Setetes Harapan di Gersang Gunung Lemongan

Ranu Klakah surut. Debit airnya menurun drastis. Di Gunung Lemongan, ribuan hektare hutan gundul. Menyisakan ilalang dan semak-semak yang gersang di musim kemarau. Tak ada lagi akar pohon yang kuat mencengkeram tanah. Akibatnya, saat musim hujan tiba, banjir dan tanah longsor terjadi di sejumlah wilayah. Tidak, alam tidak sedang marah. Ia hanya menunjukkan sebuah hukum alam. Pembalakan liar selama bertahun-tahun mengakibatkan lahan di sekitar Gunung Lemongan dalam kondisi kritis. Mata air mengering. Krisis ekologi mengancam.
Namun, tidak banyak orang yang sadar lalu berhenti menebang hutan lindung dan menanaminya kembali. Adalah A’ak Abdullah Al-Kudus, satu di antara sedikit orang yang peduli. Pria kelahiran Lumajang, 12 Oktober 1974, ini mengajak warga sekitar menanam pohon di Gunung Lemongan. Bersama Laskar Hijau yang didirikannya, ia membawa setetes harapan di gersangnya Gunung Lemongan.

***
Berbekal arahan Google Map, siang itu saya mengikuti jalan beraspal yang membelah Desa Papringan, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Di sebuah tikungan, saya berbelok ke jalan setapak yang sedikit berbatu saat Google Map menunjukkan bahwa tujuan saya semakin dekat. Berada di sisi kanan jalan.

Seorang pria menyambut saya. Ia, tak lain adalah Bapak A’ak Abdullah Al-Kudus (45) yang akrab disapa Gus A’ak. Dengan ramah, ia mempersilakan saya masuk ke rumah kepala dusun yang sekaligus menjadi posko pendakian Gunung Lemongan. Di ruang tamu, beberapa orang telah menunggu kami untuk makan siang bersama. Nasi jagung, sayur bening kelor, ikan dan tempe goreng serta sambal terasi tersaji di atas tikar. Sambil makan siang, Gus A’ak memperkenalkan orang-orang tersebut. Mereka akan bekerja sama dengan Laskar Hijau untuk uji coba menanam kapulaga di kawasan Gunung Lemongan.
Pos Pendakian Gunung Lemongan
Sebagai komunitas yang secara sah mengelola hutan lindung di Gunung Lemongan, para relawan Laskar Hijau rutin menanam pohon di musim hujan. Sekitar 50% tanamannya adalah bambu yang mampu menyimpan 0,8 kubik air per rumpun agar muncul mata air baru. Sedangkan 50% lainnya adalah buah-buahan.
Pohon nangka sudah berbuah
Semua dilakukan demi menjaga hutan agar tetap lestari. Agar sumber air tetap terjaga, agar muncul mata air baru. Buah-buahan juga ditanam agar hasilnya memberikan manfaat secara ekonomis bagi warga sekitar. Sebab, jika menengok kembali pada tahun-tahun sebelumnya, kondisi hutan yang kritis di lereng Gunung Lemongan membawa dampak yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Pembalakan Liar dan Ancaman Krisis Ekologi
“Awalnya, zaman Gus Dur itu kan ada illegal logging karena kekacauan politik, sampai ya ... bisa dibilang kalau hutan Pulau Jawa ini rata, habis, termasuk Lemongan,” Gus A’ak mengawali cerita, “Dulu yang ngerusak ya warga-warga sini juga, karena nggak ngerti.”

