Aroma harum jahe, cengkih, dan kapulaga menguar lembut dari secangkir wedang uwuh yang tersaji di meja. Serutan secang yang menjadi salah satu bahannya menciptakan warna merah menyala. Di tengah berbagai kesibukan dan gaya hidup modern yang serbacepat, segelas minuman rempah selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, seolah membawa kita kembali ke pangkuan tradisi untuk merawat tubuh dengan kebaikan murni dari rempah-rempah Nusantara.
Di pelosok Bantul yang tenang, kebaikan rempah disajikan sepenuh hati oleh Sekar Jawi. Selama lebih dari satu dekade, UMKM yang fokus pada produk herbal ini telah bersinergi dengan berbagai pihak untuk menghasilkan produk terbaik dari rempah-rempah pilihan yang tumbuh di bumi Nusantara. Karena bagi Sekar Jawi, rempah-rempah bukan sekadar bahan baku, tetapi juga menyimpan kisah tentang kearifan lokal, ketekunan, dan tekad untuk menjaga kekayaan alam Indonesia agar tetap relevan dari masa ke masa.
Berawal dari Ambisi Seorang Mahasiswi Farmasi
Di balik ribuan produk Sekar Jawi yang terjual setiap bulan, perjalanan panjang Sekar Jawi dimulai dari ambisi seorang perempuan muda. Septi Setiani namanya. Sejak remaja, Septi memiliki ketertarikan pada rempah dan herba. Maka, dengan penuh keyakinan ia memilih Fakultas Farmasi UGM dan menempuh Diploma Dua (D2) Farmasi Jamu pada 2004.
![]() |
| Septi Setiani, founder dan owner Sekar Jawi |
Selama menempuh pendidikan, Septi mempelajari anatomi fisiologi, berbagai macam sediaan, hingga membuat produk dan mengemasnya. Sebagai mahasiswi farmasi jamu, ia bertekad agar ia harus memiliki produk sendiri untuk dipasarkan sebelum lulus. Produk yang pertama ia buat adalah rempah mandi. Ia memilih dan mengolah sendiri bahan-bahan yang digunakan, lalu mengemasnya.
Walau awalnya ragu, Septi nekat menawarkan produk pertamanya ke sebuah toko. Ia mengemas produknya dengan dua kemasan berbeda. Namun, ia justru mendapat cibiran, meski kemudian toko itu menerima produk dengan kemasan yang lebih besar. Segala kritik pedas diterima oleh Septi dengan lapang dada. Dari situ, ia belajar banyak hal dan merawat ambisinya untuk terus menghasilkan produk yang lebih baik.
Membangun Fondasi Legalitas
Sebagai founder sekaligus owner Sekar Jawi, Septi mulai fokus membangun Sekar Jawi setelah resign dari pekerjaannya. Saat itu, tahun 2012, Sekar Jawi memproduksi jamu dan kosmetik herbal untuk dipasarkan lewat toko oleh-oleh. Produk-produk Sekar Jawi mulai menemukan ceruk pasarnya sendiri karena memiliki nilai keunukan yang tidak ditemukan pada produk lain. Namun, sidak BPOM menemukan produk Sekar Jawi belum memiliki legalitas sehingga tidak bisa diedarkan.
Kejadian ini menjadi tamparan keras sekaligus motivasi bagi Septi. Sejak saat itu, ia mulai belajar mengurus legalitas Sekar Jawi dari nol. Ia ikuti segala prosedur administrasi yang rumit, standar yang tinggi, dan perjalanan bolak-balik Jogja-Jakarta yang tidak hanya sekali dua kali.
“Mau ilegal terus, kan, nggak mungkin. Masa saya kuliah di farmasi, tahu itunya (aturannya), produk saya ilegal, kan secara tanggung jawab moral gimana?” kenang Septi saat menceritakan perjalanan legalitas usahanya.
