Berbagai Rasa, Berbagi Cerita di Gudang Kopi Jogja

“Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Dunia ini sesungguhnya dunia aroma.”
(Dewi Lestari)

Gudang Kopi
Salah satu aroma yang sangat saya syukuri adanya di dunia ini adalah aroma kopi. Sejak kecil, saya telah akrab dengan aroma ini. Mulai aroma bunganya saat mekar, aroma biji-bijinya saat dikuliti, dijemur, di-roasting secara tradisional di atas tungku oleh ibu, hingga tersaji menjadi secangkir kopi hitam yang menemani bapak mengawali hari.

Meski sejak kecil akrab dengan kopi dan aromanya, namun saya bukanlah pecandu kopi seperti bapak yang selalu mengawali aktivitas di pagi hari dengan secangkir kopi. Hanya sesekali saya minum kopi. Bisa dibilang, saya lebih “candu” pada aromanya, bukan pada kopinya. Bagi saya, aroma kopi selalu mampu menetralkan indra penciuman dan membuat rileks.

Seperti sore itu ketika saya membuka pintu masuk Gudang Kopi di ujung tangga menuju lantai dua, aroma kopi yang tajam langsung menyapa. Saya yang baru saja membelah padatnya kendaran di sepanjang Jalan Adi Sucipto, seketika merasa rileks. Aroma kopi yang menguar di udara menetralkan indra penciuman saya dari bau bensin dan segala polusi selama di perjalanan.


Andai tidak sedang puasa, pasti saya langsung memesan kopi. Nyatanya, waktu berbuka puasa masih 2,5 jam lagi yang akan diisi dengan workshop “How to Be a Food Blogger” bersama Mas Andre Maling a.k.a @makankeliling. Acara ini termasuk satu dari sekian banyak acara yang diselenggarakan oleh Gudang Digital di Gudang Kopi.

@makankeliling sedang menyampaikan materi

Berlokasi di Jalan Affandi, Demangan, Gudang Kopi didirikan oleh Pak Hary, pemilik toko kamera Gudang Digital, yang sudah lama berkeinginan memadukan toko kamera dan kedai kopi. Akhirnya, 11 November 2018 lalu Gudang Kopii di-softlaunch. Tak hanya menjadi tempat nongkrong berbagai kalangan (tidak terbatas pada komunitas fotografi), Gudang Kopi juga menjadi memerkan karya-karya foto para fotografer sekaligus tempat berbagi pengetahuan, pengalaman, dan cerita-cerita lainnya, seperti acara sore ini bersama @makankeliling. Sebelumnya saya juga pernah mengikuti acara Arisan Ilmu bersama KEB yang juga bertempat di Gudang Kopi.

Gudang Kopi memang belum lama memulai perjalanannya sebagai salah satu kedai kopi di Jogja. Tetapi, kedai kopi satu ini menawarkan keunikan yang belum tidak dimiliki kedai kopi lainnya. Kopi susu memang biasa, tapi di Gudang Kopi, kita bisa bertualang rasa mencicipi aneka kopi dengan nama dan rasa yang unik. Ada tiga varian kopi susu yang disajikan di Gudang Kopi.

Pertama, es foto kopi atau photo coffee dengan perpaduan yang seimbang antara susu, kopi, dan rasa manis. Kedua papandayan. Pertama kali mencicipinya, saya sempat mengira ini bukan kopi. Pasalnya, rasa yang saya sesap tidak mirip kopi, melainkan es dawet dengan aroma pandan. Karena penasaran, saya pun bertanya kepada barista. Ternyata benar, papandayan ini menggunakan campuran sirup pandan. Selanjutnya adalah es kopi Arjuna. Berbeda dengan es foto kopi dan papandayan, Arjuna menggunakan campuran susu yang lebih tebal. Dari ketiga es kopi ini, favorit saya adalah Arjuna. Manisnya pas dan gurih susunya masih terasa.

es kopi susu

Selain ketiga es kopi tersebut, masih pilihan lain bagi pencinta kopi yang ingin nongkrong di Gudang Kopi. Ada ice black, ice mocha, ice brew local, dan masih banyak lagi. Kopi yang digunakan 100% arabica dari berbagai coffee roastery, baik lokal maupun luar negeri. Kopi-kopi tersebut diseduh oleh barista berprestasi yang pernah meraih juara keenam dalam Indonesia Barista Champion 2019.
Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa minum kopi sama sekali? Tenang saja, meski namanya Gudang Kopi, tapi kedai kopi juga menyajikan berbagai minuman nonkopi. Ada lychee berry tea, tropical tea, black tea, sparkling lesovan, dan lain-lain.

Jika kedai pada umumnya tidak banyak menyajikan makanan berat, tidak demikian dengan Gudang Kopi. Buka mulai jam 07.00, Gudang Kopi bisa menjadi alternatif tempat sarapan sambil nongkrong di hari libur. Pilihan menu beratnya cukup banyak, mulai nasi goreng, mi goreng, lokal bowl, spaghetti, nasi cumi, omurice (nasi dengan ayam katsu, telur dadar, dan saus teriyaki yang creamy).

omurice

nasi goreng Gudang Kopi
Sedangkan signature dish Gudang Kopi adalah nasi goreng. Porsinya cukup besar buat saya. Nasi goreng ini disajikan bersama katsu dan telur dadar yang lembut. Bagi orang Jogja yang identik dengan citarasa manis, nasi goreng ini layak dicoba. Tapi bagi saya yang lahir dan besar di Jawa Timur dengan citarasa asin dan pedas, nasi goreng ini kurang pas di lidah saya. Saya lebih suka menikmati mi goreng yang menurut saya asinnya pas, hanya saja kurang pedas. Mungkin lain kali saya harus request untuk ditambahkan ekstra cabe. Hehe...

Pilihan makanan ringan di Gudang Kopi juga beragam. Ada enoki fries, asin springroll, kentang goreng, amburadul, tahu goreng shihlin, dan lain-lain. Salah satu menu yang saya coba adalah tahu goreng shihlin. Tahu berbentuk bulat dibalut tepung crispy yang tipis, rasanya gurih dan tekstur tahunya lembut. Tak berpikir lama, tahu goreng shihlin ini jadi favorit saya. Harga makanan dan minuman di Gudang Kopi juga cukup terjangkau, berkisar antara 20 ribu hingga 35 ribu rupiah.

tahu goreng shihlin
Dari sekian banyak kedai kopi di Jogja, Gudang Kopi ini layak dijadikan pilihan. Tidak hanya menawarkan beragam kopi dan makanan, tetapi juga ambience yang berbeda. Ada keakraban yang tercipta di sana. Ada cerita yang dibagi bersama setiap tegukan kopi di Gudang Kopi.

Gudang Kopi
Jl. Gejayan no. 6-8, Demangan, Yogyakarta
www.gudangkopi.co.id.id
IG: gudangkopi.id
Open everyday 07.00-23.00



  

Share:

1 komentar

  1. Ada gibah yang dibagi bersama setiap tegukan kopi di Gudang Kopi

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...