Parade Bocah Dolanan dan Sebuah Surat dari Masa Depan


Hai, apa kabar? Selisih waktu 11 jam lebih cepat daripada waktu di tempat tinggalmu membawa surat ini datang dari masa depan.



“Wow… Indonesia? I really want to go to Bali,” katamu saat kita pertama berkenalan, di hari pertama kelas kita dimulai. Masih ingat?



Siapa pun pasti sepakat bahwa Bali itu indah, eksotis, dan sangat populer di dunia. Namun, aku ingin kau tahu bahwa Bali bukan satu-satunya tempat indah di Indonesia. Ada banyak sekali tempat yang akan membuatmu berdecak kagum kala mengunjunginya, Yogyakarta adalah salah satunya. Di kota inilah aku tinggal, sebuah kota yang tidak hanya menjadi kota favorit untuk tujuan belajar, tetapi juga berwisata. Bukan hanya wisata alam yang ditawarkan, tetapi juga kekayaan budaya dan kearifan lokal. Seperti siang kala itu, di sebuah akhir pekan, tepatnya 15 Juli lalu, aku tenggelam bersama keceriaan bocah-bocah yang memainkan permainan tradisional dalam Parade Bocah Dolanan yang merupakan rangkaian acara Mataram Culture Festival 2. Saat itu, mungkin kamu sedang lelap dalam tidur malam.

Acara unik dan seru ini digelar di sepanjang pedistrian Malioboro. Ada beberapa titik yang ditempati oleh anak-anak untuk bermain. Terang saja, mereka menyita perhatian para wisatawan. Seandainya kamu melihat acara ini, aku yakin kamu tertarik mencoba salah satu permainan yang mungkin seumur hidup baru kali ini kau lihat. Asyik lo!



Malioboro yang kini semakin rapi juga membuat wisatawan semakin betah. Kursi-kursi cantik dan plang Jalan Malioboro masih menjadi primadona para wisatawan untuk berfoto. Dan, dengan adanya Parade Bocah Dolanan ini, diharapkan ada perspektif baru yang dimiliki oleh Malioboro, bukan sekadar ruang wisata dan belanja, tetapi juga ruang budaya, demikian kata Aria Nugraha, Kabid Pengembangan Destinasi Dinpar DIY.

Kau pasti setuju bahwa budaya suatu bangsa penting untuk dilestarikan. Dan, inilah salah satu cara yang dilakukan oleh negeriku untuk melestarikan permainan tradisional yang perlahan mulai asing di kalangan anak-anak lantaran mereka lebih asyik bermain game di gadget masing-masing. Sedangkan bagiku, acara ini menjadi lorong waktu yang membawaku pada masa kecil dulu.

Anak-anak bermain egrang dan batok kelapa. Aku pun dulu juga begitu, meski sampai sekarang aku tetap saja amatiran dalam bermain egrang. Hehehe.... Melihat mereka, rasanya aku kembali tersadar bahwa dulu, aku pernah bahagia hanya dengan bermain batok kelapa dan bambu saja. Masa kecil memang indah....

Berikutnya, ingatanku dibawa pada masa-masa ikut Pramuka saat SD dulu. Aku pernah melompat-lompat di antara empat tongkat yang dimainkan oleh teman-temanku. Permainan ini butuh konsentrasi dan ketepatan. Sebab jika tidak, kaki kita akan terjepit bambu. Entah sekarang aku masih bisa memainkannya atau tidak.


Apa kau masih betah membaca ceritaku? Baiklah, akan kulanjutkan.

Di acara Parade Bocah Dolanan tersebut, aku tertawa nyaris terpingkal-pingkal saat menyaksikan bocah-bocah bermain jamuran, lalu menyoraki temannya, “Painah dadi... Painah dadi....” Aku dan teman-temanku dulu juga pernah melakukannya. Hanya saja, nama teman kami bukan Painah. Si Painah yang kebagian tugas ini kemudian dikelilingi oleh teman-temannya. Ia pun memberi instruksi kepada mereka untuk menjadi jamur, entah jamur kursi (yang diduduki oleh Painah), jamur kethek menek (yang digelitiki oleh Painah), atau jamur-jamur lainnya, tapi bukan jamur kulit. Hehehe....