Sembari menunggu legalitas kosmetik dari BPOM, Sekar Jawi meluncurkan produk baru, yakni wedang rempah. Ada wedang uwuh, wedang secang, wedang sere jeruk, dan lain-lain. Setelah memproduksi wedang rempah, Sekar Jawi mengajukan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) sebagai izin edar resmi dan jaminan keamanan bagi produk makanan atau minuman olahan skala rumahan. Untuk melengkapi legalitasnya, Sekar Jawi juga mengajukan izin UMOT (Usaha Mikro Obat Tradisional) sehingga dapat memproduksi dan mengedarkan obat-obatan tradisional secara resmi, seperti param, tapel, pilis, cairan obat luar, dan rajangan. Dengan PIRT dan UMOT, Sekar Jawi memiliki fondasi legalitas yang cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan panjangnya secara resmi.
Tahun 2020, izin dari BPOM akhirnya keluar. Perizinan ini makin memperkuat fondasi legalitas Sekar Jawi. Dengan adanya nomor izin edar resmi dari BPOM, Sekar Jawi bisa memproduksi berbagai jenis kosmetik, misalnya lulur, masker, bedak dingin, dan lain-lain.
Upaya Edukasi dan Merawat Budaya
Dengan legalitas resmi di tangan, Sekar Jawi mulai membuka pintunya lebar-lebar bagi masyarakat luas. Tempat produksi yang tadinya hanya menjadi pusat olah rempah, kini bertransformasi menjadi ruang belajar yang hidup dan inklusif.
![]() |
| Mahasiswa magang dari UNTIDAR dan UNY |
Kini, para siswa dan mahasiswa datang tidak hanya untuk melihat produk jadi, tetapi untuk menyelami proses dari hulu ke hilir. Rombongan sekolah hingga komunitas lokal hadir merasakan pengalaman field trip yang interaktif. Mereka diajak menyentuh langsung wujud asli rempah-rempah Nusantara, mengenali perbedaan temulawak dan kunyit, hingga menghirup harumnya cengkih dan aroma kapulaga yang khas.
“Sekar Jawi tidak cuma business oriented, tapi kita punya misi budaya,” tutur Septi. “Salah satu visi kita adalah ingin mengedukasi dan melestarikan budaya jamu.”
Ruang edukasi ini menjadi salah satu visi Sekar Jawi untuk merawat budaya sehat jamu yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Indonesia. Pasalnya, tanpa adanya transfer pengetahuan kepada generasi penerus, warisan luhur ini berisiko asing di negerinya sendiri. Setiap anak magang yang pulang membawa ilmu baru, setiap peneliti yang menemukan data berharga, dan setiap peserta workshop yang tersenyum saat menyeruput racikan rempahnya adalah benih-benih baru yang akan menjaga nyala tradisi jamu Indonesia tetap hidup di masa depan.
Sinergi: Tumbuh Bersama Ekosistem Pembinaan
Dalam perjalanannya, Sekar Jawi mengalami pasang surut yang jamak terjadi dalam dunia enterpreneur. Pandemi Covid-19 menghantam semua lini kehidupan, termasuk ekonomi. Sebagai UMKM, Sekar Jawi tak lepas dari hantaman badai pandemi yang menerjang dunia secara global.
Meski sempat terseok, tetapi Sekar Jawi tidak berhenti melangkah. Jika selama ini Sekar Jawi mengandalkan pemasaran offline dengan menyuplai toko oleh-oleh, pandemi membuatnya mulai mempertimbangkan pemasaran digital dengan lebih serius. Produk-produk Sekar Jawi mulai masuk marketplace. Ternyata, respons pasar cukup baik sehingga Sekar Jawi terus mengelola pemasaran digital hingga saat ini.
Seiring waktu, Sekar Jawi terus berkembang makin kokoh dengan berbagai produk andalannya. Namun, tidak ada usaha yang dapat berdiri kokoh sendirian. Sekar Jawi tumbuh berkat sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari petani rempah hingga warga sekitar yang turut berperan dalam operasional harian Sekar Jawi.
