Mataya Flashmob, Ketika Budaya dan Teknologi Informasi saling Bersinergi

sumber: jogja.idntimes.com
Remaja lelaki berkaus merah muda itu melangkah ke tengah Jalan Malioboro yang bebas kendaraan saat uji coba semi pedestrian pada Juni lalu. Ia mengangkat sebelah kakinya, lalu bergerak dinamis mengikuti irama gamelan. Geraknya lincah dan teratur, mengadaptasi ragam gerak kapi atau kera yang disebut tari Beksan Wanara. Penampilannya menyita perhatian banyak orang, termasuk Sultan Hamengkubuwana X yang saat itu juga hadir di Malioboro. Lalu pada menit kesekian, beberapa orang bergabung untuk menari. Jumlah mereka semakin bertambah satu per satu, baik laki-laki maupun perempuan. Sore itu, flashmob unik yang mereka tampilkan berhasil memukau banyak mata. Dan entah berapa banyak lensa kamera yang merekamnya.
Sayangnya, saya melewatkan momen itu. Namun karena video tersebut viral di Twitter, saya pun bisa ikut menikmatinya. Decak kagum tak bisa saya sembunyikan. Bahkan video tersebut saya putar berkali-kali sampai tak terhitung berapa kali. Sejak saat itu pula saya mulai mengenal nama Mataya Flashmob, sekelompok mataya (penari) dari Departemen Seni dan Budaya atau Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Kraton Yogyakarta.

Saat mengetik kata kunci “Mataya Flashmob” di Youtube, hasil penelusuran menyajikan video-video penampilan Mataya Flashmob di berbagai tempat. Tak hanya di Jalan Malioboro dan Titik Nol Kilometer, tetapi juga di mal, FKY, bahkan di Bundara HI, Jakarta. Kolom komentar di video-video tersebut dibanjiri pujian dan apresiasi. Beberapa komentar meminta dibuatkan video tutorial, yang ternyata sudah diunggah di kanal Youtube Kraton Jogja. Video tutorial berdurasi 2 menit 6 detik itu menampilkan RJ. Pulungronggomatoyo selaku koreografer flashmob. Dari video ini pula saya tahu bahwa penari maskot tampil lebih dahulu di area flashmob, sendirian. Pada gerakan yang diulang sebanyak 10x, penari lain atau siapa pun yang ingin bergabung dipersilakan memasuki area flashmob satu per satu.

Berawal dari video yang viral di Twitter, saya mulai mengenal Mataya Flashmob dan tari Beksan Wanara. Sebagai orang yang awam dalam dunia seni tari, hal ini menjadi sesuatu yang baru sekaligus menarik bagi saya dan banyak orang lain tentunya. Tari tradisional yang selama ini ditampilkan dengan kostum tradisional pula, kini ditampilkan dengan kostum kasual yang memberi kesan modern tanpa kehilangan jati dirinya sebagai tari tradisional. Twitter, Youtube, dan media sosial lainnya sebagai bagian dari teknologi informasi membuat Mataya Flashmob semakin dikenal oleh banyak orang, bukan hanya orang Jawa. Bahkan dari komentar-komentar di media sosial, terlihat banyak orang yang tertarik belajar Mataya Flashmob. Orang yang awalnya tidak tahu apa itu tari Beksan Wanara, kini sedikit banyak menjadi tahu, bahkan ingin mempelajarinya.

