Masjid Agung Surakarta; Teduh, Artistik, dan Sarat Makna



Bagi saya, mengunjungi sebuah kota tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya, berbelanja di pasar tradisionalnya, dan melaksanakan shalat di masjid agungnya. Oleh karena itu, ketika berkunjung ke kota Surakarta, tak hanya ragam kuliner dan oleh-oleh di Pasar Gede yang harus saya coba, tetapi berwisata sejarah dan religi ke Masjid Agung Surakarta merupakan sebuah keharusan.

Di suatu siang di bulan Ramadhan, saya kembali berkesempatan mengunjungi kota Surakarta. Kali ini, saya tak ingin melewatkan kunjungan ke masjid bersejarah yang dibangun ratusan tahun lalu oleh Pakubuwono III, tepatnya pada tahun 1763 M tersebut. Saya termasuk orang yang beranggapan bahwa kearifan lokal dalam suatu masyarakat tidak hanya bisa diamati melalui kegiatan ekonomi di pasar tradisional, tetapi juga tak lepas dari sisi spiritual.

Maka menjelang sore itu, sebelum adzan Maghrib berkumandang, saya telah berada di depan sebuah gapura bercorak Arab-Persia yang berdiri tegak seolah mempersilakan siapa pun yang hendak memasuki masjid. Di gapura sebelah kiri dan kanan, kaligrafi indah terukir bertuliskan doa masuk dan keluar masjid. Sedangkan, sebuah mahkota dan jam dinding melengkapi nuansa artistik di gapura yang paling tinggi, yakni gapura bagian tengah.

Selanjutnya, langkah-langkah saya disambut oleh lampu-lampu berwarna biru di sisi kiri dan kanan yang seakan menyampaikan pesan bahwa Islam adalah cahaya di tengah kegelapan zaman jahiliyah dahulu kala, minadz dzulumati ilan nur, dari gelap menuju terang.


Warna biru memang mendominasi masjid yang dahulu bernama Masjid Ageng Keraton Surakarta Hadiningrat ini, sehingga memberikan kesan teduh sebagaimana ajaran Islam yang juga meneduhkan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Sesaat sebelum memasuki masjid, saya pandangi atap masjid yang bersusun tiga. Di antara lalu-lalang orang-orang, sejenak saya terkesima mengingat bentuk atap itu bukan sekadar bentuk asal-asalan, melainkan sarat makna yang mendalam. Susunan atap tersebut melambangkan iman, islam, dan ihsan. Sangat filosofis dan sufistik.

Di serambi masjid, terlihat beberapa orang yang sedang beristirahat di bawah atap dan tiang kayu yang berwarna biru. Mereka tampak nyaman sembari menunggu dimulainya pengajian, menunjukkan bahwa masjid berarsitektur Jawa-Arab ini tidak hanya teduh bagi jiwa-jiwa orang yang beribadah di sana, tetapi juga bagi raga mereka.


Bagian serambi dan bangunan utama dihubungkan oleh tujuh pintu kayu berhias ukiran yang indah.


Memasuki bagian dalam masjid, kesan artistik juga terlihat dari ukiran bunga yang disepuh warna keemasan sebagai hiasan mihrab yang menyerupai singgasana raja. Dahulu, raja memang bukan sekadar pemimpin, tetapi juga penyiar Islam. Dan, masjid ini menjadi pusat syiar Islam keluarga keraton. Aih..., saya jadi membayangkan Pakubuwono III sedang menyampaikan tausiah di hadapan jamaahnya.


Kuatnya syiar Islam di masjid keraton yang berdiri di tanah seluas hampir satu hektare ini juga tampak dari benda unik peninggalan masa lalu, yakni jam matahari atau istiwak. Zaman dahulu, belum ada sistem penanda waktu seperti sekarang, sehingga diperlukan sesuatu untuk menandai masuknya waktu shalat. Maka, pada masa Pakubuwono IV, dibangunlah jam matahari.

Sumber gambar: liputan6.com
Sistem kerja jam tersebut menggunakan bayangan besi berbentuk paku yang terdapat pada cekungan jam matahari. Di dalam cekungan juga tertulis angka-angka, mulai angka 1–12. Jika bayangan paku jatuh pada angka 3, maka waktu menunjukkan pukul 3. Karena menggunakan cahaya matahari, maka jam ini hanya berfungsi jika cuaca sedang cerah. Namun sekarang, jam unik tersebut tidak lagi digunakan, meski tetap menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki oleh Masjid Agung Surakarta.

Waktu terus berlalu meski tanpa melihat penanda waktu berupa jam matahari, hingga tak terasa, petang menjelang dan adzan Maghrib pun berkumandang. Bersama kumandang adzan dari menara jogosworo yang menyerupai menara Qutub Minar di India, orang-orang membatalkan puasa mereka dengan seteguk air dan beberapa butir kurma.


Hayya ala shalah
Hayya alal falah
Mari menunaikan shalat
Mari meraih kemenangan

Jember, Juli 2017


Tulisan ini diikutan sertakan dalam lomba blog Pesona Ramadan Jawa Tengah yang diadakan oleh GenPi Jateng.

Share:

0 comments