Pada kurun waktu 1998–2002, pembalakan liar atau illegal logging membuat hutan di Pulau Jawa, khususnya di Gunung Lemongan, menjadi lahan kritis yang berdampak buruk pada ekosistem. Berdasarkan data dari Forest Watch Indonesia, selama periode 1990–2001, hutan di Indonesia rusak seluas 2 juta hektare per tahun.
Ranu Klakah
Di sekitar Gunung Lemongan, dampak kerusakan hutan terlihat dari menurunnya debit air Ranu Klakah dan ranu-ranu lain di sekitanya dalam kurun waktu yang cukup lama. Berbeda dengan danau lain yang airnya bersumber dari dasar tanah, air ranu bersumber dari samping, dari mata air di Gunung Lemongan. Sehingga, ketika pepohonan di lereng gunung ditebang habis-habisan, air di ranu pun surut karena sumbernya mengering. Padahal, air ranu dibutuhkan warga untuk irigasi dan kebutuhan sehari-hari.
Ranu Pakis
Tahun 2005, Gus A’ak bersama warga sekitar merasa tergerak untuk melakukan sesuatu. Ekosistem yang rusak tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mereka pun mulai melakukan penghijauan di sekitar ranu. Pohon-pohon ditanam. Sampah-sampah dibersihkan. Hingga pada tahun 2008, penghijauan mulai mereka lakukan di Gunung Lemongan, dan menyebut kelompok mereka dengan nama Laskar Hijau.

“Kita sepakat kalau mau nyelametin ranu, yang harus dihijaukan Gunung Lemongan,” tutur Gus A’ak.
Info grafis tentang Laskar Hijau
 Meskipun demikian, bukan hal mudah untuk mengajak banyak orang menyelamatkan lingkungan. Sejak pertama kali Gus A’ak mendirikan Laskar Hijau hingga sekarang, masih ada saja orang yang menentang langkahnya. Pro kontra tetap ada sampai saat ini. Bahkan ia dianggap melakukan hal sia-sia. Namun ia tak peduli. Sebuah langkah harus diambil untuk mencegah krisis ekologi.

“Saya nggak ingin kelak anak cucu mengalami krisis ekologi. Saya nggak ingin mereka kekurangan air.”

Sampai sekarang, hanya 15 relawan yang sehari-hari intens di Laskar Hijau. Mereka adalah warga sekitar Gunung Lemongan. Selebihnya, saat Laskar Hijau mengadakan kegiatan, banyak relawan dari luar kota yang datang dan bergabung dalam kegiatan tersebut. Ketika musim hujan tiba, mereka mulai menanam. Di musim kemarau, mereka merawat tanaman-tanaman tersebut.
Pohon di Hutan Lemongan

Banyak Tantangan, Laskar Hijau Tetap Bertahan
“Laskar Hijau ini sudah 10 tahun lebih. Apa tantangannya selama ini?” tanya saya.
Gus A’ak menghela napas berat, lalu menjawab, “Banyak sekali, yang paling berat itu ketika berhadapan dengan masyarakat yang haus atau lapar lahan.”

Masyarakat yang dimaksud oleh Gus A’ak adalah mereka yang membabat dan membakar hutan lindung untuk dijadikan kebun sengon. Masih banyak warga sekitar yang berpikir bahwa menanam sengon akan memberi penghasilan yang tinggi, namun mereka tidak memikirkan dampaknya bagi ekosistem. Untuk itulah, Laskar Hijau berprinsip pohon-pohon yang mereka tanam adalah pohon-pohon yang tidak perlu ditebang.
Bibit buah siap ditanam di Gunung Lemongan
Para relawan mengumpulkan biji buah-buahan. Bahkan tempat sampah menjadi berkah tersendiri. Mereka mengambil biji-biji tersebut dari tempat sampah di pasar, di kampung-kampung, hingga di warung es buah, lalu menyemainya. Laskar Hijau berkomitmen menanam pohon buah-buahan yang bernilai ekonomis agar dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar, seperti avokad, sirsak, durian, dan rambutan. Rencananya, kapulaga juga akan ditanam di bawah pohon-pohon tersebut. Langkah ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar tanpa harus menebang pohon dan merusak hutan.

Proses edukasi juga terus dilakukan dengan berbagai cara agar masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan, tidak hanya mempertimbangkan sisi ekonomi. Meskipun sampai sekarang edukasi yang dilakukan belum menunjukkan hasil sesuai harapan, tetapi Laskar Hijau tetap bertahan. Mereka terus mengedukasi dan mengelola hutan lindung di Gunung Lemongan agar tetap lestari.

