Pretichor


     Entah siapa yang akan datang lebih dulu, hujan atau kamu? Dua-duanya kutunggu. Dua-duanya kurindu. Kemarau telah membentangkan jeda panjang antara hujan terakhir di musim lalu dan detik sekarang yang membuat tanah seolah lupa kapan terakhir hujan menyapanya. Seperti jarak yang membentang di antara kita selama beberapa bulan terakhir ini, Er, tepatnya selama hujan enggan menyapa kota kita.
      Dan tentang hari ini, apa kau masih mengingatnya, Er? Aku harap begitu. Sebab alangkah menyesakkan bila hanya aku yang mengingatnya. Ingatan yang bertepuk sebelah tangan. Lima bulan lalu, pertemuan terakhir kita menyisakan sebuah kesepakatan bahwa kita akan bertemu di sini, di sebuah kedai kopi di sudut kota Jogja, dan kita juga sepakat untuk tak membahasnya sama sekali agar kita tahu siapa yang paling berkomitmen dengan janji yang telah disepakati bersama.
      Sejak membuka mata tadi pagi, jantungku berdegub semakin kencang. Bukan karena aku tahu kau akan menyudahi perjalanan panjangmu di pedalaman Maluku sana, lalu kembali ke kota ini, melainkan karena aku khawatir kau melupakan janji temu kita. Kau memang masih menghubungiku, tapi sama sekali tak menyinggung pertemuan kita—tentu saja karena kita memang telah sepakat untuk tak membahasnya. Tapi, Er, aku tak bisa bohong bahwa aku khawatir bila kau melupakan janji temu kita—sangat khawatir malah.
      Lalu sore tadi, aku bergegas mandi dan bersiap. Rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri selama perjalanan naik taksi menuju kedai kopi tempat kita akan bertemu. Ini pertemuan kita yang kesekian kali, tapi aku seolah baru pertama kali akan bertemu denganmu.
     Dan sekarang, aku sedang menunggumu di sini, Er. Kupilih meja di luar ruangan agar aku bisa segera melihat sosokmu begitu kau datang. Aku pun sengaja datang setengah jam lebih awal dari kesepakatan kita karena aku semakin resah berdiam di rumah. Setengah jam di sini, aku belum memesan apa pun walau sekadar air mineral.
     Ini sudah jam tujuh, harusnya kau sudah datang, Er, gumamku gundah. Seorang waitress menghampiriku untuk kedua kalinya. Terpaksa aku memesan minuman lebih dulu. Segelas cokelat panas mungkin sedikit mampu menenangkanku.
Tak terhitung berapa kali aku mengecek aplikasi chat di ponsel, barangkali ada pesanmu yang terlewat dan belum kubaca. Berulang kali pula kulihat jam di pergelangan tangan kiriku. Lima belas menit telah berlalu dari waktu yang telah kita sepakati.
     Er, aku masih menunggumu di sini.
     Aku menghela napas panjang seiring angin yang bertiup pelan memainkan anak-anak rambutku. Di langit, bintang tak terlihat walau hanya satu. Bulan pun begitu. Sejak sore tadi, langit memang mendung. Tapi, benar kata sebuah lagu, bahwa mendung tak berarti hujan. Nyatanya sampai saat ini langit memang belum menurunkan tirai airnya yang dinanti banyak orang di penjuru kota, aku salah satunya. Yang paling kurindukan dari hujan adalah pretichor, yaitu aroma tanah yang menguar kala diguyur hujan. Ah, untuk hal yang satu ini apa kau juga melupakannya, Er? Tolong bilang tidak!
     Setengah jam berlalu dari waktu yang telah kita sepakati, dan cokelatku mulai dingin, tinggal separuh. Aku mulai lelah menunggumu. Memang baru setengah jam, tapi ini jauh lebih sulit daripada menunggumu selama beberapa bulan. Apa kau benar-benar melupakan janji temu kita, Er?
    Kutimang-timang smartphone-ku, antara ragu dan ingin segera menghubungimu, mengingatkan janji beberapa bulan lalu, dan mengatakan bahwa aku sedang menunggumu. Tapi... tapi aku benar-benar ingin tahu sejauh mana kau pegang komitmen kita. Akhirnya..., yang kupilih justru menonaktifkan ponsel.
