A Letter to Shah Jahan

Taj Mahal, 16 Juli 2018

Dear, Shah Jahan

Jika ditanya momen apa saja yang akan selalu kukenang, maka pagi itu adalah salah satunya. Pagi ketika aku terjaga dengan perasaan nyaris tak percaya bahwa aku sedang berada di kotamu; Agra. Aku bersiap dan bergegas untuk sesuatu yang telah lama kutunggu. Pagi itu, seiring mentari yang membagi ultravioletnya, langkahku terasa begitu ringan tanpa beban. Hatiku riang namun berdebar lebih kencang seperti menunggu sebuah pertemuan.

Tepat setelah langkah terakhirku melewati The Great Gate, aku melihatnya. Benar-benar melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri. Bukan lewat gambar atau video. Sejenak aku tercengang menatap takjub sebuah bangunan dari marmer putih yang berdiri anggun di bawah sinar matahari pagi. Kau membangunnya ratusan tahun lalu untuk istrimu dan berhasil mencuri perhatian dunia hingga kini. Taj Mahal menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia.

Aku mengenalmu lewat cerita-cerita, melihat gambar Taj Mahal pertama kali di buku pelajaran IPS saat aku masih duduk di bangku SD bertahun-tahun lalu. Dan hari itu, Kamis 29 Juli 2016, aku takjub menatap bangunan yang kau buat atas nama cinta.

“Your dream comes true...,” ujar dosenku.
“Yes, my childhood dream.” Aku tersenyum.
“Come back here after you get married.”
“I wish it....”

Taj Mahal, 26 Juli 2016
Di bawah Taj Mahal, kau terbaring bersebelahan dengan istri tercintamu. Aku ingat, kala itu ada sepasang merpati bertengger di atas makammu. Apakah mereka mewakilimu serta Mumtaz Mahal untuk menyapaku? Aku menyebut nama kalian berdua dalam rangkaian tawasul. Aku berkirim fatihah sebagai hadiah. Fatihah yang dulu pernah kau ucapkan di hari Jum’at, sembari berurai air mata saat mengenang istrimu yang meninggal lebih dulu. Aku paham rasanya kehilangan. Sangat paham.

Adakah yang lebih nyata dari jejak yang ditinggalkan oleh kehilangan selain duka?

Dear, Shah Jahan....
Aku berharap, kelak aku kembali menziarahi tempat ini bersama seseorang yang menyebutku istri, seperti kau menyebut Mumtaz Mahal. Suatu saat nanti, di sini, akan kuceritakan kepadanya betapa kehilangan telah membuat hari-harimu begitu muram.

Lalu hari berganti minggu, mengakumulasi waktu menjadi bulan, dan bulan kembali berulang. Juli bertemu Juli di tahun depannya, lalu kembali berjumpa dengan Juli di tahun yang berbeda. Dua tahun kemudian, di Juli yang sama, takdir membawaku kembali mengunjungimu.

Hai, Syah Jahan, kita bertemu lagi....

Jika dulu aku memegang student visa, kini aku datang dengan tourist visa. Hanya ini yang berbeda. Selebihnya, perihal status masih sama seperti dua tahun lalu; lajang yang suka jalan-jalan sampai orang-orang sering mengingatkan—walaupun tidak benar-benar peduli—jangan jalan-jalan melulu, nanti lupa kalau masih sendiri. Hehehe....

Maaf, aku tidak datang bersama seseorang yang kepadanya akan kuceritakan kisahmu. Mintakan saja kepada Tuhan agar Dia segera mengirimkannya padaku. Aku harap suatu saat aku bisa mengunjungimu lagi untuk ketiga kalinya, dan bersamanya. Seperti mereka.


Akan kuabadikan setiap momen kebersamaan kami, tak hanya lewat foto, tapi juga video. Ya, aku punya hobi (dibayar) baru sejak dua tahun terakhir ini, yaitu membuat video untuk jurnalisme warga. Aku mengirimkan video-video traveling dan kuliner ke beberapa stasiun TV swasta.


Tapi untuk itu, aku butuh alat yang praktis, canggih, dan cerdas berupa smartphone idaman yang tidak hanya mampu menghasilkan foto-foto bagus dengan mode bokeh, tetapi juga memiliki ruang penyimpanan berkapasitas tinggi. Apalagi Taj Mahal selalu ramai oleh pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. Foto sering kali “bocor” karena banyak orang. Foto bokeh pun juga tidak asal bokeh, namun harus rapi sehingga enak dilihat. Kadang, tepi objeknya pun sedikit terkena bokehnya, padahal idealnya cukup background yang bokeh.

Selain kecerdasan dalam menentukan batas bokeh antara background dan objek, smartphone idaman harus memiliki performa yang tinggi. Menjengkelkan sekali saat sedang menulis caption panjang, tiba-tiba hp nge-lag, harus restart, dan caption yang sudah ditulis jadi hilang. Hiks.... Perpaduan memori yang besar dan performa yang powerful menjadi sebuah keharusan.

Dan, smartphone yang memenuhi kriteria idaman tersebut adalah Huawei Nova 3i . Kenapa layak jadi idaman untuk menemani perjalanan ke Taj Mahal?

Pertama, ada 4 kamera pada Huawei Nova 3i, 2 kamera depan dan 2 kamera belakang. Jika kedua kamera bekerja, gambar yang diahasilkan lebih jernih, detail, dan bokeh. Lebih keren lagi, Huawei Nova 3i ini sudah dilengkapi dengan teknologi AI (artificial inteligent) atau “kecerdasan buatan”. Teknologi ini berfungsi menghasilkan foto bokeh yang rapi sehingga enak dilihat. Oke, sekarang memang banyak kamera smartphone yang dilengkapi mode bokeh. Tapi, tak semua kamera cerdas mendeteksi batas antara objek dan background, sehingga terkadang tepi objeknya pun ikutan bokeh. Nah, dengan tekonologi AI Quad Camera inilah, foto bokeh yang rapi bisa dihasilkan oleh Huawei Nova 3i.

Huawei Nova 3i (source: nurulnoe.com)
Kedua, selain mengabadikan momen lewat foto, aku juga suka mengambil video. Jadi, butuh smartphone dengan ruang penyimpanan yang besar.  Satu spot foto tidak cukup dengan satu gaya, kan? Apalagi jika ternyata jilbab tidak rapi atau angle belum pas, pasti minta foto lagi. Hehehe.... 50GB cukup? Rasanya masih kurang. Makanya, Huawei Nova 3i menyediakan memori sebesar 128GB. Wow... wow... wow!!! Wagelaseh!!! Dengan memori sebesar ini, Huawei Nova 3i sangat sangat layak menjadi smartphone idaman. Selain itu, Huawei Nova 3i juga menjadi smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB.

Ketiga, Huawei Nova 3i dilengkapi dengan teknologi GPU Turbo yang berfungsi meningkatkan kemampuan smartphone saat sedang memproses aplikasi dengan grafis yang instensif, misalnya aplikasi-aplikasi game. Di saat yang bersamaan, teknologi ini juga dapat menghemat daya dan membuat smartphone tidak mudah nge-lag. Cocok banget untuk para gamer. Aku sendiri sebenarnya bukan gamer, tapi dengan teknologi ini, buka banyak aplikasi dalam waktu bersamaan pasti akan lancar-lancar saja dan hemat daya. Performanya benar-benar juara!

Huawei Nova 3i (source: kompas.com)
Keempat, desainnya anggun dan premium, cocok dipakai untuk mengabadikan keindahan Taj Mahal. Dan, sebagai pencinta ungu garis agak keras, Irish Purple pada bodinya yang menampilkan gradasi warna ungu neon dan biru membuatku ingin sekali menggenggamnya.

Dear, Syah Jahan
Terakhir, biar kututup surat ini dengan sebuah harapan;

I wish to see the Taj Mahal for the third time with two things on my hands, a Huawei Nova 3i on one, and his hand on other.   


Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

Share:

11 komentar

  1. Aminn ya Robbal Alamin
    Semga disegerakan harapan untuk ke Taj Mahal lagi dengan sosok yang menyebutk Mbak Ayun sebagai Istri dengan membawa alat tempur Smartphone Huawei Nova 3i nya
    Semangat mbak
    Good Lcuk yah mbak Ayun ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin ya rabbal alamin
      Terima kasih doanya
      Good Luck juga buat kamu. :)

      Delete
  2. Wah, udah 2 kali aja ke Taj Mahal. Aku sekali aja belom. Cantik banget Taj Mahalnya, pasti makin cantik kaalo difoto pakai Huawei Nova 3i.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maunya ada kali ketiga ke Taj Mahal, tapi bareng kekasih halal. hehehe... amin.

      Delete
  3. "I wish to see the Taj Mahal for the third times with two things on my hands, a Huawei Nova 3i on one, and his hand on other."

    Mashoook Shah Jahaan! wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak sabar menggenggam Huawei Nova 3i (dan tangannya).

      Delete
  4. Adakah yang lebih nyata dari jejak yang ditinggalkan oleh kehilangan selain duka? hiks pingin nangis, duka dan rindu kak.

    Kisah cinta shah jahan sangat romantic, selir banyak, istri lain juga ada, tapi hati tetaplah hati..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hati tetaplah hati, yang nggak bisa dibohongi. hehehe

      Delete
  5. aamiin aamiin
    semoga lekas kembali ke India bareng pasangan ya mbaaak...

    ReplyDelete
  6. sebuah kisah yang romantis nih ayun.

    Adakah yang lebih nyata dari jejak yang ditinggalkan oleh kehilangan selain duka?

    ada.. ketika sudah sayang ditinggalin *eh

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...