Dari Jogja, untuk Saya


dok. pri



Pada ujian speaking bahasa Inggris, saya diminta mengambil undian untuk menentukan topik yang harus saya bicarakan.
What’s the greatest achievment in your life?” tulisan itu tertera pada sepotong kertas kecil yang baru saja saya ambil.
So, tell me the greatest achievment in your life. What is it?” tanya Profesor Meera yang menguji saya.
Saya tak sempat berpikir panjang. Saat itu, yang terlintas dalam pikiran saya bukanlah lembar-lembar sertifikat lomba yang tersimpan rapi di dalam lemari.
Being more tolerant,” jawab saya sebelum bercerita sebuah fase berharga yang saya alami di sebuah kota; Jogja.

                                                                                 ***



Terlahir dan besar dalam keluarga serta lingkungan mayoritas muslim, membuat saya tak memiliki satu pun kawan yang berbeda keyakinan. Meskipun saat SD dulu ada dua guru kelas yang berbeda agama dengan saya, namun interaksi kami sebatas guru-murid di sekolah. Selebihnya, interaksi saya secara langsung dengan pemeluk agama lain sangat minim. Teman di sekolah dan lingkungan sekitar rumah, semua dari keluarga muslim. Alhasil, toleransi antarumat beragama lebih banyak saya pelajari dalam buku PPKn daripada saya praktikkan.

Lulus dari SD, saya melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah, lalu Madrasah Aliyah di pesantren, dan perguruan tinggi saya tempuh di sebuah Institut Agama Islam Negeri di Jember. Sejak SD hingga perguruan tinggi, saya berteman dengan banyak orang yang berbeda karakter. Namun, tak ada satu pun dari teman saya yang berbeda keyakinan. Semua muslim!

Hingga pada akhir Desember 2011, sebuah panggilan kerja membawa saya yang saat itu masih fresh graduate menjadi satu dari sekian banyak perantau di Jogja. Dan, awal tahun 2012 pun menjadi awal babak baru dalam kehidupan saya. Sebagai perantau yang tidak punya saudara di Jogja, saya pun mencari tempat kos. Atas rekomendasi teman, saya menemukan tempat kos yang tak jauh dari kantor, dan tak jauh pula dari jalan raya.

Sore itu, saya mengetuk pintu sebuah rumah bercat cokelat sambil mengucap “assalamu’alaikum....” Sebelum ada jawaban, saya buru-buru meralat begitu melihat patung Bunda Maria di atas bufet. Pasti pemilik rumah ini seorang pemeluk Katholik, batin saya, berarti..., saya akan tinggal satu atap dengan orang yang berbeda agama.


Saya pun mengucap “kulonuwun”. Kemudian, seorang wanita paruh baya muncul, yang tak lain adalah pemilik kos. Saya serta anak-anak kos lain memanggilnya Ibuk. Dan sejak hari itu hingga sekarang, saya masih tinggal di kos Ibuk, hidup berdampingan meski berbeda keyakinan.
 

Bersama Ibuk dan teman-teman kos


Ibuk adalah seorang pemeluk Katholik taat yang tak hanya rajin ke gereja, tetapi juga aktif dalam kelompok doa bersama (doa rosario) yang diadakan secara bergilir dari rumah ke rumah. Saat rumah Ibuk ditempati doa bersama, saya dan anak-anak kos lain—tanpa diminta—berusaha untuk tidak berisik atau lalu-lalang agar tidak menganggu jalannya ibadah mereka. Mungkin terlihat sepele, tapi itulah hal kecil yang kami lakukan sebagai wujud toleransi.



Sebaliknya, saat tiba giliran kami menjalankan ibadah, misalnya puasa Ramadhan, Ibuk menjadi ibu yang membangunkan anak-anak kosnya agar tidak telat sahur. Dia sengaja bangun lebih awal dan berkeliling mengetuk pintu-pintu kamar kos satu per satu untuk memastikan bahwa anak-anak kosnya sudah bangun untuk makan sahur. Tak hanya itu, saat adzan Maghrib berkumandang, tak jarang ia menyiapkan takjil; kolak pisang, bakso, es buah, atau sekadar es teh. Bertahun-tahun melaksanakan ibadah puasa, hanya di Jogja saya menikmati takjil yang disiapkan oleh orang yang berbeda keyakinan dengan saya.

Bukan hanya Ibuk, teman kos di sebelah kamar saya juga berbeda keyakinan. Desy namanya, seorang penganut Kristen keturunan Batak-Jawa, bermarga Sibarani. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagi kami untuk bersahabat dan saling memahami. Dan, selama waktu tersebut, tak pernah sekali pun kami berkonflik karena perbedaan keyakinan. Alih-alih memperdebatkan perbedaan, kami justru berbagi cerita bagaimana dulu menghafal nama-nama nabi melalui lagu. Saya di TPA (Taman Pendidikan al-Qur’an), Desy di Sekolah Minggu.


Suatu ketika, saya menunjukkan kepada Desy sebuah status viral di media sosial tentang seorang wanita berjilbab yang berboncengan motor, menyeberang jalan, dan berjalan beriringan dengan seorang suster. “Kalau kita nggak cuma jalan bareng, tapi juga makan, tidur, ngobrol, curhat, dan tinggal bareng,” komentar Desy. Kami memang sering pergi bersama, entah sekadar makan di luar, ke tempat wisata, atau belanja.

Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, diam-diam saya sering terharu saat dia menunggui saya menjalankan shalat. Bahkan, tanpa saya minta pun, ketika masuk waktu shalat dan kami masih di perjalanan, dia yang sering menebak, “Kamu mau shalat di masjid, kan? Ayo cari masjid dulu.” Sebaliknya, saya pun menghargai dia dengan mengatur waktu jalan-jalan kami agar tidak berbenturan dengan waktunya beribadah ke gereja, baik untuk mengikuti kebaktian maupun Saat Teduh (mengupas makna ayat dalam Alkitab).

Saya yakin, banyak orang yang dekat dan sangat akrab meskipun berbeda keyakinan. Tapi, apa yang saya alami menjadi hal yang istimewa bagi saya, karena baru di kota inilah saya mendapat pengalaman yang berharga tersebut. Pelajaran tentang toleransi antarumat beragama yang dulu pertama kali saya pelajari di SD, untuk pertama kalinya saya praktikkan di sini, dengan tinggal satu atap bersama orang yang berbeda keyakinan. Jogja memberi saya pengalaman yang tidak saya dapatkan di kota lain. Karena pengalaman hidup berdampingan dengan mereka, saya pun tidak kaget ketika harus tinggal selama beberapa bulan di luar negeri dan berbaur dengan banyak orang yang berbeda keyakinan.


Jogja yang merupakan miniatur Indonesia telah memberi saya bekal untuk bersikap menghadapi beragam perbedaan. Bahkan, tak bisa dipungkiri bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dirancang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, melibatkan gabungan prajurit lintas suku dan agama. Artinya, sejak dahulu pun, Jogja sudah tersusun dari perbedaan-perbedaan yang menyatukan.  
dok.pri

Jogja memang istimewa. Dari puncak Merapi yang gagah hingga deretan pantai selatan yang indah, Jogja dihiasi beragam perbedaan.yang tidak cukup dihitung dengan jari tangan. Semuanya berwarna-warni seperti geplak, bermacam-macam seperti menu di angkringan. Jogja itu... negeri serbaada.

Lantas, bagaimana menjadi Jogja?
Apakah harus lancar berbahasa Jawa Jogja yang khas dengan akhiran “po” dan “je?
Atau, lihai menari srimpi dan paham cerita pewayangan?
Atau mungkin, harus hafal sejarah dan budaya Mataram?

Semua itu tidak cukup untuk menjadi Jogja. Jogja adalah rumah dengan ragam perbedaan di dalamnya. Maka, menjadi Jogja haruslah menjadi toleran, saling menghargai, menyatu dalam perbedaan, guyub dalam keakraban dan keramahan. Menjadi Jogja tidak harus menjadi sama, karena menjadi Jogja, menjadi Indonesia.        

Terima kasih, Jogja.





Share:

17 comments

  1. Aku malah sejak kecil jarang bertema yg satu keyakinan kak. Karena tinggal di lingkungan mayoritas. Tapi fine-fine aja sih. Malah di kelas bs saling tukar pikiran. Dan begitulah menjadi Indonesia dg segala keberagamannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di kampungku sebenarnya ada keluarga nonmuslim (guru SD-ku), tapi anak-anaknya udah pada gede, jadi dulu nggak pernah main bareng, rumahnya juga agak jauh dari rumahku, beda RT.

      Delete
  2. mesti merinding baca tulisan pean mbk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... kayak tulisan horor aja, Cind.

      Delete
  3. Selesai baca, cumaa bisa mewek sambil peluk Abed dan bilang "aku kangen kost,kangen teman2 kost,kangen semua tentang jogja" kamu membalikan ingatanku bukan hanya akan jogja tapi juga akan kost😍😍😍 miss you yun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miss you too, Ci. Inget gak sih, awal aku di Jogja, kamu yg pertama ngajak aku ngopi di Kali Code. Kita pergi berempat waktu itu.

      Delete
    2. Ingetlah Yun...tengah malam kita berempat *aku,kamu,mb rita, mpok ajjah..
      Cewe2 nongkrong sampe malamπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†..

      Delete
  4. Bagus bangeeeet. Lalu suka heran kan kalau ada kelompok tertentu yang anti banget dengan orang yang berasal dari agama lain. Rasanya mau tak benyuk-benyukin hwhwhw

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benyukin terus ceburin ke Sungai Musi. Yeay.. aku sudah ngerti "benyukin". Hahaha...

      Delete
  5. Kalau aku sudah terbiasa dari lingkungan rumah sekolah dan bekerja. Dan nggak pernah ada sedikitpun pancingan untuk mengusik mereka. Berdampingan sama mereka justru menyenangkan. Karena kadang aku banyak belajar hal positif lain yang diajarkan keyakinan mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Vind, kalo di kota masyarakatnya emang lebih beragam, jadi teman-temannya juga beragam. Seru!

      Delete
  6. selamat ya Mbaaak .... BTW, masih inget aku gakkk... kita pernag barengan pas ke MGM bareng KBJ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya inget banget to, Mbak. Hehehe...
      Setelah event itu kayaknya kita belum ketemu lagi, ya?

      Delete
  7. Tulisan yang sangat bagus dan menginspirasi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah… terima kasih. Semoga ada kebaikan yang didapat dari tulisan ini.

      Delete
  8. Berkesan banget ceritanya mba Ayun. Titip salam buat Ibuk dan mba Desy yang sudah memberi warna toleransi di perjalanan hidup mba Ayun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Cha, banyak orang yang mewarnai hidupku di kota ini. Hehee… Kapan ke Jogja lagi, Cha?

      Delete