     Angin kembali meniupkan dingin, membuat cokelatku benar-benar kehilangan kehangatannya. Seleraku untuk meneguknya juga telah lenyap seperti harapan yang pelan-pelan menguap. Er, mungkin kau benar-benar telah melupakan janji kita.
     Tapi... tunggu!!! Sosok berjaket abu-abu itu, aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Meski rambutnya agak gondrong sekarang, namun aku tak mungkin salah mengenalinya. Ia berjalan sambil celingukan.
      “Er...!” aku memekik kecil seraya melambaikan tangan.Benar, itu kamu, Er! Aku bisa membayangkan raut mukaku yang begitu lega melebihi mahasiswa semester tua yang dinyatakan lulus sidang skripsi. Kau berjalan menghampiriku. Tak bisa kukatakan perasaanku saat ini, Er. Aku lega kau datang. Langit masih gelap tanpa satu pun bintang, namun ternyata kaulah yang datang lebih dulu, bukan hujan.
     “Cha, maaf, aku nggak tahu kalau Jalan Kusumanegara lagi diperbaiki dan ditutup. Jadi tadi aku putar balik,” terangmu seraya duduk di depanku.
     Kau memesan kopi hitam kesukaanmu, sedangkan aku memesan vanilla latte dan melupakan cokelat yang telah dingin. Dan mulailah kau bercerita, tentang penelitianmu di pedalaman Maluku, tentang bocah-bocah manis berambut keriting, tentang keramahan masyarakat lokal, juga tentang pantai-pantai bening dengan airnya yang berwarna toska.
    “Suatu saat aku akan mengajakmu ke sana, Cha,” kau mengucapkannya dengan begitu yakin, seraya tersenyum. Sangat manis. “Tapi kamu harus janji satu hal.”
       Aku menatapmu penuh tanda tanya. “Apa?”
     Lagi-lagi kau tersenyum, kali ini senyum meledek. “Janji, kalau sudah di sana jangan menolak diajak pulang. Hehehe.... Pantainya bikin betah.”
     Aku terkekeh. Kau bisa saja, Er. Aku memang menyukai pantai, tapi pantai tak harus jadi rumahku, karena rumah adalah di mana kau dan aku bisa menjadi kita.
      Kau terus bercerita tentang pengalamanmu selama lima bulan di sana, dan aku menjadi pendengar setia sambil sesekali menyesap kopi. Bersamamu, waktu selalu terasa lebih cepat dan tak terasa sudah dua jam kita menghabiskan waktu bersama.
      “Temani aku keliling Jogja. Aku rindu suasana Jogja malam hari,” pintamu.
Dan aku merindukanmu, Er, batinku, yang hanya kuungkapkan lewat selengkung senyum dan anggukan.
Kita berjalan beriringan menuju parkir motor. Namun begitu sampa di parkiran, raut mukamu mendadak kebingungan.
      “Aduh!” Kau menepuk jidatmu sendiri. “Aku lupa, cuma bawa satu helm.”
       “So?”
     Kau tampak berpikir sejenak, lalu mengambil helm yang kau taruh di spion motor. Dengan sigap kau pasangkan helm itu di kepalaku. Sedikit terkejut, aku terdiam sejenak, melihat apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Mungkin kau akan meminjam helm lain kepada tukang parkir. Ternyata aku salah. Kau bersiap mengeluarkan motormu dari area parkiran.
        “Er, kita akan ke mana?” tanyaku ragu.
      “Ayo naik!” kau justru tak mempedulikan ucapanku. “Jangan khawatir, jam segini sudah nggak ada polisi. Nggak akan ada yang nilang meski nggak pakai helm.”
     “Ada polisi atau nggak, aspal di jalan tetap keras lo,” protesku. “Jadi pakai helm bukan karena keselamatan, tapi biar nggak ditilang polisi?” Aku mencibir.
        “Cha, please... temani aku. Jangan khawatirkan keselamatanku, yang penting kamu sudah pakai helm.”
Aku kembali terdiam, pura-pura cemberut agar kau berubah pikiran. Bukannya naik ke boncengan motormu, aku justru duduk di kursi tukang parkir. Dan... bayangan itu pun memenuhi benakku.

