Borobudur, Pesona yang Tak Pernah Luntur


Menikmati akhir pekan di Candi Borobudur
Sejak kecil hingga sekarang, imajinasi saya tentang Borobudur tidak pernah berubah. Agung, megah, dan sakral. Pelajaran sejarah di bangku SD berhasil membangun imajinasi masa kecil saya tentang sebuah mahakarya dari abad kedelapan Masehi. Sampai saya dewasa dan tinggal di Jogja, lalu melihat langsung mahakarya tersebut, kesan agung, megah, dan sakral memang saya rasakan setiap berkunjung ke Borobudur. Begitu juga pada kunjungan kali ini, saat saya dan beberapa teman kantor butuh destinasi untuk weekend getaway di tengah banyaknya pekerjaan yang menanti di awal pekan.

Langit Magelang kala itu sempat mendung. Namun ketika kami tiba di kompleks Candi Borobudur, mendung telah beranjak. Cahaya matahari yang mulai panas jelang siang tidak menyurutkan antuasisme kami untuk kembali menikmati pesona salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sebenarnya, masing-masing dari kami berempat sudah pernah ke Borobudur sebelumnya, tetapi apakah mengunjungi mahakarya ini hanya cukup sekali? Tidak.
 Tiket seharga Rp30.000 sudah kami pegang. Kami membaur dalam antrean di depan pintu pemeriksaan tiket. Dari sini, pengunjung masih harus berjalan kaki untuk mencapai candi. Tersedia juga beberapa fasilitas bagi wisatawan tanpa perlu jalan kaki, mulai andong, kereta mini, hingga golf car. Tapi, berjalan kaki juga tak kalah asyiknya. Jalannya pun rindang dengan pepohonan dan taman yang asri di kiri kanan.

Setelah menempuh langkah demi langkah, puncak Candi Borobudur mulai terlihat. Kami kembali mengantre untuk mengambil kain batik khusus yang telah disediakan untuk para pengunjung. Namun ternyata, karena kami sudah memakai bawahan yang panjang, kami tidak perlu memakai kain yang dililitkan di pinggang tersebut. Peraturan memakai kain batik diberlakukan pada wisatawan yang memakai rok atau celana pendek di atas lutut. Sebab, Candi Borobudur merupakan bangunan sakral yang menjadi tempat ibadah umat Budha Mahayana, sehingga wisatawan harus berpakaian sopan.

Candi Borobudur yang kokoh dan megah berdiri tepat di depan mata. Pada momen seperti ini, saya selalu mengingat-ingat lagi pelajaran SD yang berhasil membangun imajinasi saya tentang Borobudur, bertahun-tahun lalu. Kamadathu, Rupadhatu, dan Arupadhatu adalah bagian yang paling saya ingat dari pelajaran yang disampaikan oleh guru sejarah.  

Saya menapaki tangga menuju zona pertama, Kamadhatu. Bukan sekadar nama, zona ini memiliki filosofi mendalam yang menggambarkan alam dunia tempat manusia hidup sekarang. Zona ini dihiasi 160 relief yang juga memiliki arti tersendiri tentang hukum sebab-akibat. Relief-relief tersebut menggambarkan kehidupan manusia di dunia yang penuh nafsu dan sifat buruk lainnya. Melihat relief-relief ini, setiap orang seolah diajak bercermin, melihat ke dalam diri sendiri untuk tidak dikendalikan oleh nafsu.

Selanjutnya, di zona kedua, yaitu Rupadhatu yang terdiri dari beberapa lantai. Bagian ini dipenuhi stupa berukuran sedang dengan lorong dan ruang-ruang kecil di antara stupa-stupa. Di dalam stupa, tersimpan patung Budha dengan posisi bertapa. Rupadhatu menggambarkan tingkatan yang lebih tinggi daripada Kamadhatu. Di tingkat ini, kehidupan manusia tidak lagi didominasi nafsu dan keburukan seperti tingkat di bawahnya. Rupadhatu menggambarkan kehidupan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Stupa di Candi Borobudur
Jika pada tingkat Rupadhatu banyak stupa dengan arca Budha di dalamnya, di tingkat Arupadhatu hanya ada satu stupa induk paling besar di puncak candi. Inilah bagian paling sakral bagi umat Budha. Secara filosofis, Arupadhatu menggambarkan tingkat spiritual tertinggi. Pada tahap ini, manusia tidak lagi memikirkan kehidupan duniawi yang penuh nafsu. Ia sepenuhnya milik Yang Esa dan telah manunggal dengan-Nya. Tak heran jika di tingkat ini tidak ada relief yang menggambarkan kehidupan manusia sama sekali.

Bertepatan dengan kunjungan saya waktu itu, beberapa turis asing juga sedang berwisata religi ke Candi Borobudur. Dipimpin biksu yang menjadi ketua rombongan, mereka mengelilingi stupa paling besar di tingkat Arupadhatu sambil merapal doa-doa. Saya menepi, memberi tempat kepada mereka untuk beribadah dengan leluasa. Di bawah terik matahari siang, mereka tetap khusyuk berdoa dengan tangan menangkup di depan dada.

