-->

Di Kalimati, Harapan Tak Boleh Mati!

Untitled Image
Cover
Sumber: Instagram @bukuberbagi
Riuh tawa dan teriakan anak-anak berpadu dengan debur ombak Pantai Parangkusumo. Mereka asyik dengan permainan outbond yang dipandu para relawan. Kaki-kaki kecil itu berlarian tanpa beban. Tawa mereka begitu lepas diselingi celoteh lugu khas anak-anak. Namun, di balik itu semua, kebebasan mereka untuk mengenyam pendidikan tak sebebas kaki mereka berlarian di hamparan pasir pantai selatan.
Hanya sebagian dari mereka yang dapat mengakses pendidikan formal. Sebagian lainnya terhalang administrasi. Akta kelahiran salah satunya. Anak-anak itu tidak lahir dan besar di tempat mereka sekarang. Kebanyakan adalah pendatang yang dipaksa oleh keadaan untuk mengais rupiah demi bertahan hidup. Kondisi mereka diperparah oleh pandemi Covid-19 yang memporakporandakan berbagai sektor.
Orang tua anak-anak tersebut bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang tak seberapa. Dari pedagang asongan, tukang parkir, pemulung, hingga … pekerja seks komersial. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kawasan Pantai Parangkusumo juga dikenal sebagai daerah prostitusi di Yogyakarta.
Kalimati, kampung tempat tinggal mereka kini. Sebuah perkampungan di wilayah lokalisasi Parangkusumo. Tentu saja, lokalisasi bukan tempat ideal untuk tumbuh kembang mereka. Ditambah lagi, urusan administrasi yang rumit membuat sebagian dari mereka tidak dapat mengakses pendidikan formal seperti anak-anak lainnya. Kalaupun mereka bisa ikut kegiatan belajar mengajar, statusnya tetap numpang sekolah tanpa bisa ikut ujian karena administrasinya tidak lengkap. Namun, di Kalimati, harapan tak boleh mati!
Seorang Perempuan di Balik Langkah Kecil Perubahan
Untitled Image

Ardha Kesuma dalam forum World Movement for Democration (sumber: Instagram @ardhakesuma)
Namanya Ardha Kesuma, perempuan asli Bantul yang tinggal tak jauh dari kawasan Pantai Parangkusumo. Dari kegemarannya membaca, ia mendirikan Komunitas Buku Berbagi sebagai wadah untuk menuangkan kecintaannya pada dunia literasi. Komunitas ini menerima donasi buku untuk bahan bacaan anak-anak khususnya di kampung Kalimati. Tak hanya buku bacaan, alat tulis atau buku mewarnai juga menjadi donasi yang amat berharga bagi anak-anak yang tidak mampu.
Donatur bisa menyumbangkan buku dengan mengirimkannya lewat ekspedisi JNE untuk Bangkit Bersama demi masa depan anak-anak. Dengan delapan ribu jaringan yang terus bertumbuh di seluruh nusantara, selama 32 tahun, JNE terus menebar manfaat demi kebangkitan Indonesia. Salah satunya dengan menjadi ekspedisi terbaik dalam connecting happiness dari para donatur buku untuk anak-anak yang membutuhkan.

Selama lebih dari tiga dekade, JNE telah menghadirkan banyak kebahagiaan lewat paket-paket yang terkirim dengan baik sampai tujuan. Di antara paket-paket itu, ada tumpukan buku dari para donatur yang kemudian menghadirkan binar kebahagiaan di mata anak-anak yang membacanya.
Bocah-bocah polos itu tidak pernah meminta dilahirkan. Tetapi begitu lahir, mereka "dipaksa" oleh keadaan untuk bertahan dan mengeyam pendidikan "seadanya". Karena itulah, Komunitas Buku Berbagai terus bergerak lewat langkah kecil untuk anak-anak di pesisir Pantai Parangkusumo agar mereka dapat mengakses buku bacaan yang berkualitas.
Berawal dari Komunitas Buku Berbagi, pada 2017 Ardha menginisiasi berdirinya taman baca sederhana di kompleks Garduaction, Pantai Parangkusumo. Garduaction sendiri merupakan akronim dari Garbage Care and Education.
Snapinsta.app_337902477_1257730318487684_3537930877613700194_n_1080.jpg

Sumber: Instagram @bukuberbagi.id
Tempat ini didirikan atas inisiatif para pemuda di sekitar pantai karena banyaknya sampah yang menumpuk. Dengan misi pelestarian lingkuangan, mereka membuat pengelolaan sampah terpadu dan mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah. Bank sampah, display seni instalasi, dan produk kreatif dari daur ulang sampah anorganik adalah beberapa hal yang mereka kelola sejak 2015.
Di Garduaction inilah, Ardha dan relawan lainnya memulai langkah kecil perubahan untuk merangkul anak-anak dari kampung Kalimati. Hadirnya taman baca di Garduaction menjadi secercah cahaya bagi mereka. Melalui Komunitas Buku Berbagi, Ardha menjadi penyambung semangat literasi agar anak-anak setidaknya dapat mengakses buku bacaan, meskipun mereka belum sepenuhnya dapat mengakses pendidikan formal.
Dari taman baca, Ardha kemudian berinisiatif membuat program rutin bernama Sunday Sharing and Caring setiap Minggu sore yang bertempat di Garduaction. Program ini fokus mendampingi anak-anak lewat kegiatan belajar mengajar secara kreatif. Membaca buku cerita, crafting dari daur ulang sampah, permainan outbond, salat berjamaah, dan lain-lain adalah beberapa jenis kegiatan untuk mengisi Sunday Sharing and Caring.
Terbuka pada Relawan dari Berbagai Kalangan
Untitled Image