***


Barangkali, yang lebih ditakutkan manusia bukanlah terpisahnya nyawa dari badan, melainkan disisihkan, bahkan diabaikan saat nyawa masih melekat di badan. Bukankah itu lebih mengerikan daripada kematian? Ngeri karena seseorang dianggap mati bahkan ketika malaikat maut belum mengetuk pintu jasadnya. Itulah yang kualami kini.
Hanya dalam hitungan menit, semua berubah! 
Er, janjimu untuk mengajakku menikmati pantai-pantai indah di Maluku telah terkubur bersama segala hal tentang kita. Malam itu, aku tak kuasa menolak ajakan untuk menemanimu keliling Jogja. Kau melajukan motormu dengan santai, tanpa helm. Ya, hanya aku yang memakai helm. Kuyakinkan hati bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi, keyakinan itu porak-poranda seketika begitu sebuah motor berkecapatan tinggi menghantam kita dari arah berlawanan. Belakangan kuketahui bahwa pengemudi motor itu sedang di bawah pengaruh alkohol.
        Tubuhku terpental di atas aspal. Aku masih sempat mendengar suara orang-orang yang panik hendak menolong kita. Namun lambat laun, suara-suara itu timbul tenggelam, hingga akhirnya sama sekali tak terdengar. Malam semakin gelap dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
        Saat kubuka mata, sekujur tubuhku terasa remuk. Nyeri melekat di setiap persendian. Bau obat-obatan menusuk hidung. Aku mengerang kesakitan begitu kesadaranku kembali. Ruma sakit! Ya, ini rumah sakit. Pandangan yang mengabur pelan-pelan mulai tampak jelas.
Ibu dan Ayah berdiri di sisi ranjang. Tapi..., kau di mana, Er?
Sembab mata ibu sanggup bercerita bahwa ia begitu terpukul atas kejadian ini. Namun ia masih bisa tersenyum melihatku sadar, dan menjawab pertanyaanku yang lirih namun bertubi-tubi, salah satunya pertanyaan tentangmu, Er.
“Erwin masih di ICU. Dia koma. Ada benturan di kepalanya.”
Jawaban Ibu menohokku! Berlapis-lapis sesalku karena tak sanggup mencegahmu naik motor tanpa helm. Aku semakin menyesal karena helm yang seharusnya kau pakai justru aku yang memakainya.
Er, air mataku leleh, meski tanpa isak.
       Setelah tiga hari di rumah sakit, aku sudah diperbolehkan pulang karena lukaku memang tak separah trauma di kepalamu, Er. Tapi..., rasa sesal itu tak juga hilang. Aku seperti orang linglung yang menunggu keajaiban berupa kesadaranmu.
         Hingga akhirnya..., dering di ponselku pagi ini menyudahi penantianku.
     “Erwin sudah sadar, Nduk,” kata ibumu via telepon. Suaranya berat, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
       Ayah segera mengantarku ke rumah sakit untuk menjengukmu. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku tak henti merapal doa agar semua baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja. Namun bukanlah hidup bila semua yang kita harapkan selalu terpenuhi. Itu pun yang kualami. Tuhan telah menyiapkan kejutan lainnya.
        “Erwin, ini Icha,” kata ibumu begitu aku tiba. Kau menatapku datar, seolah aku bukan “siapa-siapa”.
        “Hai, Er....” sapaku kaku.
        Lalu kau mengulas senyum yang juga datar. Sangat berbeda dengan senyummu di kedai kopi malam itu. Jika tak ingat sedang memakai kruk, mungkin aku sudah lari sejauh-jauhnya karena tak sanggup melihatmu seperti ini. Tapi aku berusaha tegar dengan senyum paling pura-pura. Ibumu bisa membaca keadaan yang kaku ini, hingga ia membimbing langkahku menjauh dari ranjangmu.
        “Jangankan kepadamu, kepada Ibu saja dia lupa, Nduk....” Air mata wanita paruh baya itu nyaris jatuh.
     “Er... amnesia?!!!” Aku terkejut setengah mati. Wanita di hadapanku hanya mengangguk, sementara hatiku semakin remuk.
      Er, dulu kupikir amnesia hanyalah cerita basi dalam sinetron-sinetron kejar tayang atau drama Korea yang penuh air mata, ternyata kini yang mengalaminya adalah kamu. Sedangkan aku, aku tak pernah sanggup jika harus mati dari ingatanmu.

***
   
       “Cha, ayo naik!!!” teriakanmu memporak-porandakan bayangan mengerikan di benakku.
       Er, jangan bunuh aku dari ingatanmu! batinku setelah bayangan itu benar-benar lenyap.
      “Cha!” kau memanggilku lagi. Namun aku belum juga beranjak dari dudukku. Hingga tiba-tiba, mendung yang menghitam sejak sore tadi menjelma rintik yang semakin lama semakin deras. Perlahan, indra penciumanku menangkap aroma yang begitu khas dan kurindukan. Harum tanah yang terguyur hujan seperti menjadi aroma terapi yang menenangkan, membuatku lupa pada bayangan pilu yang sempat menyergap dan menakutiku. Selamat datang, Pretichor! gumamku lirih seraya tersenyum kecil dan menjentikkan jari. Pretichor datang bersama sebuah ide. Tanpa menunggu persetujuanmu, kulepas helm di kelapaku. Aku berlari kecil menghampirmu.
        “Kita jalan kaki saja sambil hujan-hujanan.”
        Bisa kutebak, kau pasti menolak. Terlihat dari ekspresi wajahmu.
     “Eitss... nggak boleh nolak.” Kutarik lenganmu dengan paksa. “Ini hujan pertama yang menandai berakhirnya musim kemarau. Hujan ini juga menandai pertemuan kita setelah berpisah beberapa bulan. Jadi..., aku ingin menikmati pretichor malam ini denganmu sambil jalan kaki.”
      Hujan mengguyur kita, Er. Di sela-sela rinainya, aku bisa menangkap senyummu, lalu kau berbisik, “Terima kasih selalu mengajarkanku untuk lebih berpikir dewasa.”


                                                                                                     Yogyakarta, Oktober 2015


sumber gambar: http://static.ezoter.pl





Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan nulisbuku.com

Share:

8 komentar

  1. Cenat-cenut. Ternyata Amnesianya lamunane si Cha. Pertemuan yang manis.

    ReplyDelete
  2. "Ingatan yang bertepuk tangan..." apakah benar di kalimat itu ada kata yg terlewat?

    aku udah terbawa suasana di rumah sakit, tapi ternyataaa.... Yaaa endingnya T.T

    blog walking ke mari :D >>> http://quadraterz.blogspot.co.id/2015/10/safety-first-jejak-di-bahu-jalan-ade.html

    makasih, sis. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, De, ada satu kata yang hilang. *efek ngantuk *ngeles

      Pembaca merasa di-php? Wkwkwk

      Delete
  3. Terserah pembaca gimana menafsirkannya. Hehehe

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...