Teluk Love Pantai Payangan; Pesona dari Kampung Halaman

Teluk Love (dok. pribadi, diambil tahun 2015)
“Ternyata, sampai hari ini saya masih waras. Saya rindu pantai. Tapi, pantai tidak perlu jadi rumah saya. Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan,” kata Tansen, tokoh utama dalam Madre karya Dewi Lestari. Seperti Tansen, saya pernah merindukan pantai. Sangat rindu. Ditambah rindu pada rumah, maka semakin buncah saja rindu itu di dada saya. Namun, saat itu, keadaan belum memungkinkan saya untuk pulang karena tugas yang belum selesai. Satu-satunya hal yang memungkinkan adalah memulangkan rindu pada pantai yang harus saya tempuh selama 14 jam naik bus dari tempat tinggal saya, Hyderabad, India.

Ini “gila”, karena seumur-umur saya tinggal di Pulau Jawa (Jember dan Jogja), cukup 3 jam ke utara, saya sudah dapat bersentuhan dengan Pantai Utara. Sedangkan, 1–2 jam saja ke selatan, ganasnya ombak Pantai Selatan sudah menyambut saya. Tapi ketika beberapa bulan berada di India, saya perlu waktu 14 jam demi melihat pantai. Saat itu, di tepi Pantai Baga, Goa, saya kembali teringat rumah. Jika seluruh lautan di bumi ini terhubung, maka saya telah menitipkan rindu pada setiap ombak di pantai ini agar disampaikan oleh ombak di tepi pantai di kampung halaman saya, Jember.

“Tunggu! Memangnya Jember punya pantai?”
   
Pertanyaan semacam itu sering kali saya terima. Begitu juga ketika saya mengunggah foto pantai di Jember ke media sosial, tak jarang teman yang berkomentar, “Wah, ternyata Jember punya pantai, ya.” Garis pantai selatan Pulau Jawa melewati kabupaten Jember, sehingga debur ombaknya yang ganas membasuh tepian pantai di kabupaten Jember bagian selatan. Tak bisa dipungkiri bahwa Jember memiliki pesona alam yang mengundang decak kagum siapa pun yang mengunjunginya. Namun sayang, tak begitu banyak orang yang mengetahui pesona tersebut.

                                                                           ***

Selain menikmati masakan Emak dan bermain dengan kucing kesayangan di rumah, bagi saya, pulang ke kampung halaman belum lengkap tanpa memulangkan rindu pada pantainya. Dan, untuk memulangkan rindu itu, saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam berkereta api dari Yogyakarta ke Jember.

Too little time, too much to do. Itulah yang sering saya rasakan setiap pulang kampung. Ingin bertemu banyak orang, ingin pergi ke banyak tempat, tapi jatah cuti tidak memungkinkan untuk melakukan banyak hal. Dari sekian banyak hal yang ingin saya lakukan, kunjungan ke pantai adalah satu dari sekian hal yang wajib saya lakukan.

Yogyakarta, tempat saya bekerja memang mempunyai banyak pantai yang memesona, tapi pesona pantai di kampung halaman selalu mampu memanggil saya kembali pulang. Pantai Payangan, pantai favorit saya. Pasirnya memang tidak putih, ombaknya juga tidak ramah untuk sekadar berenang di tepian, namun ada yang unik dari garis pantainya yang menjorok ke daratan membentuk teluk yang menyerupai bentuk hati. Sesuai bentuknya, teluk ini diberi nama Teluk Love.


Ada yang berbeda dengan kunjungan saya ke Teluk Love saat pulang kampung beberapa waktu lalu. Jika biasanya saya ke pantai pada siang menjelang sore, kali ini saya memilih waktu pagi. Udara pagi yang dingin di bulan Juli merupakan tantangan tersendiri untuk beranjak dari kasur dan menyibak selimut hangat. Bersama seorang teman, pagi itu saya melewati jalan sepi di tepi ladang tembakau, menuju Pantai Payangan.

Jalan menuju Pantai Payangan (dok. pribadi)

Pantai Payangan dengan air laut yang biru (dok. pribadi)
Bunyi debur ombak sudah menyapa indra pendengaran saya terlebih dahulu sebelum ombak itu sendiri terlihat oleh sepasang mata saya. Begitu juga dengan aroma alut yang khas, yang sulit saya deskripsikan namun sangat familiar di indra penciuman saya.

Pantai Payangan dari Bukit Suroyo dok. pribadi
Pagi itu, Pantai Payangan masih sangat sepi. Hanya ada beberapa warga lokal dan wisatawan yang bisa dihitung dengan jari. Saya berdiri tepat di tepi pantai, memperhatikan ombak yang datang dan pergi. Sejenak saya pejamkan mata dan menghirup dalam-dalam udara sejuk berangin sepoi pagi itu dengan aroma khas yang menguar di sekitar, aroma pantai yang selama ini saya rindukan. Ada perasaan nyaman dan tenang setiap kali saya hirup aroma tersebut.

Pantai Payangan dihiasi dengan gugusan bukit dan pulau karang di sekitarnya. Dan, untuk menikmati keunikan Teluk Love, pengunjung harus jalan kaki mendaki Bukit Suroyo. Selangkah demi selangkah saya menjejakkan kaki di lereng bukit. Sesekali saya berhenti sebab pemandangan dari atas bukit sangat sayang dilewatkan begitu saja. Birunya laut dan lekuk garis pantai yang ditingkahi ombak terlihat jelas, membiaskan warna yang menyejukkan mata.

Matahari semakin meninggi saat saya sampai di puncak bukit yang bernama Puncak Asmara, namun sinarnya masih tetap hangat dan menjadikan buih di lautan yang biru tampak berkilauan. Sebuah perahu nelayan terombang-ombing mengikuti ombak. Sementara, pulau-pulau karang masih tetap kokoh meski berkali-kali dihajar ombak habis-habisan.

Puncak Asmara yang merupakan puncak Bukit Suroyo (dok. pribadi)
Sedikit turun dari puncak bukit, di sinilah pesona utama dan keunikan Pantai Payangan, yaitu Teluk Love. Garis pantai yang sedemikian rupa sehingga membentuk simbol “love” seolah mengisyaratkan bahwa ia layak dicintai dan dijaga. Pesonanya memang tak banyak diketahui oleh orang-orang di luar Jember sana, tapi ia benar-benar ada dengan segala keindahannya. Pantai, teluk, dan bukit adalah paket istimewa yang dimiliki oleh surga tersembunyi di Kabupaten Jember ini, tepatnya di Kecamatan Ambulu. Semua paket keindahan yang mewah itu bisa dinikmati dengan murah meriah. Pantai Payangan masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar. Pengunjung cukup membayar parkir dan tiket mendaki Bukit Suroyo sebesar 5 ribu rupiah.

Teluk Love (dok. pribadi)

Saya masih menatap Teluk Love sambil sesekali mengusap peluh yang menetes di kening. Setahun lalu, saya mengingat pantai ini ketika saya duduk di tepi Pantai Baga, jauh di India sana. Dan, saat saya berdiri seraya menatap Teluk Love, giliran Pantai Baga yang berkelindan di benak saya. Jujur saja, menempuh perjalanan 14 jam ke Pantai Baga tidak memberi saya pemandangan yang lebih indah daripada Teluk Love di Pantai Payangan. Sementara, Pantai Payangan yang hanya memiliki waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari rumah saya sudah cukup memberi keindahan yang mampu menumbuhkan rindu pada pesona kampung halaman. Ah, betapa... kampung halaman saya adalah surga!     

Share:

9 komentar

  1. Nice pict nice trip nice moment...Go Girl !!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you. Ditunggu launching-nya diarysen.com
      hahaha

      Delete
  2. Wow pemandangannya, Indonesia memang kaya akan alamnya. Semoga siapapun yang datang ke tempat ini bisa menjaga dan merawatnya dengan baik, ya, Teh.. Terutama sampahnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sampah selalu jadi masalah di tempat-tempat wisata. Kesadaran berwisata yang tinggi nggak berbanding lurus dengan kesadaran menjaga, termasuk membuang sampah di tempatnya.

      Delete
  3. Opo maneh aku sing nang Delhi, Adoh pindo golek pantai.

    Sakjane nang chani wae, akeh panai, tapi yo ... ngunu iku, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengennya sekalian ke Maldive, Mak, apa daya belum ada sponsor ke sana. Wkwkwk....

      Delete
  4. Beneran, viewnya kece bana-bana banget! 1,5 jam mah dekeeet. Lha dari rumahku ke bandara aja bisa 2 jam kalo macet (tapi 18 menit saja kalo subuh hahaha).

    Semoga bisa ke sana nanti, mau foto ala-ala Omnduut dari atas puncak sana.

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Marshal Sastra udah ke pantai ini lo. Hehehe... udah pernah masuk MTMA, tapi masih banyak yg gak tau kalo Jember punya pantai sekece ini.

      Delete
  5. Aku 1x ke sini. Trus berhasil naik dan lihat teluknya. Heehee,..

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...