Dikepung 200 Orang Bersenjata, Nyawa Taruhannya

Laskar Hijau juga tidak gentar menghadapi teror warga yang diprovokasi. Hal mengerikan yang mengancam nyawa pernah mereka alami saat rumah kepala dusun ini diserbu oleh 200 orang bersenjata celurit. Mereka menyeret-nyeret ibunya kepala dusun. Melampiaskan amarah atas larangan menebang hutan. Meski tak ada korban jiwa, namun kejadian ini menjadi ancaman yang sangat serius. 

Semakin lama, langkah persuasif tidak bisa lagi terus-terusan dilakukan. Mereka yang menentang Laskar Hijau semakin solid demi memenuhi kepentingan golongan. Salah satu warga memprovokasi kelompok tersebut untuk melakukan penyerangan. Ia juga membayar orang untuk membabat serta membakar hutan lindung di Gunung Lemongan. Maka, jalur hukum pun ditempuh. Setelah melalui proses panjang persidangan, palu hakim akhirnya diketuk. Pada 4 September 2018, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lumajang memvonis terdakwa perusak hutan lindung dengan hukuman 8 tahun penjara dan denda 10 miliar rupiah.

“Ini yang paling berat, Mbak, berat sekali,” ujar Gus A’ak, lalu ia menyambung ucapannya, “rasanya masih ngganjel di hati, soalnya di desa, pasti ada omongan, tetangga sendiri kok dipenjara.”
Berbicang dengan Gus A'ak
Diakui Gus A’ak, sejak pelaku perusakan hutan dibawa ke meja hijau dan kini dipenjara, warga lain mulai berhati-hati. Mereka tidak lagi melakukan perusakan. Ada efek jera yang timbul dari kejadian ini. Meskipun demikian, masih banyak tantangan yang menunggu di depan.

“Dulu saya pikir, penghijauan itu tugas beratnya menanam, tapi lebih dari itu. Penghijauan nggak sesederhana mencangkul, menanam, menyiram. Ternyata urusannya panjang,” curhatnya.

Konservasi Berbasis Masyarakat
Sekitar dua kilometer dari posko pendakian Gunung Lemongan di rumah kepala dusun, Laskar Hijau mendirikan posko di hutan. Siang menjelang sore itu, kami menuju posko tersebut. Melewati jalan makadam. Membelah jalan setapak di dalam hutan. Sampai di sana, ada beberapa pendaki yang sedang istirahat setelah turun dari Gunung Lemongan.

Selamat datang di Laskar Hijau
Pohon-pohon tinggi menjulang. Daun-daunnya rimbun. Rumpun bambu tumbuh subur. Bunga-bunga mekar. Cericit burung dan tonggeret beradu bak paduan suara. Kami berjalan dan melihat-lihat di sekitar posko. Tak begitu jauh di seberang kami, seekor kucing hutan bergerak di antara pepohonan sebelum sempat saya abadikan.
Bunga liar di hutan
Pepohonan di sekitar posko Laskar Hijau
“Dulu, di sini itu cuma ilalang, Mbak,” jelas Gus A’ak sambil menunjuk sekeliling yang sekarang penuh dengan pepohonan.

Hasil kerja Laskar Hijau selama lebih dari 10 tahun terlihat nyata. Gus A’ak membuktikan bahwa tidak ada langkah baik yang sia-sia. Sesuai dengan namanya, Laskar Hijau berhasil mengembalikan hijaunya hutan di Gunung Lemongan yang dahulu kritis dan gersang akibat pembalakan liar.
Gus A'ak di depan posko Laskar Hijau
Seiring dengan perannya dalam mengelola hutan lindung, Laskar Hijau menjadi salah satu konservasi berbasis masyarakat yang sering menjadi tujuan belajar. Banyak mahasiswa dari berbagai kampus atau organisasi pencinta alam yang datang untuk belajar tentang konservasi berbasis masyarakat. Baru-baru ini, Kampung Sinau dari Sidoarjo juga bertandang ke Laskar Hijau untuk belajar.

Menerima Apresiasi SATU Indonesia Awards dari PT Astra Internasional Tbk
Saat pertama kali mendirikan Laskar Hijau, Gus A’ak tidak berpikir bahwa langkahnya akan diapresiasi oleh PT Astra Internasional Tbk melalui SATU Indonesia Awards. Semua ia lakukan bersama para relawan secara swadaya yang murni bertujuan menyelamatkan lingkungan. Bahkan ia menyebut langkah ini sebagai komitmen seumur hidup.

“Waktu itu saya nggak tahu apa-apa. Tiba-tiba ada telepon dari Jakarta, saya diminta datang ke sana untuk menerima penghargaan,” kenangnya.

sumber: satu-indonesia.com
Gus A’ak adalah salah satu penerima SATU Indonesia Awards pertama tahun 2010 di bidang lingkungan. Saat itu, Astra bekerja sama dengan Tempo untuk “menyelidiki” sosok-sosok inspiratif yang layak menerima apresiasi SATU Indonesia Awards. Beberapa hari sebelumnya, wartawan Tempo memang bertandang ke Laskar Hijau, namun tidak melakukan wawancara. Hanya ngobrol santai saja.

Sebagai sebuah perusahaan, sejak awal Astra bercita-cita untuk sejahtera bersama bangsa. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, Astra terus berkontribusi mendorong pertumbuhan Indonesia yang berkesinambungan. Melalui Public Contribution Roadmap yang menjadi pilar penyangga, Astra berupaya mencapai visinya untuk menjadi perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial serta peduli lingkungan.

Bahkan belum lama ini, PT Astra Honda Motor (AHM) meresmikan Astra Honda Pranaraksa Center yang diawali dengan program konservasi keanekaragaman buah langka nusantara. Dikutip dari gooto.com, GM Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibuddin mengatakan, pengembangan Astra Honda Pranaraksa Center memiliki tiga tujuan untuk pelestarian lingkungan, yaitu penghijauan lahan tandus, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.  
       
Empat Pilar Astra
Program-program Astra sebagai bentuk tanggung jawab sosial berpedoman pada 4 pilar corporate social responsibility (CSR). Keempat pilar tersebut adalah pilar pendidikan, pilar kewirausahaan, pilar lingkungan, dan pilar kesehatan.

Sesuai dengan pilar lingkungan, Gus A’ak sebagai pegiat konservasi berbasis masyarakat menerima SATU Indonesia Awards pada tahun 2010. Hadiah yang ia terima dari penghargaan tersebut digunakan untuk membangun posko Laskar Hijau di kaki Gunung Lemongan. Ia menunjukkan bahwa siapa pun sebenarnya bisa ikut serta dan berperan dalam pelestarian lingkungan. Tidak harus mereka yang berlatar pendidikan teknik lingkungan, kehutanan, atau tergabung dalam organisasi pencinta alam.

“Saya aja SMA nggak lulus, Mbak. Dulu sempat sekolah di Nurul Jadid tapi nggak selesai, hehehe....” Ia terkekeh saat menceritakan pendidikan formalnya.

Meski tanpa latar belakang pendidikan teknik lingkungan atau kehutanan, namun semangat Gus A’ak bersama Laskar Hijau mampu menjadi inspirasi bagi siapa pun. Kebaikan itu memang menular. Buktinya, kini Laskar Hijau memiliki cabang di Probolinggo, Jember, Banyuwangi, Sumenep, dan Malang. Gus A’ak juga menegaskan untuk tidak bosan-bosannya menanam.

“Menanamlah walau hanya satu pohon, walau hanya sekali seumur hidup,” pungkasnya menutup obrolan kami sore itu. 

Tak salah memang jika Astra memberi apresiasi SATU Indonesia Awards kepada sosok yang juga aktif di GUSDURian Peduli ini. Langkah baiknya kini melahirkan banyak kebaikan lain. Dan bersama Astra, semoga panjang umur hal-hal baik. Senantiasa!  
#KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2019
Ayun
Menulis buku Unforgettable India dan mengedit banyak buku lainnya.

Related Posts

34 comments

  1. Saat yang lain sibuk mencari keuntungan dari menebang pohon bagian lainnya mencoba bersusah payah menanamnya kembali... saat yang lain kekeringan, kesulitan mencari air...Jakarta awal tahun ini melimpah ruah hingga ke jalan... entahlah...salah siapa..tapi bagaimana..apa yang dapat kita lakukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga banjir di Jakarta segera surut dan semua bisa beraktivitas normal lagi.

      Delete
  2. Wih, ngeri juga ya melihat perjuangan laskar hijau, semoga aja penghijauan di hutan lemongan semakin terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nyalinya harus gede ngadepin orang-orang yg mau ngerusak hutan.

      Delete
  3. Saya kira tadi namanya Gunung Lamongan, ternyata Gunung Lemongan pakai E.

    Kiprah sosok pegiat lingkungan seperti ini perlu didukung dan disebarluaskan informasinya supaya banyak orang yang tertarik dan peduli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... beti alias beda tipis, Mbak, tapi jaraknya jauh antara Lamongan dan Lemongan.

      Delete
  4. Wow keren banget ini aksi nyatanya untuk lingkungan. Meski mendapat banyak tantangan yang tak tangan tapi mereka sukses menjadikan Gunung Lemongan kembali hijau

    Salut sama laskar hijau
    Semoga semangatnya menular ke daerah-daerah lain juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin
      Sudah mulai menular ke daerah lain, meski masih daerah Jatim aja.

      Delete
  5. Betul banget ini mas, bencana alam itu sebenarnya berawal dari kecerobohan kita karena lalai menjaga alam. Gerakan penghijauan gunung ini harusnya jadi peraturan yang ketat dijalankan pemerintah dan sanksi bagi perusahaan or perorangan yang merusak alam atau mengeruk keuntungan tanpa bertanggung jawab. Biar pada kapok gitu loh, jadi jangan selalu nyalahin pemerintah, tapi yuk mulai dari kita dan lingkungan sekitar dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri.

      Delete
  6. Inspiratif sekali kak, Semoga penghijauan di wilayah Indonesia lebih terjaga ya kak.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah masih ada orang-orang seperti A’ak Abdullah Al-Kudus dan Laskar Hijaunya. Pekerjaan seperti ini jika mengharapkan balasan ekonomi rasanya tak mungkin. Saya yakin Pak Abdullah dan relawan lainnya bekerja dengan tulus ikhlas. Pahala dari Allah SWT balasannya. Selama pohon-pohon yang mereka tanam hidup, selama itu pula pahal terus mengalir untuk yang menanamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau mengharap balasan ekonomi pasti udah berhenti dari dulu. Tapi tujuan mereka memang benar-benar untuk pelestarian hutan.

      Delete
  8. Jika bumi adalah ibu.
    Kita manusia memperkosa ibunya.
    Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

    Jika laut adalah ibu.
    Kita manusia memperkosa ibunya.
    Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

    Jika hutan adalah ibu.
    Kita manusia memperkosa ibunya.
    Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

    Ada, tak ada manusia mestinya
    Pohon-pohon itu tetap tumbuh.
    Ada, tak ada manusia mestinya
    Terumbu karang itu tetap utuh.

    Ada, tak ada manusia mestinya
    Pohon-pohon itu tetap tumbuh.
    Ada, tak ada manusia mestinya
    Terumbu karang itu tetap utuh.

    Sisir Tanah - Bebal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sisir Tanah ini liriknya selalu ngena di hati.

      Delete
  9. Semoga langkah A'ak Abdullah dan Laskar Hijau langgeng dan terawat selamanya. Bisa menghijaukan area seluas 6000 Ha kan sesuatu banget. Semoga sehat selalu A'ak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin
      Penghijauan memang bukan sekadar menanam dan merawat pohoh yang telah ditanam.

      Delete
  10. Sampai nyawa taruhannya ya, subhanallah... tetep semangat Laskar Hijau. Kami semua berutang budi pada kalian, huhuu... bumi yg kita tempati sama2 tp kok ya masih ada gak suka alamnya dihijaukan kembali. Semangat!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak, ngeri juga pas saya denger Gus A'ak cerita kalo Laskar Hijau diteror warga.

      Delete
  11. A’ak Abdullah Al-Kudus alias Gus A'ak keren. Semoga perjuangannya terus diduplikasi oleh masyarakat Lemojang secara khusus dan masyarakat dunia secara umum. Terima kasih juga pada Astra yang sudah memberikan dukungannya pada Laskar Hijau dan Gus A'ak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin
      Alhamdulillah semangatnya Laskar Hijau sudah mulai menular ke beberapa daerah lain.