Usai kegiatan Sunday Sharing and Caring, anak-anak berfoto bersama relawan (sumber: @bukuberbagi.id)
Seiring waktu, Garduaction dan Komunitas Buku Berbagi mulai dikenal. Banyak relawan dari berbagai kalangan datang untuk berbagi pengalaman, berdonasi, serta mendampingi anak-anak pesisir bermain dan belajar. Kebanyakan para relawan dari kalangan mahasiswa kampus-kampus di Yogyakarta.
Tahun 2021 lalu, beberapa mahasiswa dari UPN Veteran Yogyakarta mulai bergabung sebagai relawan dalam rangka Pekan Kreatif Mahasiswa. Ardha mendampingi mereka membuat konsep kegiatan di Garduaction dengan membentuk komunitas baru Lentera Harapan. Komunitas ini terbuka bagi mahasiswa dari berbagai universitas. Kegiatan rutinnya adalah mengisi Sunday Sharing and Caring setiap dua minggu sekali.
Menurut Ardha, hadirnya relawan dari berbagai kalangan sangat membantu program Sunday Sharing and Caring. Selain bertambahnya SDM sebagai relawan, anak-anak juga mendapatkan banyak pengalaman dan hal baru dari para relawan. Setidaknya, pikiran mereka mulai terbuka untuk mengenyam pendidikan tinggi agar harapan mulai tumbuh di hati mereka.
Untitled Image

Ardha saat berdialog dengan Ibu Hetty Perkasa, istri panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dalam kegiatan Sunday Sharing and Caring (Sumber: @bukuberbagi.id)
“Aku sendiri nggak ada basic di dunia pendidikan, dan ini termasuk tantanganku. Jadi, hadirnya relawan sangat membantu. Aku cuma bisa menyajikan pengalaman. Aku belum tahu treatment apa yang paling tepat untuk mereka. Aku hanya melakukan semampuku,” tutur Ardha saat ditanya kendalanya selama ini. “Sekarang sudah lumayan terprogram, ada diskusi dulu sebelum mengajar,” tambahnya.
Sebenarnya, Ardha selaku pendiri Buku Berbagi dan beberapa perwakilan dari Garduaction pernah beberapa kali berdiskusi dengan pihak yang memiliki power dan pemangku kebijakan setempat. Sayangnya, hingga saat ini belum ada solusi nyata. Bahkan, sekadar memberi surat pengantar untuk keperluan administrasi anak-anak, pihak terkait justru saling lempar.
Namun, bukan Ardha Kesuma jika menyerah begitu saja. Ia pernah ngotot agar anak-anak bisa ikut kegiatan belajar mengajar di sekolah formal, bagaimanapun caranya. Setidaknya, mereka bisa “mencicipi” bangku sekolah formal walaupun statusnya bukan sebagai murid resmi yang bisa ikut ujian.
Menghidupkan Harapan Itu Membahagiakan
Untitled Image

Ardha bersama anak-anak dari kampung Kalimati (Sumber: @ardhakesuma)
“Apa yang membuatmu bertahan?” pertanyaan ini membuat Ardha termenung beberapa detik sebelum tersenyum manis memamerkan gigi gingsulnya dan menjawab, “Aku sebenarnya juga nggak ngerti, tapi aku merasa senang menjalaninya. Ini sudah menjadi bagian hidupku sekarang.”
Besar harapan Ardha agar suatu saat anak-anak pesisir itu bisa keluar dari lingkungan prostitusi. Entah ke pesantren, asrama, atau tempat mana pun yang lebih baik bagi tumbuh kembang mereka. Ardha menyadari ia belum mampu mewujudkan hal itu. Ia pun realistis dan berusaha untuk melakukan apa yang ia bisa saat ini. Ia terus berproses mendampingi mereka meski progresnya kecil. A little progress is still a progress.
Saat banyak perempuan muda lainnya memilih mengejar karier, merantau di ibu kota, bekerja di perusahaan multinasional, atau melanjutkan kuliah di luar negeri, Ardha justru memilih bertahan di dunianya. Bergerak di akar rumput dan menyentuh lapisan paling bawah. Tanpa banyak berteori, ia mengedapankan aksi nyata untuk anak-anak yang terpinggirkan. Dengan melakukan langkah kecil ini, jiwa sosialnya terasa penuh, meski banyak harapan yang belum terwujud.
Bersama Komunitas Buku Berbagai dan Garduaction, Ardha terus berproses dan mengabdi. Ia membaca, menulis buku, berbagi, dan terus menghidupkan harapan di Kalimati.

Ardha Kesuma, perempuan kelahiran Bantul, 15 Agustus 1992 ini memang tidak punya ratusan ribu follower di Instagram. Ia bukan public figure atau selebgram. Ia perempuan sederhana yang memulai langkah kecil yang nyata. Dan yang pasti, ia menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk bangkit bersama.

#JNE32tahun #JNEBangkitBersama #jnecontentcompetition2023 #ConnectingHappiness
Ayun
Menulis buku Unforgettable India dan mengedit banyak buku lainnya.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter