Berkunjung ke Lawang Sewu, Seperti Bertualang Menyusuri Lorong Waktu



Untuk kesekian kalinya Semarang menyambut saya dengan panasnya, meski pangit agak mendung. Ini bukan kota yang asing bagi saya, meski tak hafal betul setiap sudut kota dan gang-gang kecilnya. Saya sudah berkali-kali ke Semarang, terutama untuk urusan pekerjaan.

Namun nyatanya, baru kali ini—entah pada kunjungan ke berapa—saya menyempatkan diri mengunjungi bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota Semarang; Lawang Sewu. Selain menyimpan sejarah, Lawang Sewu juga dibumbui dengan cerita-cerita mistis yang beredar di masyarakat tentang gedung tua ini. Konon, Lawang Sewu dihuni oleh banyak "penunggu" tak kasat mata yang terkadang "menyapa" pengunjung.  

Cerita-cerita mistis tersebut tidak menyurutkan keinginan kami—saya dan teman-teman—untuk mengeksplorasi Lawang Sewu. Di siang yang mendung namun tetap panas itu, tak terlalu banyak pengunjung meskipun akhir pekan. Begitu memasuki gedung pertama, nuansanya sangat berbeda. Hiruk-pikuk kendaraan di kawasan Tugu Muda seperti redam di dalam ruangan, ditimpa percakapan-percakapan pengunjung yang sedikit menggema.


Dalam bahasa Indonesia, lawang sewu artinya seribu pintu. Tetapi kenyatannya, bangunan peninggalan kolonial Belanda ini memiliki lubang pintu sejumlah 429. Sedangkan jumlah total daun pintunya sebanyak 1200. Ditambah jendela-jendela tinggi dan lebar yang tampak seperti pintu, membuat bangunan ini memang pantas dinamakan Lawang Sewu. Terdiri dari tiga lantai, Lawang Sewu memiliki arsitektur khas Belanda, dengan tangga besar menuju lantai dua.


Lawang Sewu mulai dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda sejak 27 Februari 1904 sampai tahun 1907. Gedung ini dirancang oleh dua arsitek Belanda, Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag, yang tinggal di Belanda dan mengirimkan hasil rancangan mereka ke Semarang. Awalnya, Lawang Sewu berfungsi sebagai kantor pusat perusahaan kereta api milik Belanda bernama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappj, disingkat NIS. Inilah perusahaan yang pertama kali menghubungkan Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta lewat jalur kereta api yang mereka bangun.

Seiring perkembangan dan semakin banyaknya staf, NIS membutuhkan kantor baru yang lebih luas dan nyaman. Setelah NIS pindah ke kantor baru, gedung ini dialihfungsikan sebagai penjara oleh Belanda. Begitu juga saat Jepang mengambil alih dan menduduki Semarang. Jadilah bangunan ini saksi bisu betapa kelamnya masa penjajahan kala itu, baik oleh Belanda maupun Jepang. Tembok, lantai, pintu, jendela, dan lorong-lorongnya seolah mencatat sejarah kelam penyiksaan para tahanan. Bahkan setelah Indonesia merdeka, Lawang Sewu tak terpisahkan dari sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober-19 Oktober 1945) saat AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan tentara Jepang.


Dari banyak peristiwa kelam yang terjadi di Lawang Sewu, muncullah cerita-cerita mistis hingga sekarang. Apalagi, bangunan kuno ini sempat tak terawat sebelum pemugaran yang selesai bulan Juni 2011. Lalu, Lawang Sewu dibuka untuk umum sejak 5 Juli 2011.

Meski dibumbui cerita mistis, namun setelah dipugar dan dibuka untuk umum, Lawang Sewung telah bersolek menjadi bangunan tua nan cantik. Berdiri kokoh dan anggun di  Jalan Pemuda, menjadi landmark kota lumpia. Bagi sebagian orang yang “peka” mungkin menyusuri sepanjang lorong dan ruang-ruang di Lawang Sewu akan merasakan suasana mistisnya meski berkunjung pada siang hari. Tapi bagi saya, setiap sudut ruang dan lorong yang memanjang menyajikan nuansa tempoe doeloe, seolah kita diajak memutar waktu ke masa lalu. Seperti menyusuri lorong waktu hingga awal tahun 1900an.


Daun-daun pintu dan jendela yang lebar memberi kesan antik dan klasik. Beberapa ruang dan tangga di dalam memang minim cahaya, sedikit remang yang membuat saya kadang membayangkan yang tidak-tidak. Namun ternyata tidak ada apa-apa. Tidak ada pengalaman mistis. Justru saya terkesan melihat bangunan yang tetap meski sudah lebih dari seabad lalu. Sejarah kelam hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


Ada yang bilang, “Belum ke Semarang kalau belum makan lumpia dan berkunjung ke Lawang Sewu.” Sebagai ibu kota Jawa Tengah, Semarang memang layak menjadi tujuan wisata, mulai wisata budaya, alam, hingga kuliner khasnya yang menggoda.

Menikmati semua itu tak cukup hanya sehari di Semarang. Karenanya, siapa pun perlu mempertimbangkan akomodasi yang memadai saat berkunjung ke kota ini. Apalagi Semarang yang berbatasan dengan Pantai Utara dikenal dengan cuacanya yang panas sehingga kita butuh akomodasi yang nyaman setelah seharian jalan-jalan.

Selain nyaman, tentu saja tarif per malam juga harus sesuai dengan budget jalan-jalan. Selain itu, lokasi juga menjadi pertimbangan bagi saya. Apalagi jika mengandalkan transportasi umum. Hotel murah dan nyaman jika lokasi jauh dan tidak dijangkau transportasi umum, bisa jadi hitungannya akan lebih mahal karena kita harus mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi. Karena itu, kita harus jeli memilih. Ada ratusan hotel di Semarang
yang bisa jadi pilihan. Harga dan fasilitasnya pun beragam.

Lalu gimana memilihnya?


Sebagai orang yang sering diserahi urusan tiket dan akomodasi saat jalan-jalan, saya merasa terbantu dengan fitur pencarian hotel dari Pegipegi.


Selain user friendly, fitur ini memiliki filter lengkap untuk pencarian hotel. Pertama, kita bisa memfilter harga mulai terendah hingga tertinggi, tinggal sesuaikan saja dengan budget jalan-jalan kita. Kedua, filter bintang. Kita bisa memilih agar pencarian hanya menampilkan hotel-hotel dengan bintang satu sampai lima.


Ketiga, filter fasilitas utama. Bagi yang suka berenang bisa memilih untuk menampilkan hotel yang dilengkapi fasilitas kolam renang. Klik saja fasilitas yang diinginkan pada filter pencarian hotel. 

Keempat, tipe akomodasi. Filter ini lengkap sekali, mau nginap di hostel, hotel, apartemen, vila, bungalow, semua ada. Kelima, filter akomodasi. Filter ini menyaring akomodasi berdasarkan akomodasi favorit, akomodasi yang cocok untuk pasangan, akomodasi family, akomodasi mewah, hingga hemat. Hasil pencarian ditampilkan dalam bentuk daftar dan peta, sehingga kita bisa melihat lokasinya strategis atau tidak.



Setelah memilih hotel yang sesuai, pesan dan pilihlah tipe kamar. Jangan lupa, sebelum memilih tipe kamar, baca detail info mengenai fasilitas kamar tersebut. Selanjutnya, isi data dan lakukan pembayaran. Metode pembayaran juga beragam, mulia bank transfer, kartu kredit, klik BCA, ATM Bersama, Prima, dan Alto.

Kalau nggak punya rekening bank atau rekening lagi kosong tapi punya duit cash segepok? Tenang, masih ada Indomaret yang setia menerima pembayaran kita untuk disampaikan kepada Pegipegi. Terus, kalau mager ke Inodmaret dan telanjur asyik rebahan gimana? Kalau mau pesen hotel dulu biar nggak kehabisan tapi belum gajian gimana?


Santuy aja, Pegipegi punya fitur “bayar di hotel”. Untuk menggunakannya, kita cukup jadi member Pegipegi dan log in saat memesan hotel. Setelah itu, pilih metode pembayaran “bayar di hotel”. Kalau sudah sampai hotel, jangan lupa bayar, ya. Hehehe....    

