Demi Merah Putih di Merbabu


Rubrik My Journey, Jawa Pos Traveling, Sabtu 22 Agustus 2015



Setiap tanggal 17 Agustus, gunung akan lebih ramai daripada mall. Tapi, jika menunggu sepinya gunung di hari kemerdekaan, maka sampai pundak rapuh tak kuat menggendong carrier dan kaki tak sanggup lagi mendaki, kita tak akan bisa mengibarkan bendera kebanggaan di atas gunung, tepat di hari kemerdekaan.

Maka sore itu, 16 Agustus 2015, saya dan teman-teman dari komunitas Backpacker Joglosemar memulai pendakian ke Merbabu. Ini pendakian tertinggi saya sejauh ini. Karena sebelumnya, saya hanya pernah mendaki gunung-gunung yang bahkan tingginya tak sampai 2500 Mdpl. Saya masih tergolong newbie dalam hal pendakian, karena lebih sering mengeksplore 0 Mdpl. Tapi, dalam setiap hal, semua orang berawal dari menjadi newbie, bukan?
Dan…, pendakian itu pun dimulai!
Dengan menggendong carrier 60 liter berisi logistik dan perlengkapan pendakian, kaki ini mulai menapaki jalur pendakian via basecamp Selo, Boyolali. Jalur dari basecamp ke Pos 1 masih berupa hutan dan semak-semak dengan medan cenderung datar. Hanya ada beberapa tanjakan yang tak begitu curam. Namun, karena jalur pendakian sangat ramai, setiap pendaki harus antre dan kadang berjalan pelan-pelan. Sesekali saya dan teman-teman juga break untuk makan, minum, dan mengatur napas. Setelah mendaki selama kurang lebih tiga jam, saya sampai di Pos 1. Semakin ke atas, udara malam semakin terasa dingin.
Perjalanan selanjutnya adalah ke Pos 2. Di sinilah tanjakan curam dan membuat deg-degan harus saya lalui. Tanjakan yang tak hanya berbatu, tapi juga penuh debu, licin, dengan kemiringan sekitar 60–70ยบ. Namun saking padatnya pendakian, saya harus kembali mengantre untuk melewati tanjakan itu. Hingga akhirnya tiba giliran saya. Dengan masih menggendong carrier 60 L, sehati-hati mungkin saya melewati tanjakan itu.
 
Itulah salah satu tanjakan yang kami lewati semalam
Ternyata, tanjakan seperti ini tak hanya sekali saya jumpai, namun berkali-kali. Udara dingin, debu yang licin dan membuat batuk, penerangan remang-remang dari senter dan headlamp, serta medan yang menuntut keberanian seolah menjadi setting dramatis dalam momen pendakian kali ini. Dan, di sinilah saya temukan orang-orang yang tak segan mengulurkan tangan dan memberi bantuan kepada orang yang tak dikenal, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan, bahkan tak tahu wajah orang diuluri tangan karena mayoritas mengenakan masker.
Setelah pendakian selama enam jam yang diwarnai dengan adegan nyaris jatuh dan terpeleset, akhirnya saya sampai di Puncak Batu Tulis atau Pos 3. Hamparan tenda berwarna-warni diterpa angin malam yang mengembuskan dingin hingga sum-sum tulang. Debu-debu beterbangan, menyusup ke sela-sela masker dan kacamata yang saya kenakan. Angin bertiup semakin kencang ketika saya dan teman-teman mulai mendirikan tenda. Badai!!! Tuhan, jika Engkau belum berkenan menghentikan angin ini, maka kuatkanlah kami, doa saya dalam hati. Begitu tenda selesai didirikan, saya langsung masuk tenda dan membungkus diri dengan sleeping bag. Sementara di luar, angin semakin menggila.     
  Keesokan harinya, matahari bersinar begitu cerah menyambut hari kemerdekaan. Saya berlari menuju bukit sambil membawa sang merah putih yang masih terlipat rapi. Bersama munculnya matahari di ufuk timur, saya membentangkan sang merah putih. Dirgahayu Indonesiaku!! Dengan berlatar Gunung Merapi dengan Puncak Garuda, merah putih yang saya kibarkan tampak begitu tegar diterpa angin pagi. Teruslah berkibar merah putihku!!! Siapa pun pemimpin negeri ini, merah putih tetap di hati.




                                                                                                 Jogja, Agustus 2015  

Share:

1 komentar

  1. jadi pingin nyanyi...merah putih teruslah kau berkibar...Di Ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini...

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...