Salah satu bentuk sinergi yang berkontribusi besar bagi perkembangan Sekar Jawi adalah dukungan pembinaan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) sejak 2025. Melalui pendampingan yang konsisten, YDBA membantu Sekar Jawi menata fondasi manajemen usaha yang dimulai dari penerapan standar 5R di area produksi.
5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) adalah prinsip manajemen tata kelola area kerja yang diadopsi oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dari filosofi manajemen Jepang, yaitu 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Bagi UMKM binaan YDBA, penerapan 5R menjadi fondasi dasar efisiensi, keselamatan kerja, dan pengendalian mutu.
Bukan tanpa alasan YDBA menempatkan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di urutan paling awal dalam pembinaan UMKM. Pasalnya, perubahan mindset (pola pikir) dan budaya kerja tercermin dari area kerja. UMKM yang menerapkan 5R dengan baik akan lebih siap untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional, serta memenuhi standar audit keselamatan dan standar mutu.
Setiap potong rempah yang diolah menjadi produk Sekar Jawi adalah simbol keberhasilan sinergi dengan banyak pihak. Sebuah pengingat bahwa ketika warisan Nusantara dirawat dengan sinergi dan inovasi, UMKM Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga siap melesat maju menyongsong masa depan.
Melangkah Lebih Jauh: Menembus Ritel dan Pasar Luar Negeri
Dari langkah-langkah kecil setiap harinya, Sekar Jawi terus tumbuh menjadi UMKM dengan produk yang tidak hanya memiliki daya saing, tetapi juga menyelipkan value yang unik di tengah gempuran berbagai produk kekinian, baik produk kosmetik maupun minuman.
“Kita punya value, ketika kita pakai natural ingredients, produk kita nggak gampang ditiru. Karena mereka belum tentu punya natural ingredients seperti kita,” ujar Septi percaya diri.
Bahan-bahan alami yang digunakan oleh Sekar Jawi menjadikan produk-produknya memiliki keunikan yang menjadi nilai jual. Terbukti dengan terjualnya ribuan produk setiap bulan. Bahkan produk-produk Sekar Jawi sudah tembus ke ritel modern hingga pasar luar negeri di Malaysia.
Dengan manajemen yang ringkas dan standar mutu yang terjaga, proses produksi menjadi lebih efektif dan daya jangkau pasar kian meluas. Produk-produk berbahan rempah alami ini membuktikan bahwa produk lokal juga mampu bersaing di panggung nasional, bahkan hingga keluar negeri.
Perayaan ke-46 YDBA: Menguatkan Harapan UMKM Indonesia
Perjalanan Sekar Jawi adalah cerminan dari semangat yang diusung dalam Perayaan ke-46 Yayasan Dharma Bhakti Astra. YDBA didirikan pada 2 Mei 1980 oleh pendiri PT Astra International Tbk, William Soeryadjaya. Dengan filosofi utama “Berikan Kail Bukan Ikan”, YDBA mengajarkan kemandirian UMKM, alih-alih sekadar memberi bantuan sesaat.
Melalui program berstandar industri, YDBA membekali para pelaku usaha dengan konsep dasar lewat berbagai pelatihan. Tak sekadar menyampaikan teori di kelas, YDBA melangkah lebih jauh lewat pendampingan intensif secara langsung (one-on-one) di tempat usaha UMKM. Langkah ini memastikan setiap materi pelatihan benar-benar terimplementasi dengan baik dalam operasional harian mereka.
Selama lebih dari empat dekade, YDBA setia mendampingi UMKM di berbagai penjuru Indonesia, membuktikan bahwa sinergi, semangat lintas generasi, dan akselerasi adalah kunci utama menciptakan UMKM yang mandiri dan berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, hadirnya YDBA turut menguatkan harapan UMKM Indonesia untuk terus berbenah, bertumbuh, dan menggerakkan ekonomi Indonesia.
Sumber:
Wawancara dengan Septi Setiyani, founder dan owner Sekar Jawi
.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Post a Comment
Post a Comment
mari berkomentar, mari berbagi sudut pandang. terima kasih.