Gampang, kan? Makanya, ayo jalan-jalan ke jalan-jalan ke Semarang. Karena konon, Semarang itu... semakin rindu dan sarang(hae)....   

  
          
Ayun
Menulis buku Unforgettable India dan mengedit banyak buku lainnya.

Related Posts

15 comments

  1. Aku juga pernah berkunjung ke Lawang Sewu pas liburan lebaran lalu. Seru banget ya apalagi pas masih puasa hihihi kan ada gerai CFC di dalamnya ya hehehe. AKu sewa guide selama di sana diceritakan sejarah museum ini sekaligus ada sesi foto2 yang menarik ga akan terlupakan. Iya tuh ada penjara bawah tanahnya.

    ReplyDelete
  2. Saya belum pernah sekalipun ke Lawang Sewu. Tetapi, suka denger aja cerita mistisnya. Setelah dirawat begini, sepertinya kisah mistisnya menghilang, ya

    ReplyDelete
  3. suamiku ngajakin nih ke sini, aku mau sih, tapi gara2 dulu suka nonton ada uka2 di sini jadi ragu2 wkwkwk, padahal mah ga ada apa2 ya

    ReplyDelete
  4. Jangankan ke lawang sewu, ke semarang aja saya belum pernah... Pengen banget ke sana sekalian kulineran lumpia semarang, tahu bakso, dll hehehe...

    ReplyDelete
  5. Pas banget nih, liburan Natal aku mau main ke Semarang. Udah pernah beberapa kali ke Lawang Sewu. Tapi kayanya seru juga kalau foto-foto lagi di situ ya :D

    ReplyDelete
  6. Aku udah lama gak ke lawang sewu padahal katanya sekarang lawangsewu bagus ya Kak, sejak pasca pemugaran

    ReplyDelete
  7. Kayak nya foto mengintip di pintunya Lawang Sewu itu sudah jadi trademarknya pengunjung ya hahahaha. Pengen ih poto kayak gitu.

    ReplyDelete
  8. Pas ke Semarang udah di depan lawang sewu, eh malah ga jadi karna penuh banget. Mungkin aku datang pas lebaran ya jadi rame banget

    ReplyDelete
  9. Ah Lawang Sewu! Udah dua Kali trip Semarang selalu dibawa panitia acara kesini, hehe. Tapi paling cuma foto2nya di lantai 1-2 atau outdoornya :D

    ReplyDelete
  10. Aku baru aja nonton film Filosofi Kopi the series, trus lokasi syuting nya di Lawang Sewu. Baca ini jadi nyambung banget. Seperti yang mbak tulis, ada cerita-cerita mistis di sini. Kemudian cerita ini diangkat ke film Filkop the series.
    Lihat bangunannya jadi mengingatkan aku sama cerita2 orangtua jaman dulu tentang penjajahan Belanda.

    ReplyDelete
  11. Lawang sewu dulu angker sekarang jd jujugan wisata yang harus dan wajib dikunjungi kalau ke Semarang ya mbak. Duh pengen sekali deh liburan ke Semarang tentu aja ke Lwang sewunya salah satunya :D
    Pegi2 lagi ada promo tiket gtu gak ya kira2 hehhe

    ReplyDelete
  12. Lawang sewu sekarang ini tempat wisata yang banyak dikunjungi orang untuj daerah semarang. Mampir akh kalau lagi main kerumah anak di semarang

    ReplyDelete
  13. Aku gak bisa ngerasain nuansa mistis sama sekali orangnya..
    Jadi pas ke sini, suami yang gak mau terlalu "ganggu" tiap ruangan yang berada di Lawang Sewu, terutama di lantai 2 yang baru bisa dipugar sekian persen dari total keseluruhan bangunan.

    ReplyDelete
  14. Seru banget nih ke lawang sewu. Pertama dan terakhir kalinya tuh waktu SD. Tempatnya bagus, indah tapi juga mistis ya. Beneran deh berasa dibawa ke waktu lalu.

    ReplyDelete

Post a Comment

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...

Subscribe Our Newsletter