      Delete
  12. Begitulah manusia dengan segala kekurangannya terlalu pintar untuk belajar dari bencana yg diakibatkan ulah manusia...beruntunglah masih ada yg peduli spti Gus Aak..semoga dapat menjadi inspirasi ya ..

    ReplyDelete
  13. Keren, ini. Laskar Hijau Gunung Lemongan. Tahan dengan badai yang hebat bahkan pengepungan.
    Kadang, ada oknum pegawai pemerintah setempat mulai dari desa bahkan kabupaten itu sungguh menyebalkan, dan main hakim sendiri. Seringnya bagian dari rezim. Wkwkwk.

    DI sini pernah kejadian, cari data sendiri, ditawarkan jadi koleksi museum malah dipalak 2,5 juta. AKhirnya dibawa pulang lagi, seminggu kemudian lapor ke polisi agar menggerebek. Ckckck. Kupengen bilang, "tolol" pada bapak oknum ini.

    ReplyDelete
  14. Salah satu hal yang bikin hatiku jadi tentram itu kalo liat air yang membentang luas, apalagi kalo disekitarnya dikelilingi pepohonan yang hijau ditambah udara pegunungan yang sejuk, paket komplit deh.

    ReplyDelete
  15. Andai semua menyadari air begitu penting terhadap semua makhluk hidup.
    Tentu tak perlu mengalami yang namanya krisis air.
    Menebang hutan secara besar besaran, tentu berdampak beberapa tahun ke depan.
    Setelah banjir atau krisis air ,yang pertama kali disangkut pautkan pasti pemerintah.
    Ada baiknya kita belajar dari kejadian/musibah yang pernah dialami

    ReplyDelete
  16. Menanam pohon buah ini kalau dikompleks-kan malah bisa jadi lahan wisata buah dan jadi sumber pendapatan desa.

    Ini keren sih, menggalakkan menanam pohon buah. Oh iya, menananm bambu selain menahan air, juga kemampuan mencengkeram tanahnya luar biasa,

    ReplyDelete
  17. Salut deh dengan perjuangan Gus A'ak. Hutan hijau emang penting sebagai sumber oksigen dan juga sumber air. Semoga upaya yang Beliau lakukan selalu dilindungi Yang Maha Kuasa

    ReplyDelete
  18. Gerakan penghijauan seperti ini harus diperbanyak di seluruh Indonesia. Hutan kita setiap tahun selalu mengalami deforestasi, kalau lah tak ada orang seperti Gus A'ak ini kita tidak bisa lagi mengaku diri sebagai paru-paru dunia

    ReplyDelete
  19. Widiiih makan siangnya maknyus. Waktu kecil sudah biasa makan nasi jagung, tetapi sudah tidak pernah lagi ketika lulus sekolah dasar. Kangen bener rasanya.

    Semoga semakin banyak orang-orang seperti Gus A 'ak, yang peduli terhadap keselamatan lingkungan. Sehat selalu Gus A 'ak. Semoga Allak melindungi kalian semua.

    ReplyDelete
  20. duh nangkanya bikin ngilerrrr, mau icipppp :D

    ReplyDelete
  21. Kita memang haruus jaga lingkungan ini agar bisa terawat dan bisa dinikmati oleh banyak orang nantinya.. Jangan merusak lingkungan, ayo jaga lingkungan kita

    ReplyDelete
  22. sosok yang inspiratif
    apalagi sekarang tidak banyak anak muda sekarang yang perhatian sama lingkungan

    ReplyDelete
  23. Saya tak bisa berkata-kata atas kekaguman terhadap mereka yang berjuang dalam melestarikan alam di sekitar tempat tinggalnya, terlebih yang berada di Ring-1 gunung, sumber penghidupan utama.

    Semoga tetap solid tak lekang oleh waktu :)

    Mudah-mudahan kapan-kapan bisa mampir silaturahmi dan mendaki Gunung Lemongan.

    ReplyDelete

Post a Comment

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...

Subscribe Our Newsletter