradaban besar.

Adalah Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang yang mengadakan sayembara bahwa barang siapa mampu membunuh Arya Penangsang, maka ia akan diberi imbalan besar. Majulah Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi dalam sayembara tersebut. Singkat cerita, Arya Penangsang terbunuh. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi keluar sebagai pemenang sayembara, walaupun sebenarnya sang eksekutor yang membunuh Arya Penangsang adalah Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan, yang saat itu masih muda.

Keduanya dihadiahi tanah perdikan oleh Sultan Hadiwijaya di daerah Pati dan alas mentaok. Ki Ageng Penjawi memilih Pati, sehingga alas mentaok menjadi milik Ki Ageng Pemanahan. Namun kenyataannya, butuh waktu 7 tahun bagi Ki Ageng Pemanahan untuk benar-benar memiliki alas mentaok karena Sultan Hadiwijaya khawatir akan sebuah ramalah bahwa penguasa alas mentaok kelak akan menjadi raja.

***

“Lalu Ki Ageng Pemanahan beneran jadi raja, Bu?” tanyamu tak sabar.
Dan aku memanggil kembali ingatan yang tertimbun beragam kenangan, mengemasnya menjadi cerita agar kau tak menganggap sejarah sebagai sesuatu yang membosankan. 

***

Sekitar tahun 1550an, Ki Ageng Pemanahan membabat alas mentaok untuk menjadikannya pemukiman bernama Mataram, lengkap dengan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Semakin hari, semakin banyak orang yang datang dan bermukim di sana, sehingga tempat yang awalnya berupa hutan tersebut menjadi sebuah kota besar di bawah kepemimpinan Ki Ageng Pemanahan.

Sepeninggal Ki Ageng Pemahanan, kepemimpinan diganti oleh putranya, Danang Sutawijaya yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam dan bergelar Panembahan Senopati. Sejak saat itu, Danang Sutawijaya mulai terang-terangan memberontak dari Pajang dengan tidak pernah sowan atau melapor. Dia tidak menyukai Raja Pajang yang berambut gondrong dan memiliki banyak perempuan.

Panembahan Senopati mulai melakukan pembangunan. Di musim kemarau, dia meminta rakyat membuat batu bata guna membangun benteng bernama Benteng Cepuri. Dia menemui Nyi Roro Kidul yang konon merupakan penguasa Pantai Selatan Jawa untuk memperoleh pengakuan sebagai raja. Sampai sekarang, Keraton Yogyakarta tetap rutin menggelar Labuhan Pantai Selatan dan Labuhan Merapi.

Jebolan Raden Ronggo di Benteng Cepuri, Kampung Dalem

Sisa-sisa Benteng Cepuri bisa ditemukan saat ini, di antaranya di kampung Dalem yang diperkirakan sebagai gerbang keraton. Kampung dalem sendiri merupakan toponim sebagai lokasi keraton atau tempat tinggal (ndalem) raja. Masuk ke kampung Dalem memang tak ada bedanya dengan memasuki perkampungan pada umumnya, namun siapa sangka bahwa ratusan tahun lalu, tempat ini menjadi pusat pemerintahan dari sebuah kerajaan.

Masih termasuk bagian dari Benteng Cepuri, yaitu situs Bokong Semar. Disebut demikian karena bentuknya yang melengkung menyerupai bokong semar. Benteng dibangun mengelilingi keraton demi menjaga keamanan. Dan saat ini, yang tersisa hanya benteng di kampung Dalem dengan jebolan Raden Ronggo-nya serta Bokong Semar.

***

“Ibu, besok cerita tentang Semar, ya,” pintamu.
Aku mengangguk. “Sekarang, mau dilanjutkan nggak ceritanya?”
Giliran kamu yang mengangguk, meski mulai terlihat mengantuk.

***

Langit kembali mengirimkan hujan saat penjelajahan sampai di Hastorenggo. Kawasan ini merupakan makam keluarga keraton yang diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono ke VIII. Kami berlarian setelah menyempatkan foto bersama. Hujan memang tak deras, tapi cukup membuat sepatu lembab.

Tak jauh dari Hasteronggo terdapat situs Watu Gilang yang merupakan alas singgasana raja. Kami memasuki sebuah ruang sempit nan temaram, disambut seorang juru kunci. Dia mengisahkan Putri Pembayun yang membawa misi menaklukkan Ki Ageng Mangir yang menolak untuk tunduk pada Mataram. Sihir kecantikan Pembayun membuat Mangir jatuh cinta. Mereka menikah.

Pembayun mengajak suaminya ke keraton untuk bertemu sang ayahanda. Panembahan Senopati duduk di singgasana menyambut kedatangan putri serta menantunya. Saat Mangir hendak sungkem, Panembahan Senopati membenturkan kepala Mangir pada batu gilang di bawah singgasananya hingga bekas benturan itu masih tersisa pada batu gilang, sampai sekarang. Mangir..., kadang jarak cinta dan petaka memang sedekat alis dan mata.

***

Sepasang matamu kembali menyala. Seperti ada yang menarik perhatianmu. “Ibu, cinta itu apa?”
Aku kebingungan menjelaskan arti cinta kepada bocah 5 tahun sepertimu. “Cinta itu....”

***

Diiringi hujan, penjelajahan berlanjut ke Masjid Kauman Kotagede yang usianya lebih tua daripada Masjid Kauman Yogyakarta. Menganut sistem tata ruang catur gatra tunggal, Kerajaan Mataram Islam tidak hanya memiliki keraton sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga masjid sebagai tempat ibadah, alun-alun sebagai tempat bersosialisasi antara pemerintah dan rakyat, serta pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Gapura masjid berbentuk gapura paduraksa dengan berbagai ukiran bercorak Hindu-Budha. Corak tersebut disematkan sebagai wujud toleransi pada warga beragama Hindu-Budha yang ikut membantu membangun masjid. Pembangunan juga dilakukan atas bantuan dari Kerajaan Bali yang menganut agama Hindu. Ah, toleransi itu... indah sekali....

Sebuah prasasti berwarna hijau menunjukkan bahwa masjid pernah mengalami dua tahap pembangunan, yaitu oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X dari Kasunanan Surakarta. Ya, meski perjanjian Giyanti memisahkan dua kerajaan, namun Masjid Gedhe di Kotagede ini tidak serta-merta dibagi demi menghormati pendirinya. Di sekitar masjid, para abdi dalem dari dua keraton juga tinggal berdampingan.
Gapura menuju kompleks makam raja-raja Mataram dan Sendang Seliran

Masuk ke gapura di samping masjid, inilah jalan menuju Sendang Seliran dan kompleks makam raja-raja Mataram, yang salah satunya adalah Panembahan Senopati. Masjid dan makam memang berdekatan yang menunjukkan makna bahwa saat kita mendekatkan diri kepada Tuhan, saat itu pula kita diingatkan bahwa perjalanan hidup di dunia akan bermuara pada kematian.

Berjalan lurus, lalu belok kiri, aku kembali disambut gapura dengan ukiran-ukiran yang khas. Setelah menuruni tangga, tampak sebuah taman dengan dua bagian, yaitu Sendang Seliran Kakung dan Sendang Seliran Putri.

Konon, air dari sendang tersebut berasal dari badan (seliran) Panembahan Senopati. Saat menghentakkan kaki, muncullah mata air dari tanah bekas hentakannya. Cerita lain yang sangat melekat dengan Sendang Seliran adalah adanya lele reges yang menghuni sendang tersebut. Penampakannya hanya duri lele dengan kepalanya, namun tetap hidup.

Dahulu, Panembahan Senopati pernah menjamu Sunan Kalijaga dengan olahan ikan lele. Saking nikmatnya, Sunan Kalijaga bertanya cara masak ikan tersebut.
Tak masak urip-urip,” jawab Panembahan Senopati.
Urip... urip...,” ujar Sunan Kalijaga.
Seketika, lele yang tinggal tulang dan kepala itu pun hidup. 

Sendang Seliran Kakung, tapi itu bukan lele reges

Lain dengan Sendang Seliran Putri, dulu di sendang ini hidup seekor bulus berwarna kuning. Bulus bernama Ki Dudo ini hanya memiliki tiga kaki. Namun, si bulus sudah mati dan dikuburkan di kawasan Sendang Seliran.

***

“Ibu, apa di kolam samping rumah kita ada bulusnya?”
“Nggak ada. Bapakmu cuma naruh ikan lele.”
“Lele reges ya, Bu?”
“Lihat saja waktu makan lele, kalau lele yang tinggal tulang bisa hidup lagi, mungkin itu lele reges.”  
Aku tahu, imajinasi kecilmu pasti sedang menggambarkan lele itu. 

