Gaya Hidup Sehat untuk Perjalanan yang Menyenangkan

Tepat 17 Agustus 2015, saya dan beberapa teman mendaki Gunung Merbabu. Medan yang penuh tanjakan dan licin oleh debu karena lama tak terguyur hujan membuat para pendaki harus ekstra hati-hati dan sabar. Sekembalinya dari pendakian, baru terasa kaki pegal-pegal. Keesokan harinya, pegal-pegal di kaki memang belum sepenuhnya hilang, tapi badan sudah bugar dan siap beraktivitas lagi. Jam 07.30 saya masuk kantor. Sementara, teman saya memilih izin untuk memperpanjang istirahat karena masih kecapekan.
Di Pos 3 Gunung Merbabu (dok.pri)
Di lain waktu, saya sedang menjalankan puasa Ramadhan dan harus mengikuti study tour ke Golconda Fort. Benteng bersejarah ini terletak di atas bukit sehingga wisatawan harus mendaki hingga puncak benteng. Waktu puasa yang 1,5 jam lebih lama dibanding Indonesia tidak menghalangi saya. Dengan lincah tanpa terlalu lelah, saya kuat mendaki meski sedang berpuasa dan sinar matahari sangat terik kala itu.

Padahal, jika kembali ke awal tahun 2014 serta tahun-tahun sebelumnya, saya merupakan orang yang kecanduan kerokan. Kehujanan sedikit, langsung meriang. Kehujanan banyak, langsung kerokan. Dalam satu bulan, bisa 3-4 kali saya minta dikeroki. Kecapekan sedikit langsung manggil tukang pijit. Keseringan jalan-jalan langsung tumbang.


Bumi Tuhan itu luas, dan saya ingin melihatnya. Saya tidak ingin di masa depan kelak, saat saya sudah memiliki waktu dan materi lebih banyak untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh, saya justru terhalang kondisi fisik.
Pagi di Taj Mahal (dok.pri)
Sedih pastinya jika punya uang, punya waktu, tapi tak punya tenaga. Kalau tidak punya uang tapi masih punya tenaga, tentu kita masih kuat mencari uang. Karenanya, menjaga kesehatan adalah investasi untuk masa depan. Hidup dan mati memang di tangan Tuhan. Tapi, menikmati hidup dengan badan yang sehat adalah tugas kita untuk mengusahakan.

Sekarang, saya sangat bersyukur karena semua keluhan kesehatan tinggal kenangan. Luar biasa, “keajaiban” buah dan sayur membawa perubahan yang sangat berarti bagi kesehatan saya.

Yuk, simak tips berikut:

1. Mengawali Hari dengan Segelas Jeruk Nipis Hangat
sumber gambar:isigood.com
Setiap bangun tidur sebelum sikat gigi, saya langsung minum segelas jeruk nipis peras (jeniper) hangat. Jadi, selama kita tidur, lever bekerja keras menyaring racun-racun yang masuk ke dalam tubuh. Nah, minum jeniper setiap pagi merupakan tonik bagi lever setelah bekerja keras semalam.

2. Sarapan Buah

Jeruk, sumber vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubu. (dok.pri)
 Di antara aroma kopi yang menguar setiap pagi di kantor, saya memilih meneguk jus buah murni atau mengunyah buah-buahan potong. Tentu bukan tanpa alasan saya memilih buah sebagai menu sarapan pagi. Di waktu pagi, tubuh memasuki fase pembuangan, baik lewat BAB, BAK, pori-pori (keringat), dan napas. Proses pembuangan ini menyita banyak sekali energi tubuh. Agar energi tubuh fokus pada proses pembuangan, bukan untuk mencerna makanan berat, sebaiknya kita sarapan makanan yang mudah dicerna. Buah adalah pilihan terbaik, karena selain ringan di pencernaan, fruktosa buah juga cepat memberi energi untuk beraktivitas. Mau apel, jeruk, pisang, nanas, atau buah lain, pilih yang matang sempurna.

Satu lagi, dan ini sering menjadi salah kaprah di masyarakat, yaitu makan buah sebagai pencuci mulut setelah makan besar. Buah itu cepat sekali dicerna, hanya sekitar 15-30 menit. Sedangkan makanan lain, misalnya nasi, apalagi daging, membutuhkan waktu yang lebih lama, sekitar 2–5 jam. Mengonsumsi buah setelah makan nasi justru membuat makanan tersebut difermentasi oleh fruktosa buah sehingga makanan yang belum selesai dicerna sudah “busuk” duluan. Paling tidak, beri jeda 15-30 menit setelah makan buah jika ingin makan makanan lain.

3. Perbanyak Makan Sayur Segar
Sayur segar yang dimaksud di sini adalah sayur mentah alias raw atau lalapan. Kenapa harus mentah? Menurut Dokter Tan Shot Yen dalam bukunya, Sehat Sejati yang Kodrati, jika kita mengonsumsi makanan mentah langsung dari alam seperti sayur segar dan buah, makanan ini masih kaya akan enzim yang akan memecah dirinya sendiri (self-digesting).

Aneka sayuran segar (dok.pri)
Senada dengan Dokter Tan, Dokter Hiromi Shinya, seorang spesialis gastrointestinal (pemeriksaan medis yang berkaitan dengan usus), menjelaskan dalam bukunya, The Miracle of Enzyme, bahwa sayuran mentah sangat baik bagi kesehatan karena kandungan enzimnya yang masih tinggi. Enzim akan rusak oleh proses pemasakan. Bukan berarti kita tidak boleh makan capcay atau sayur tumis, tetapi tubuh kita butuh enzim yang tidak bisa dipenuhi oleh capcay atau sayuran lain yang telah dimasak.

Ada beragam jenis dressing atau cocolan untuk teman makan lalapan. Mulai dressing ala western, middle east, sampai dressing lokal seperti sambal pecel, sambal terasi, atau sambal matah, semua bisa jadi pilihan.

4. Setop/Kurangi Makanan atau Minuman yang Mengandung Pengawet
Selain memperbanyak konsumsi sayur dan buah, makanan berpengawet juga harus dihindari. Jika belum bisa menghindarinya secara total, paling tidak, kurangi konsumsi makanan berpengawet. Makan makanan berpengawet memang tidak serta-merta membuat kita sakit, tapi dalam jangka waktu lama, tubuh tidak akan bohong.
   
5. Penuhi Kebutuhan Air Putih
Tubuh punya hak untuk dipenuhi kebutuhannya akan air putih sebanyak 2,5 liter atau 8 gelas sehari. Ketimbang cairan lainnya, seperti kopi, soda, sirop, atau minuman berenergi, air putih tidak membuat ginjal bekerja keras untuk menyaringnya. Cek air kencingmu, jika berwarna kekuningan, artinya tubuh sedang kekurangan cairan. Jika kebutuhan air tecukupi, air kencing akan berwarna bening.
 
6. Istirahat dan Olahraga Cukup      
Kedua hal ini kadang sering diabaikan. Begadang menjadi bagian dari gaya hidup. Ditambah malas olahraga, lengkap sudah. Istirahat yang cukup itu bukan sekadar rebahan di kasur tapi sambil nonton Youtube atau buka media sosial di gawai, lo. Bagaimana dengan olahraga? Olahraga ringan bisa kita lakukan di rumah, misalnya yoga, plank, atau pilates.

Itulah tips mudah untuk hidup sehat yang selama ini saya lakukan. Indonesia dengan index kesehatan 0,782 (berdasarkan data Human Development Report Office tahun 2013) masih berada di level medium human development. Artinya, kita masih memerlukan ajakan mari sembuhkan Indonesia. Untuk sembuh, obat saja tidak cukup, tapi juga diperlukan gaya hidup sehat. Dokter Hiromi Shinya yang sudah berpengalaman selama 40 tahun melihat bahwa 90% dari segala penyakit diakibatkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan gaya hidup.

Jus buah naga dengan taburan chia seeds (dok.pri)
Tuhan memang menciptakan tubuh manusia dengan sistem imun untuk melawan infeksi. Namun jika tidak dirawat, lama-kelamaan sistem akan melemah, misalnya sering batuk, pilek, pusing, mudah lelah, dan lain-lain. Melalui gejala-gejala itu, tubuh membunyikan “alarm” bahwa ada sesuatu yang salah. Sayangnya, kebanyakan orang justru “mematikan alarm” tersebut dengan minum obat tanpa mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup sehat. Ada yang bilang, jika makananmu tidak bisa menjadi obat, makan obat yang akan menjadi makananmu. Pilih mana?

Share:

3 komentar

  1. Aku suka heran sama Mbak Ayun, masih dan akan selalu betah menjadi vegan. Apalagi makan buah sebelum makan.
    Aku juga sering dengar yang benar itu makan buah dahulu baru makan beratnya. Haha... tapi dasar mindset ya... kalau gak makan nasi, ya ga boleh makan buah dulu. Entar kenyang duluan nasinya ga kemakan haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Vind, aku bukan vegan lo. Mana ada vegan yg masih makan telur, keju, bahkan trasi. Hahaha...

      Dimulai aja makan buah dulu, jangan banyak-banyak biar gak kekenyangan, jadi masih ada tempat buat nasi. Lagian buah itu cepet banget dicerna, jadi kita akan cepet lapar lagi terus baru makan nasi.

      Delete
  2. Wah informatif sekali artikelnya, terimakasih atas sharingnya

    ReplyDelete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...