Ah, pokoknya seru dan menyenangkan sekali melihat keceriaan mereka.



Tak mau kalah, bocah-bocah lain juga beraksi dengan permainan tradisional lainnya, seperti lompat tali. Bahkan, salah satu di antara mereka tidak melompat, melainkan kayang.Tali karet yang sempat putus tak jadi masalah. Mereka menyambungnya kembali.


Ada lagi permainan lain yang tak kalah seru, yaitu ancak-ancak alis. Sebenarnya, ancak-ancak alis ini adalah lagu yang dipakai untuk mengiringi permainan tersebut. Dua anak berpegangan tangan membentuk terowongan. Sementara, anak-anak lain berjalan melewati terowongan tersebut dan berhenti ketika lagu selesai dinyanyikan. Anak yang berhenti tepat di bawah terowongan akan dibisiki untuk ditawari pilihan, misalnya pilih kue lupis atau cenil—oya, lupis dan cenil itu jajanan tradisional di sini.


Jika memilih lupis, maka ia ikut si A dan berdiri di belakangnya. Bila memilih cenil, maka ia ikut si B A dan berdiri di belakangnya. Begitulah seterusnya hingga si A dan si B mendapatkan pengikut masing-masing berdasarkan pilihan. Kemudian, mereka akan saling rebutan pengikut seperti dua ular naga yang saling serang dan jejeritan.

Adakah permainan seperti itu di tempatmu? Oya, jika kamu lelah, seduhlah secangkir kopi susu sebelum melanjutkan membaca surat ini….

Selain permainan-permainan tersebut, ada juga sekelompok anak duduk lesehan di depan Benteng Vredeburg. Mereka membuat kerajinan dari janur, seperti burung-burungan, kitiran, keris, dan lain-lain. Asyiknya lagi, mereka melakukannya sambil menyanyikan lagu-lagu bernuansa keragaman di Indonesia. Bahkan sebelum bubar, mereka mengajak wisatawan untuk ikut berjoget. Tak pandang suku, agama, ras, mereka mengajak semua orang bergembira.



Masih dari masa depan, aku akan melanjutkan ceritaku tentang Mataram Culture Festival.

Menjelang malam, giliran para seniman tampil dalam Art Performance di Monumen Serangan Umum 1 Maret. Aku juga yakin kamu akan betah menikmati keindahan seni tari dan lensa kemeramu tak akan melewatkan momen tersebut. Acara dibuka dengan tari Tangan Estri Prajurit Mataram. Tiga penari berbalut kostum prajurit berwarna hitam. Meski berperan sebagai prajurit, namun keanggunan mereka sebagai wanita Jawa tak tertutup oleh kesan tegas dan kuat dari yang terpancar dari gerakan-gerakan tarian mereka.



Penampilan lain yang tak kalah menarik adalah PinKavaleri dari @katanadance. Seperti namanya, mereka memerankan pasukan perempuan berkuda dengan kostum yang dominan berwarna pink. Gesit, lincah, dan anggun, begitulah gerakan mereka yang seolah membawa pesan untuk semua perempuan agar tidak menjadi perempuan cengeng.


Sambil menikmati jajanan pasar, aku menikmati penampilan-penampilan indah mereka. Aku mengingatmu, sebab kau begitu tertarik pada seni, budaya, dan sejarah. Maka suatu saat, semoga kau bisa mewujudkan keinginanmu mengunjungi negaraku. Kami akan senantiasa merawat budaya, bukan hanya untuk menarik wisatawan sepertimu, tetapi juga karena ia termasuk identitas dan kekayaan negeri ini.

Sampai juga lagi!

Share:

9 comments

  1. Wah, memang tulisan yang menyentuh sekali!

    ReplyDelete
  2. Hebat mbak,, kalau nulis selalu jadi juara

    ReplyDelete
  3. Ide tulisan yang menarik, mbak, pantas saja juri memilih ini jadi juara satu lomba. Selamat yaaa :)

    ReplyDelete
  4. Jogya menyimpan banyak warisan budaya dan tradisi yang luar biasa, sudah selayaknya sebagai warga harus bisa melestarikannya pula,.
    Jogya memang Istimewa ....

    ReplyDelete