Cinderela di Kereta Prameks (Malang; Pre Departure)

image source: youtube.com

        Jam digital di ponselku menunjukkan angka 19.15 WIB ketika aku turun dari boncengan motor teman kos yang mengantarku ke Stasiun Lempuyangan. Aku buru-buru menuju loket penjualan tiket KA lokal, memesan tiket Sri Wedari yang berangkat jam 19.30. Tapi..., jawaban mbak cs-nya membuatku lemas, “Habis, Mbak. Tinggal Prameks jam sepuluh.”
        Tanpa pikir panjang, aku langsung memesan tiket Prameks karena tak punya pilihan lain. Jika berangkat jam sepuluh, kira-kira jam sebelas aku sampai di Solo dan masih ada waktu satu jam untuk menunggu Matarmaja yang akan membawaku ke Malang, begitu pikirku. Dengan selembar tiket Prameks di tangan, aku terduduk lesu di lantai stasiun sambil menggendong ransel. Masih jam setengah delapan, berarti dua jam setengah lagi kereta baru berangkat. Ah, pasti bosan menunggu sendirian di sini.
         Aha! Aku ingat, teman-teman Backpacker Joglosemar katanya mau ngumpul malam ini. Segera saja aku ceritakan perjalananku ke Solo yang terpaksa delay sampai jam sepuluh nanti malam. Dan..., tak butuh waktu lama, salah satu dari mereka menjemputku di stasiun. Untung lokasi nongkrong mereka tak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Sesampainya di Lee Warunk, di sana sudah ada Eva dan Mas Risank. Kami pun bergabung. Ngobrol ngalor ngidul sambil makan menu angkringan. Tak lama setelah itu, Mas Hanung menyusul dan bergabung. Total ada lima orang yang malam itu nongkrong di Lee Warunk, sampai akhirnya kami beranjak saat jam menunjukkan pukul 21.30 karena aku harus segera kembali ke Stasiun Lempuyangan. Mereka bersama-sama mengantarku hingga Stasiun Lempuyangan, berpamitan, melepasku seolah aku akan pergi lama. Hahaha.... Thank you, Guys.
         Tepat jam sepuluh malam, aku sudah duduk manis di dalam kereta Prameks. Dan..., kereta pun melaju pelan-pelan. Kusandarkan punggungku di kursi panjang sambil memangku ransel. Ayo..., cepetan, Pak Masinis, batinku. Tapi, harapanku untuk segera sampai di Solo ternyata masih jauh panggang dari api. Kereta yang kutumpangi ini justru berhenti sangat lama di Stasiun Tugu. Berkali-kali kulihat jam digital di ponselku dengan harap-harap cemas. Bagaimana tidak, kereta Matarmaja yang akan membawaku ke Malang berangkat jam 00.05, sementara hingga pukul 22.30 aku masih di Stasiun Tugu. Setelah berhenti sekitar setengah jam, akhirnya Prameks ini pun melaju lagi, meski sangat lambat. Entah memang kereta ini yang lajunya lambat atau hanya perasaanku yang begitu ingin segera sampai di Solo. Entahlah, yang pasti, aku tak berani mengecek jam di ponselku.
          Sepanjang perjalanan aku tak henti merapal doa dengan mata terpejam dan punggung bersandar, agar ketika kubuka mata, aku sudah sampai di Stasiun Purwosari. Antara cemas, deg-degan, dan kasihan pada temanku yang sudah menunggu di Stasiun Purwosari, semua bercampur jadi satu. Seperti Cinderela yang cemas menunggu jam dua belas malam, aku pun begitu. Bedanya, jika Cinderela khawatir berubah ke wujud asli, aku khawatir ketinggalan kereta. Bahkan, saking khawatirnya, aku masih enggan melihat jam di ponselku. Namun, pada akhirnya, kuraih juga ponsel di saku jaketku. Ada beberapa panggilan dari teman-teman di Solo. Aku semakin cemas karena kereta belum juga sampai di Stasiun Purwosari, padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Tak berapa lama, kereta sampai di Stasiun Purwosari bersamaan dengan temanku yang memberi tahu agar aku turun di Stasiun Balapan karena lebih dekat ke Stasiun Solojebres yang dilalui oleh Matarmaja.
        Saat itu, aku masih merasa menjadi Cinderela yang cemas menunggu jam dua belas malam. Untunglah jarak antara Stasiun Purwosari dan Solo Balapan tidak terlalu jauh. Akhirnya, tepat jam 23.45, kereta berhenti di Stasiun Solo Balapan. Sudah lega? Tentu saja belum, karena aku masih harus pergi ke Stasiun Solojebres. Setengah berlari aku keluar dari stasiun, menghampiri teman-teman yang sudah menunggu sejak tadi. Sudah ada Belbi Retno (travelmate selama di Malang), Ika, Mas Ariy, dan Mas Jack a.k.a Pak Lurah yang menunggu di atas motor. Tanpa basa-basi lagi, kami segera meluncur ke Stasiun Solojebres, mengejar menit-menit terakhir dengan harapan masih bisa duduk manis di dalam gerbong Matarmaja. Menjelang tengah malam, jalanan kota Solo sudah cukup lengang, membuat kami leluasa memacu motor dengan kecepatan yang lumayan. Dan..., tepat jam 23.55, akhirnya aku sudah berdiri di antrean pintu masuk stasiun. Sesampainya di ruang tunggu, kusandarkan punggungku di kursi seraya bernapas lega. Tak lama setelah itu, terdengar pengumuman bahwa kereta api Matarmaja tujuan Malang Kotabaru terlambat 30 menit.
        Oh, Tuhan! Malam yang penuh drama ala Cinderela ini ternyata ditutup dengan keterlambatan.

                                                                       Yogyakarta, Solo, Malang, 19 Februari 2015

Tags:

Share:

1 komentar

  1. hihihi,,,,aku yo pingin ngikik selalu ada hikmah di balik sisa-sisa tenaga ya

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...