Beribadah di Candi Borobudur
Hari semakin siang dan panas, namun kami belum ingin meninggalkan kawasan candi. Bukan hanya ingin berfoto, tetapi kami juga masih ingin mengagumi megahnya mahakarya yang dibangun oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra ini. Kami turun menapaki tangga demi tangga, lalu melangkah ke sudut di bawah pohon yang rindang.

Dari sudut ini, Candi Borobudur tetap terlihat megah. Puncak-puncak stupanya berjajar dari bawah, semakin ke atas semakin tinggi hingga puncak stupa utama induk di tingkat Arupadhatu. Tanpa perekat apa pun, batu-batu tersebut disusun sedemikian rupa menjadi candi Budha terbesar di dunia dengan panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter.

Kadang saya tak habis pikir, bagaimana mungkin orang-orang di abad kedelapan yang belum mengenal teknologi seperti sekarang bisa menyusun bebatuan andesit yang berat nan keras hingga dapat saling mengunci dan menjadi mahakarya dengan arsitektur yang unik? Bahkan candi ini kemudian diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Site atau Situs Warisan Dunia. Namun kemudian saya meyakini bahwa setiap manusia di segala zaman pasti dibekali potensi di tengah berbagai keterbatasan. Dengan potensi itu, mereka mampu menciptakan mahakarya sebagai wujud bahwa peradaban yang luar biasa itu sudah ada sejak dulu. Kata Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, "Kalau Nederland tak punya Prambanan dan Borobudur, jelas pada zamannya Jawa lebih maju daripada Nederland."


Meski sempat terkubur abu vulkanik Merapi, tetapi Borobudur seolah menemukan cara untuk menunjukkan eksistensinya sebagai warisan dunia. Di tahun 1814, saat Gubernur Jenderal Thomas Stamford Rafles menjabat sebagai gubernur Jawa, ia mengutus Hermanus Christian Cornelius, seorang insinyur Belanda untuk melakukan penelitian ketika ia mendengar kabar tentang bangunan besar yang tertimbun abu vulkanik. Sebelumnya, Hermanus Christian Cornelius pernah ditugaskan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengidentifikasi Candi Sewu dan Prambanan pada tahun 1806-1807. Dan, ia berhasil melakukannya dengan baik.

Saat pertama kali tiba di Magelang, Cornelius dihadapkan pada kondisi yang sangat sulit. Reruntuhan bangunan yang sekarang dikenal dengan Candi Borobudur tersebut tak hanya tertimbun abu vulkanik berabad-abad lalu, tetapi juga dipenuhi rimbun pepohonan. Ratusan orang yang dipekerjakan tak mampu memugar candi yang telah tertimbun selama beratus-ratus tahun. Sampai akhirnya, pada tahun 1835, Hartmann, pejabat Hindia Belanda Keresidenan Kedu, meneruskan penggalian hingga seluruh bagian bangunan candi terlihat.

Patung Budha di Candi Borobudur
Kini, delapan belas dekade berlalu sejak saat itu. Pesona Candi Borobudur telah mencuri perhatian dunia hingga UNESCO menetapkannya sebagai World Heritage Site pada tahun 1991. Jutaan orang berkunjung setiap tahun, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagian tak hanya berkunjung untuk melihat langsung mahakarya Gunadharma, sang arsitek yang merancang Candi Borobudur, tetapi sekaligus beribadah. Tak heran jika Candi Borobudur menjadi primadona wisata di Jawa Tengah, bahkan dipilih sebagai salah satu dari 10 Bali Baru. Belum lama ini, Candi Borobudur juga ditetapkan sebagai Destinasi Super Prioritas oleh Presdien Joko Widodo.

Candi Borobudur
Dari waktu ke waktu, Candi Borobudur semakin dikenal sebagai destinasi wajib, khususnya di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Didukung dengan akses yang mudah, baik dari Semarang maupun Yogyakarta, pesona Borobudur semakin menjadi magnet yang menarik banyak pengunjung. Menapaki tangga demi tangga, menatap relief yang terukir pada dinding candi, dan mengagumi peninggalan Dinasti Syailendra ini menjadi pengalaman tersendiri yang mengayakan jiwa.

Setiap pengunjung disuguhi bukti nyata yang terpampang di depan mata bahwa dahulu, jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih seperti sekarang, peradaban telah berkembang dan menghasilkan mahakarya luar biasa. Sampai sekarang, mahakarya itu tak pernah kehilangan pesonanya. Ia tetap kokoh dan megah, menyimpan sejarah dan ragam cerita yang tak ada habisnya. Sebab ia, adalah Borobudur, pesona yang tak pernah luntur.


Share:

1 komentar

  1. kasihan Candi Borobudur dikunjungi jutaan orang per tahunnya. batu candinya cepat aus. terutama relief-reliefnya.

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...