Hal ini merupakan bentuk sinergi antara budaya dan teknologi informasi. Meskipun terpaut usia yang jauh, namun keduanya mampu bersinergi untuk memperkuat akar budaya lokal. Ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi informasi tidak selamanya menjadi ancaman yang membuat orang-orang melupakan budaya lokalnya. Memang, dengan kemajuan teknologi informasi, generasi muda akan semakin mudah mengakses budaya populer baik dari dalam maupun luar negeri. Modal paket data atau wifi gratisan, kita sudah bisa menikmati para boyband Korea menyanyi sekaligus menari dengan lincahnya. Di tengah gegap gempita tersebut, budaya lokal juga memiliki peluang yang sama untuk eksis, dikenal, dan semakin mengakar di masyarakat, terutama di kalangan anak muda.  
Viralnya Mataya Flashmob beberapa waktu lalu menjadi kabar gembira yang menunjukkan betapa masyarakat sangat antusias terhadap budaya lokal. Bukan hanya mereka yang menyaksikan penampilan Mataya Flashmob secara langsung, tetapi juga mereka yang menontonnya lewat media sosial seperti saya. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, konten-konten kreatif tentang budaya lokal bisa tersebar secara luas dan sangat cepat, sebagaimana Mataya Flashmob yang viral dan membuat orang awam seperti saya setidaknya tahu serta menikmati produk budaya bernama tari Beksan Wanara.

Sebagai pendatang di Yogyakarta, banyak hal yang awalnya tidak saya ketahui tentang kota ini. Baik sejarahnya, budayanya, keseniannya, hingga sebuah garis lurus yang disebut Sumbu Filosofi. Dulu, seorang teman mengatakan bahwa Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak terletak pada satu garis lurus. Namun saya tidak tahu bahwa garis lurus tersebut memiliki filosofi yang mendalam sehingga disebut Sumbu Filosofi.
Maket Sumbu Filosofi (sumber: tembi.net)
Setelah membaca artikel dan berita-berita di media daring, barulah saya tahu bahwa Sumbu Filosofi ini memiliki konsep sangkan paraning dumadi, yaitu sangkaning dumadi untuk sebutan dari Panggung Krapyak ke Kraton, dan paraning dumadi untuk sebutan dari Tugu ke Kraton. Garis dari Panggung Krapyak ke Kraton bermakna perjalanan manusia sejak dilahirkan sampai beranjak dewasa. Kampung Mijen di utara Panggung Krapyak ini melambangkan benih manusia. Sedangkan dari Tugu Pal Putih ke arah selatan melambangkan perjalanan manusia menuju kematian (paraning dumadi).

Dengan membaca konten-konten di internet, saya juga tahu bahwa ternyata, Sumbu Filosofi yang diusulkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia berbeda dengan Sumbu Imajiner antara Laut Selatan, Kraton, dan Gunung Merapi. Sumbu Imajiner melambangkan konsep manunggaling kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya) dan hamemayu hayuning bawono (membuat dunia menjadi indah dan lestari). Laut Selatan dan Kraton melambangkan hubungan manusia dengan alam, sedangkan Kraton dan Gunung Merapi mewakili hubungan manusia dengan Tuhannya.
Tugu Pal Putih, icon kota Yogyakarta (dok. pri)
Saya yakin, saya hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mendapat pengetahuan dari konten-konten di internet tentang Sumbu Filosofi, perbedaannya dengan Sumbu Imajiner, serta Mataya Flashmob dan Beksan Wanara. Di sinilah budaya-budaya lokal tersebut bersinergi dengan teknologi informasi, bukan sekadar untuk hiburan atau pengetahuan. Namun lebih dari itu, untuk menguatkan akar budaya lokal. Dan siapa pun bisa melakukannya, tidak harus menjadi bagian dari pemerintah atau dinas terkait. Manfaatkan teknologi informasi dengan membuat konten-konten tentang budaya lokal agar semakin dikenal.

Dalam Catatan Pinggir, Goenawan Muhammad mengatakan, “Manusia bukan cetakan tunggal mumi Adam di atas bumi yang ditaruh dalam gelas, tanpa sejarah, tanpa keberlanjutan kebudayaan.” Bagaimanapun, manusia yang dibekali dengan rasa, cipta, dan karsa perlu melanjutkan kebudayaan. Dan, dengan teknologi informasi, kita bisa memperkuat akar budaya agar tetap membumi meski telah melampaui lintas generasi. 

Sumber: kwriu.kemdikbud.go.id
              jogjatv.tv
              jogjapolitan.harianjogja.com
              tembi.net

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019.

Share:

0 komentar

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...