-->

Bekerja Hingga Kumpul Keluarga, Kipas Angin Jadi Teman Setia




Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, aku memulai hari dengan bangun tidur, beribadah, menyiapkan sarapan, nyuapin dan mandiin anak, ajak anak main, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Saat anak tidur atau sedang diasuh bapaknya, aku menyempatkan diri untuk me-time—baca: kerja. Ya, aku bekerja sebagai penulis dan freelance editor.

Siang yang terik memang bukan waktu ideal bagi pekerja kreatif yang dituntut untuk menemukan ide-ide segar dan membuat karya. Tapi sejak punya anak, siang hari saat anak tidur adalah “kesempatan emas” untuk mencicil pekerjaan agar tidak menumpuk menjelang deadline.

Sebagai ibu sekaligus penulis dan editor, hari-hariku tidak hanya berkutat pada pertanyaan “hari ini masak apa?”, tetapi juga pada “hari ini nulis apa?” Di antara drama toddler dengan segala proyek ajaibnya yang menguras emosi, aku juga harus berkejaran dengan deadline pekerjaan. Capek? Pastinya! Stres? Lumayan.

Namun, aku merasa lebih mudah stres saat cuaca panas. Konsentrasi buyar, ide mampet, apalagi kalau tiba-tiba anak terbangun sebelum dia cukup tidur, lalu rewel karena panas, duh rasanya pengen nenggak es teh jumbo segalon. Belum lagi kala toddler tiga tahun itu ngajak naik sepeda keliling kampung saat cuaca sedang panas-panasnya. Aku menolak tapi dia telanjur kabur dengan balance bike-nya. Mau tidak mau, aku harus menyulusnya di tengah cuaca panas.

Rasanya kesal sekali, apalagi ditambah komentar tetangga, “Kok panas-panas gini anaknya malah diajak main di luar?” Ingin ku jelaskan A-Z tapi aku khawatir makin emosi. Ya sudah, cukup disenyumin aja sambil bilang permisi. Cuaca panas memang tidak hanya berpengaruh pada fisik, tetapi juga psikis. Pernah terpikir nggak kenapa saat cuaca sedang panas-panasnya, bawaannya gampang marah dan senggol bacok?

Ternyata, suhu udara yang tinggi direspons oleh tubuh sebagai “ancaman”. Karena merasa “terancam”, tubuh memproduksi hormon kortisol, yakni hormon stres, yang jauh lebih tinggi. Akibatnya, ketenangan kita terkikis, menyisakan sumbu emosi yang makin pendek. Itulah mengapa, saat cuaca panas, kita jadi lebih mudah tersulut emosi dan marah-marah.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga semua usia, termasuk bayi dan anak-anak. Saat cuaca panas, bayi lebih sering rewel, balita gampang tantrum. Ibunya yang sedang stres kejar deadline pun ikutan tantrum, hehehe .... maaf curcol.

Karena itulah, sejak punya anak, aku makin memperhatikan sirkulasi udara di dalam rumah. Sebab rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Dulu kupikir sirkulasi udara cukup dengan membuka jendela dan pintu, ditambah lubang angin di tembok bagian atas. Namun, angin semilir tidak selalu bertiup. Ada kalanya pohon-pohon di luar itu berdiri kaku, tegak menantang panas tanpa bergerak sedikit pun. Padahal, angin membantu udara bersirkulasi di dalam ruangan.

Tanpa sirkulasi udara yang baik, rumah akan menjadi perangkap bagi polutan, bakteri, dan kelembaban berlebih. Aku sangat memperhatikan sirkulasi udara di rumah, mengingat anakku pernah terkena bronkopneumonia saat usia satu tahun.

Kadang kita tidak menyadari bahwa udara di dalam ruangan bisa jauh lebih kotor daripada udara di luar ruangan. Asap dapur, debu, hingga bulu hewan peliharaan bisa menumpuk jika ruangan terus-menerus tertutup. Sirkulasi yang baik bertugas membuang udara kotor tersebut dan menggantinya dengan oksigen segar dari luar.

Udara yang pengap dan stagnan menjadi sarang empuk bagi tungau debu, bakteri, dan virus untuk berkembang biak. Minimnya aliran udara segar seringkali menjadi pemicu utama gejala alergi, asma yang kambuh, atau batuk pilek.

Di sinilah kipas angin berperan penting. Oleh karena itu, penting juga untuk memilih merek kipas angin yang sudah tepercaya dan teruji kualitasnya. Untuk pilihan kipas angin terbaik, aku mempercayakan pada merek Miyako. Sejak kecil aku sudah familiar dengan merek ini. Ketika dewasa, aku tidak ragu memilih kipas angin Miyako sejak lebih dari 10 tahun lalu untuk menjaga sirkulasi udara dalam ruangan. Dengan menyalakan kipas angin Miyako dalam mode swing (berputar), udara yang mandek akan bergerak dan bersirkulasi. Udara panas yang terjebak di dalam ruangan pun akan keluar. Hasilnya, ruangan terasa lebih sejuk, pikiran lebih adem. 


Saat pikiran lebih tenang, aku jadi lebih leluasa berpikir kreatif, menemukan ide-ide segar, atau sekadar memikirkan menu makan malam. Produktivitas dalam pekerjaan juga meningkat seiring dengan ruangan yang terasa nyaman.

Tak hanya itu, rumah yang adem membuat emosi lebih stabil sehingga aku lebih sabar menghadapi drama toddler yang tiada habisnya. Walaupun belum bisa sesabar Nikita Willy, at least aku pakai kipas angin kesayangan Nikita Willy, yaitu Miyako. Main di rumah bersama anak jadi lebih nyaman dengan sirkulasi udara yang baik berkat kipas angin Miyako.

Saat masih jadi anak kosan, aku juga memilih brand ini. Sekarang, aku sudah jadi ibu anak satu yang nyambi kerja dari rumah. Aku tetap mempercayakan pilihan kipas angin yang awet dan irit pada merek Miyako. Ketangguhan dan durability-nya tidak diragukan lagi.

Sejak anakku bayi hingga usianya tiga tahun lebih, kipas angin Miyako terus menemaninya bertumbuh dan melewati banyak kebersamaan di rumah kami. Di setiap putaran baling-balingnya, kipas angin Miyako tidak hanya meniupkan kesejukan, tetapi juga menghembuskan semangat untuk terus berkarya dan menemani tumbuh kembang buah hati tercinta. 



Ayun
Menulis buku Unforgettable India dan mengedit banyak buku lainnya.
Newest Older

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter