Bromo dan Sebuah Janji pada Diri Sendiri

Suatu sore di bulan September 2008, saya menunggu hujan reda sambil menghangatkan diri dengan semangkuk bakso. Hawa dingin di sekitar Gunung Bromo tak cukup ditahan hanya dengan jaket, kupluk, dan sarung tangan. Sedangkan hujan masih terus mengguyur, membuat semua rencana hancur.

Hal yang saya dan teman -teman bayangkan sebelumnya, kami akan menghabiskan malam dengan membakar jagung, merebus mi instan, menikmati bekal camilan yang kami bawa sambil duduk mengitari api unggun dan mendendangkan lagu diiringi petikan gitar. Setelah ngantuk dan kelelahan, kami akan tidur di dalam tenda.

Kenyataannya, hujan mengguyur sejak siang hingga menjelang petang. Tanah dan rumput basah. Genangan air di mana-mana. Mendung hitam juga masih tebal. Kemungkinan, hujan deras masih akan turun nanti malam. Tidak mungkin kami tidur di tenda dalam kondisi seperti ini.

Lalu bagaimana? Check in di hotel? Tidak mungkin. Bukan, bukan karena hotel penuh, tapi kami hanya mahasiswa kere yang ingin melihat gagahnya Bromo bermodal nekat. Uang saku kami jelas tidak cukup untuk hanya menyewa satu atau dua kamar hotel saja.

Seseorang menghampiri kami, menawarkan bantuan. Katanya, kami bisa menempati lobi sebuah hotel yang sedang tidak difungsikan. Ada bangku-bangku panjang yang bisa kami tata untuk tempat tidur. Memang tidak empuk, tapi minimal kami tidak kedinginan di luar.

Atas bantuannya, ia hanya meminta uang rokok, lalu mempersilakan kami menggunakan tempat tersebut untuk istirahat. Keesokan harinya, kami berjalan kaki ramai-ramai menuju puncak Bromo. Barang-barang kami tinggalkan di hotel tersebut.

Singkat cerita, dari malam hingga pagi itu, semua berjalan lancar dan menyenangkan. Sampai akhirnya, sepulang dari Gunung Bromo, kami mendapati tempat kami tidur semalam telah disegel. Dua papan kayu dipaku melintang di depan pintu.

Pihak hotel mendatangi kami dan menjelaskan bahwa kami telah melanggar aturan. Hotel tersebut memang tidak dipakai karena hanya digunakan sebagai tempat syuting. Kami didenda sebesar Rp300.000 karena telah menggunakan properti mereka tanpa izin. Bahkan kami juga diancam akan dipolisikan.

Intinya, kami telah ditipu oleh orang yang kemarin menawarkan tempat tersebut dan meminta “uang rokok”. Ditambah, sekarang kami harus membayar uang denda. Inilah gambaran nyata dari peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga”.

Sepuluh tahun berlalu, pengalaman tersebut tidak pernah saya lupakan. Bahkan saya mengabadikannya dalam sebuah buku antologi cerita perjalanan tentang pengalaman menginap di hotel atau hostel. Konyol, menyedihkan, tapi mengundang tawa saat dikenang. Sejak saat itu saya berjanji  pada diri sendiri bahwa nanti, saya akan ke Bromo lagi dengan keadaan yang berbeda, yang jauh lebih menyenangkan.
sumber gambar: blog.reddoorz.com
Saya akan menyapa Bromo lewat Penanjakan seiring dengan matahari terbit yang membuat Bromo dan jajaran gunung di sekitarnya tampak begitu anggun. Penanjakan memang menjadi spot istimewa untuk menikmati matahari terbit dengan pemandangan yang luar biasa. Sayangnya, sepuluh tahun lalu saya melewatkan tempat istimewa ini.

Berikutnya, petualangan akan berlanjut ke kawah Bromo. Saya masih ingat, sepuluh tahun lalu saya begitu bersemangat menaiki ratusan anak tangga menuju kawah, meski beberapa teman memilih duduk di bawah karena kelelahan dan kedinginan. Tahun ini, saya ingin mengulangnya. Saya ingin kembali menatap cekungan di puncak gunung  yang mengeluarkan bau belerang tersebut.

Dari kawah Bromo, jeep akan membawa saya menyusuri hamparan kaldera yang terkenal dengan nama Pasir Berbisik. Berlatar Gunung Batok yang bersebelahan dengan Gunung Bromo, kaldera ini menyajikan pemandangan yang eksotis dan dramatis.

sumber gambar: agentwisatabromo.com
Setelah bertualang di kaldera yang berwarna gelap, selanjutnya saya akan menyegarkan mata dengan hijaunya savana yang terhampar luas. Berlatar bukit yang hijau, pemandangan ini menyerupai Bukit Teletubbies. Spot ini juga menjadi destinasi wajib dalam rangkaian tur di sekitar Gunung Bromo. Tapi lagi-lagi, dulu saya melewatkan spot ini.

sumber gambar: blog.reddoorz.com
Selain beberapa destinasi tersebut, satu hal yang pasti adalah menginap di hotel yang nyaman tanpa harus berujung drama penyegelan seperti dulu. Ini janji saya pada diri sendiri. Tapi sampai sekarang, janji itu belum saya tunaikan.

Tahun lalu, saya berencana mengunjungi Bromo, tapi ada beberapa hal yang membuat rencana ini harus ditunda lagi. Tahun 2019 ini, Bromo menjadi salah satu resolusi traveling yang saya prioritaskan. Saya harus menyempatkan waktu untuk kembali mengunjungi Bromo. Apalagi, sepuluh tahun lalu, kenangan di Bromo hanya saya dokumentasikan menggunakan kamera ponsel jadul yang tak sebening kamera smartphone zaman sekarang dengan belasan bahkan puluhan megapixel. Foto-foto dulu juga raib bersama komputer yang rusak tanpa sempat saya back up data-datanya.

Dari Yogyakarta, saya akan naik kereta ke Malang. Di kota ini, saya akan menginap di hotel, lalu ikut paket tur naik jeep yang menyediakan penjemputan di kota Malang. Soal hotel dan penginapan, sudah saya serahkan pada RedDoorz yang menawarkan banyak hotel budget dengan enam jaminan layanan, yaitu free wifi, satellite television, mineral water, clean linen, clean wash-room, dan toiletries. 
Saya mengenal RedDoorz sejak tahun lalu dan sudah beberapa kali menggunakan layanan ini. Pertama kali saya memesan kamar di RedDoorz Premium 2 Slamet Riyadi saat berkunjung ke Solo. Dengan promo 99K, jujur saat itu saya tak terlalu berharap banyak. Tapi ternyata, RedDoorz melebihi ekspektasi saya.

Lobi Hotel (dok.pri)
Setelah check in, saya masuk ke sebuah kamar dengan dua tempat tidur. Ada satu kursi, satu meja panjang untuk melatakkan barang-barang, dan satu lemari pakaian. Kebiasaan saya setiap pertama kali masuk ke kamar hotel adalah mengecek kamar mandi dan tempat tidur.

Bath tub, closet, westafel, dan lantai kamar mandi terlihat bersih. Shower dan keran air juga berfungsi dengan baik. Toiletries yang disediakan juga lengkap, dikemas rapi dalam poach merah bertuliskan RedDoorz. Isinya sabun, sampo, pasta gigi, dan sikat gigi. Handuk yang disediakan juga bersih dan wangi.
Pouch isi perlengkapan mandi (dok.pri)
Selanjutnya, saya coba kasur serta bantalnya. Empuk dan nyaman. Linennya pun bersih sesuai jaminan clean linen yang ditawarkan oleh RedDoorz. Jaminan lainnya adalah mineral water. Di meja, dua botol air mineral sudah tersedia. Begitu juga dengan televisi yang termasuk salah satu dari enam jaminan dari RedDoorz. Di dinding, sebuah televisi terpasang menghadap tempat tidur. Saya nyalakan dan memindah beberapa channel.

Twin Bed RedDoorz (dok.pri)
televisi di kamar (dok.pri)
Terakhir tapi sangat penting, yaitu wifi gratis. Tenang, ini juga termasuk salah satu jaminan dari RedDoorz. Meski di kamar sudah ada televisi, tapi terkadang kita bosan dengan acara televisi dan ingin nonton video di Youtube atau situs-situs streaming film. Adanya wifi dengan sinyal yang kuat, selain bisa bisa hemat paket data, kita juga bisa mengakses video tanpa buffering.

Itulah kesan pertama saya menggunakan RedDoorz. Enam jaminan yang ditawarkan bukan cuma gimmick untuk menarik konsumen, tapi benar-benar jaminan layanan yang kita dapatkan dari RedDoorz. Bisa dibilang, saya jatuh cinta pada pesanan pertama. Karena itulah, saat Februari lalu saya mencari hotel untuk menginap semalam di luar kota, RedDoorz kembali menjadi pilihan saya.

Sejauh ini, saya tidak pernah dikecewakan oleh Reddorz. Maka, saat ke Bromo nanti dan menginap di Malang, lagi-lagi, saya akan memilih RedDoorz.         

Share:

27 komentar

  1. Saya juga sering dan bolak balik nginep di RedDoorz mbak. Emang asyik...dan nggak pernah dikecewakan. Puas banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, harganya cocok buat aku yg hobi backpacking.

      Delete
  2. Aduh pengalamannya tragis sekali ya. Kok tega teganya ada orang yg menipu gitu ya. Betul lah Mba nanti nanti kalau ke sana mending memilih yang sudah pasti aman dan nyaman saja. Jangan sampai tertipu lagi ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Dulu masih lugu, hehehe... *sekarang juga sih

      Delete
  3. aku belum pernah ke bromo, mudah2an soon bisa ke bromo, karena selalu mupeng sama orang yang foto di bromo, apalagi sambil naik jeep atau naik kuda, hehehe

    ReplyDelete
  4. Reddorz ini sudah banyak dimanamana ya kak termasuk di kota aku di Medan.hotel budget yang bersih, bisa diandalkan, dan fasilitasnya oke.jadikepengen ke bromo aku bawa anak anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, udah RedDoorz udah banyak di kota-kota besar.

      Delete
  5. Janji pada diri sendiri bahwa Bromo menang indah dan perlu di jelajahi. Keindahan membuat terkagum kagum hal sama dengan RedDoorz yang hunian murah tapi bagus penginapan nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah tahun ini jelajah Bromo lagi. Amin.

      Delete
  6. pengen ke bromo juga. �� wah.. nanti mau coba pesen hotel RedDoorz juga ah. Apalagi Redoorz ini udah banyak juga ya di kota2 besar indonesia

    ReplyDelete
  7. Wah dari judulnya tulisan ini langsung ngena di hati dan ternyata tulisannya juga. Cara mba menuliskan tentang bromo jadi ikut membawa pembaca membayangkannya. Masya Allah betapa menyenangkannya itu. Sayangnya saya punya asma. Jadi suka ragu-ragu kalau mau ke bromo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus atas rekomendasi dokter ya, Mbak? Semoga lekas sembuh. Amin.

      Delete
  8. Bromo.. kapan ya saya akan sampai disana?
    Btw makasih mba Ayu untuk rekomendasi penginapannya lewat RedDoorz :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo tahun ini, Mbak Wiwin. Naik kereta dari Jogja.:)

      Delete
  9. hemm Bromo yg indah dan pengalaman yg lucu (bagi aku, mungkin bagi mba nya dulu gak lucu) .... dan aku tau RedDoorz dari teman Jepang yg menginap disini...dan kuintip kamarnya... ternyata baguuus dgn harga budget... loove bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulunya jengkel, kalo sekarang jadi dan pengen ngakak tiap ingat cerita ini. :)

      Delete
  10. Senangnya bisa mendaki ke Bromo, dan sharing pengalamannya mengena mbak. Selalu mawas diri, dan hati-hati yah dimana pun berada, serta jangan lupa berdoa

    ReplyDelete
  11. Wah..cerita sudah jatuh tertimpa tangganya pasti jadi kenangan ya..ya ampun bayanginnya saja, kok bisa gitu..huhuhu
    Saya pun masih penasaran dengan Bromo. Ke sana 7 tahun lalu, qnak sulung engap enggak kuat dengan bau belerang. Karena dia ada asma. Akhirbya suami gendong si bungsu sampai kawah, saya dan si sulung nunggu di bawah. Saya pun berniat ke sana lagi nanti

    ReplyDelete
  12. Harus diambil pelajaran ya kak,, duhh nyesek pastinya,, akupun klo traveling selalu mngandalkan reddoorz biasanya hotelnya nyaman dan harganya pun pas bnget,, jd kepingin lg k Bromo ini

    ReplyDelete
  13. Jadi kepikiran bakalan nyobain si Red Doorz ini di next trip sama teman-teman. Kebetulan dalam waktu dekat bakalan trip sama teman juga.

    ReplyDelete
  14. Ngeneess banget ya Mbak. Koq ada orang setega itu sih nipu orang lain, huhuhuh. Lihat aja ya ntar, janjinya bakalan ditunaikan ya Mbak.
    Waah. Belum pernah coba Red Doorz ini, kayaknya fasilitasnya oke nih. Bisa utk staycation ataupun hanya jadi persinggahan saat travel. Yg penting mah kamar mandi dan tempat tidurnya itu yg bersih yaahh. Itu udah oke banget deh menurut saya. Karena klo di hotel biasanya cuma buat tidur dan bebersih doang :D

    ReplyDelete
  15. Waduh terlalu itu bapak ya. Memanfaatkan kesusahan orang lain buat dapat uang rokok.

    ReplyDelete
  16. Pengalaman di Bromonya itu mbak, beneran menarik sekali. Dikerjain orang, ngenes tapi lucu juga ya kalau dikenang.

    ReplyDelete
  17. Ya ampun mbak, sedih baca kisah ditipu sama orang yang cuma minta rokok tadi huhu. Beneran sudah jatuh ketimpa tangga pula. Semoga lekas kesampean ke Bromo lagi dengan kondisi yang berbeda. Dan nginep di RedDoorz yeyy amin.

    ReplyDelete
  18. Duh aku jatuh cinta banget sama bromo dan semua area disekitarnya. Pengalam yang gak pernah dilupa ya mba... apalagi ada insiden bayar ganti rugi.

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...