***

Sampai saat ini, dua dari catur gatra yang masih difungsikan di Kotagede adalah masjid dan pasar. Selebihnya hanya meninggalkan toponim, yaitu kampung Dalem dan kampung Alun-Alun, Purbayan. Selama berpusat di Kotagede, Mataram Islam telah menobatkan tiga raja, yaitu Panembahan Senopati selaku pendiri, Raden Mas Jolang (Panembahan Sedo ing Krapyak), dan Panembahan Hanyokrokusumo (yang kemudian bergelar Sultan Agung) yang memindahkan pusat pemerintahannya ke Kerto pada tahun 1617 yang berjarak sekitar 8 km dari Kotagede. Proses perpindahan berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Namun, kegiatan ekonomi tetap berpusat di Kotagede.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dari Kotagede, kami sampai di sebuah kebun berpagar di sekelilingnya. Siapa sangka, ternyata tempat ini dahulunya merupakan sitihinggil saat keraton pindah ke Kerto, terlihat dari posisi tanah yang lebih tinggi daripada tanah di sekelilingnya. Sayangnya, tak ada bangunan yang tersisa kecuali umpak atau penyangga tiang. Menariknya, umpak tersebut berukir huruf mim, cha, dan dal, yang membentuk tulisan Muhammad.

Umpak di kawasan Keraton Kerto
Sebenarnya, ada 4 buah umpak, namun yang terdapat di Kerto saat ini hanya dua. Satu umpak dipakai sebagai penyangga tiang Masjid Soko Tunggal di Tamansari, sedangkan satu lagi tidak diketahui keberadaannya. Ada dugaan, satu umpak yang tidak ketemu tersebut hilang oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sementara dugaan lain, konon umpak yang memiliki kekuatan magis itu “menolak” saat akan dibawa ke Surakarta dan jatuh di Desa Gunungan.

Memang tak banyak peninggalan Keraton Kerto yang tersisa karena keraton tersebut terbuat dari kayu yang pasti akan lapuk oleh waktu. Di satu sisi, Amangkurat I yang menggantikan ayahnya, yakni Sultan Agung, sejak tahun 1646 M telah memindahkan keraton dari Kerto ke Pleret. Entah apa alasannya, padahal jarak Kerto dan Pleret cukup dekat. Meskipun demikian, Keraton Pleret merupakan keraton Mataram pertama yang memiliki sitihinggil sekaligus memiliki raja Mataram pertama yang memperoleh gelar sultan dari Mekah, yakni Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Sebelumnya, gelar sultan hanya dimiliki oleh raja-raja Demak dan Cirebon.

Masjid Taqarrub Kanggotan
Tak jauh dari lokasi Sitihinggil Keraton Kerto, terdapat masjid bernama Masjid Taqarub Kanggotan yang ditengarai sebagai masjid patok nagari milik Keraton Kerto. Letaknya yang berdekatan dengan lokasi Sitihinggil menimbulkan dugaan bahwa masjid tersebut termasuk bagian dari peninggalan Keraton Kerto. Namun, tak ada bukti kuat mengenai dugaan tersebut karena masjid telah banyak mengalami renovasi.

***

Bocah 5 tahun itu telah lelap di sampingku. Aku ingin menyudahi cerita, tetapi ingatan-ingatan telanjur berlompatan, membuatku ingin terus bercerita tentang pengalaman mengesankan menjelajah sejarah Mataram Islam.

***

Dari Kerto, kami mengikuti perjalanan R.M. Sayidin atau Amangkurat I yang memindahkan keratonnya ke Pleret. Masih mengacu pada catur gatra tunggal, Keraton Pleret juga memiliki masjid kauman sebagai tempat ibadah meski kini tinggal fondasi di dalam tanah. Bising mesin yang dioperasikan oleh para tukang bangunan seolah menyambut kedatangan kami. Ya, masjid yang menyisakan sedikit fondasi ini akan dibangun kembali menyerupai (atau mendekati) perkiraan bentuk aslinya. Megah dan artistik pastinya.

Tentang Masjid Kauman Pleret

Amangkurat I sendiri merupakan sosok raja yang kontroversial dan "psikopat". Jauh berbeda dengan ayahnya, Sultan Agung, yang banyak membawa kemajuan bagi Mataram dan menentang VOC, Amangkurat I justru "mesra" dengan VOC. Sejarawan Merle C. Ricklefs dalam War, Culture, and Economy in Java 1677-1726 (1993) menggambarkan Amangkurat I sebagai raja yang tak memiliki kreativitas. "Jika Sultan Agung menaklukkan, menggertak, membujuk, dan bermanuver, Amangkurat I menuntut dan membantai" (hlm. 31).

Di sisi lain, kehidupan Amangkurat I juga tak lepas dari banyak wanita. Tak peduli si wanita sudah bersuami, jika dia suka, maka wanita itu harus menjadi miliknya.

Adalah Ratu Malang, salah satu wanita yang membuat Amangkurat I tergila-gila. Padahal, Ratu Malang sudah bersuamikan Ki Dalang Panjang. Namun, tak peduli pada keadaan, Amangkurat I mengundang Ki Dalang Panjang untuk mendalang di keraton. Seperti sudah direncanakan, terjadi kebakaran saat pentas wayang berlangsung sehingga Ki Dalang Panjang Meninggal. Ratu Malang pun diperistri oleh Amangkurat I.

Sebagai istri yang sangat dicintai, Ratu Malang memicu cemburu di antara para selir hingga dia diracun dan meninggal dunia. Amangkurat I teramat sedih karena kematian istri tercintanya. Sampa-sampai, dia rela tidur di samping jenazaha Ratu Malang selama tiga malam hingga dia berhenti setelah memimpikan sang istri yang telah bahagia bersama suami terdahulunya, Ki Dalang Panjang. Makam Ratu Malang bersebelahan dengan makam suaminya di Gunung Kelir.

Memang bukan Amangkurat I jika tidak kontroversial. Bahkan, dia juga membuat proyek Segoroyoso yang sedianya untuk tempat berlatih para prajurit. Nyatanya? Tempat tersebut dia gunakan sebagai peristirahatan dan bersenang-senang dengan para selir.

Amangkurat I juga dianggap tidak memiliki kualitas kebajikan yang harus dimiliki seorang raja. Dalam Serat Jaya Baya, kitab rahasia yang dianggap sakti karena bisa meramal masa depan, Amangkurat I dilukiskan dengan metafora negatif: Kalpa sru semune kenaka putung (masa kelaliman yang diibaratkan dengan kuku yang putus). "Masa lalim" maksudnya kekejaman pemerintahan raja, dan "kuku yang putus" maksudnya banyaknya panglima yang dibunuh tanpa guna. (tirto.id)

Akan tetapi, kekuasaan termasuk hal yang fana di dunia ini, begitu juga dengan kekuasaan Amangkurat I yang berhasil digulingkan oleh Trunojoyo dari Madura melalui pemberontakan yang dia rencanakan bersama Pangeran Rahmad. Namun ternyata, Trunojoyo mengingkari janji. Setelah Pleret berhasil direbut, kekuasaan tidak diserahkan kepada Pangeran Rahmad. Sebaliknya, Trunojoyo justru menjarah serta menghancurkan Pleret hingga tak bersisa.

Merasa dikhianati, Pangeran Rahmad bergabung kembali dengan Amangkurat I. Keduanya melarikan diri untuk meminta bantuan kepada VOC di Batavia. Sayangnya, ajal lebih dulu menjemput. Amangkurat I meninggal di Tegal.

Peta Keraton Pleret

Sebagaimana Keraton Kerto yang didirikan oleh Sultan Agung, peninggalan fisik Keraton Pleret juga tidak banyak. Beberapa di antaranya dapat dilihat di Museum Purbakala Pleret yang menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah di wilayah Pleret, seperti umpak, tempat minum kuda, sumur gumiling yang konon menjadi sumber air bagi Keraton Pleret dan memiliki berbagai rasa, serta  peninggalan-peninggalan lainnya. Selain itu, Museum Purbakala Pleret juga memiliki ruang audiovisual yang menampilkan berbagai hal tentang sejarah Keraton Pleret.

***

Kelak di masa depan yang aku tuliskan, aku tak tahu apakah bocah 5 tahun yang aku ceritakan itu akan menyukai sejarah atau justru mengikuti anggapan umum bahwa belajar sejarah sangat membosankan. Entahlah..., tapi aku yang harus mengenalkan sejarah kepadanya lewat cara yang menyenangkan sehingga aku bersyukur karena di masa sekarang, aku pernah menjadi bagian dari Jelajah Mataram Islam yang membawaku belajar sekaligus menjelajah tempat-tempat bersejarah. Aku bersyukur, setidaknya aku punya cerita lebih tentang Kotagede, bukan sekadar pasar dengan jajanan murah yang selalu aku buru, tetapi juga tempat menimba ilmu.
   

Share:

10 komentar

  1. Saia kira foto lele di Sendang Seliran Kakung itu lele berbadan tulang hlo kalo sekilas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Bukan, Mas. Lele reges sudah ratusan tahun lalu. Kalo mau lihat mungkin harus bertapa dulu

      Delete
  2. Mbak, si bocah namanya siapa tuh?he..pasti di masa depan si bocah hobi nulis juga spt ibuknya...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum rembugan soal nama sama bapaknya. Hahaha... Bapaknya masih sibuk nyariin saya.

      Delete
  3. Entah kenapa q kok selalu tertarik sama kota gede.. kyk menyimpan sejuta misteri yang bs d kulik2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, eksplore Kotagede. Bangunan-bangunan tuanya seperti mampu bercerita.

      Delete
  4. yg menang tulisan ini?
    sebenarnya pengen ikutn ini tp ga sempet kabur ke jogja :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kan ada 3 kali, Kak. Bisa pilih salah satu. Hehee... Aku cuma ikut sekali.

      Delete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...