Kesehatan Bagus, Traveling Jalan Terus


Pos 3 Merbabu (dok. pri)
Tepat 17 Agustus 2015, saya dan beberapa teman mendaki Gunung Merbabu. Medan yang penuh tanjakan dan licin oleh debu karena lama tak terguyur hujan membuat para pendaki harus ekstra hati-hati dan sabar. Sekembalinya dari pendakian, baru terasa kaki pegal-pegal. Lelah yang luar biasa. Jam sembilan malam saya sampai di kos, langsung mandi dan istirahat. Keesokan harinya, pegal-pegal di kaki memang belum sepenuhnya hilang, tapi badan sudah bugar dan siap beraktivitas lagi. Jam 07.30 saya masuk kantor. Sementara, teman saya memilih izin untuk memperpanjang istirahat karena masih kecapekan.

Di lain waktu, tepatnya bulan Juni 2016, sebuah program membawa saya ke India. Salah satu kewajiban dalam program tersebut adalah megikuti study tour ke tempat-tempat bersejarah di India. Saat itu, saya sedang menjalankan puasa Ramadhan dan tetap mengikuti study tour ke Golconda Fort. Benteng bersejarah ini terletak di atas bukit sehingga wisatawan harus mendaki hingga puncak benteng. Waktu puasa yang 1,5 jam lebih lama dibanding Indonesia tidak menghalangi saya. Dengan lincah tanpa terlalu lelah, saya kuat mendaki meski sedang berpuasa dan cuaca sangat terik kala itu.

Berbeda dengan perjalanan di India yang begitu terik, saat menjadi relawan di sebuah sekolah di kaki Gunung Slamet, sepanjang perjalanan pulang saya diguyur hujan lebat. Capek dan kedinginan menyerang badan. Sampai di kota Tegal, saya menyeruput wedang jahe hangat dan segera makan malam, lalu istirahat. Keesokan harinya, saya kembali bugar tanpa harus minum obat masuk angin atau kerokan.

Padahal, jika kembali ke awal tahun 2014 serta tahun-tahun sebelumnya, saya merupakan orang yang kecanduan kerokan. Tubuh juga “manja”. Kehujanan sedikit, langsung meriang. Kehujanan banyak, langsung kerokan. Dalam satu bulan, bisa 3-4 kali saya minta dikeroki. Kecapekan sedikit langsung manggil tukang pijit. Keseringan jalan-jalan langsung tumbang.

Begitulah, semangat untuk melihat dunia yang lebih luas kadang terhalang oleh kesehatan. Memang bukan sakit parah—alhamdulillah, tapi hal-hal semacam itu cukup mengacaukan perjalanan. Maunya senang-senang dan liburan, eh malah meriang karena kehujanan. Kadang, jalan-jalannya cuma 2 hari, tapi lelahnya sampai berhari-hari.

Saya capek dengan kondisi seperti itu!

Sarapan buah di puncak Gunung Andong (dok.pri)
Sampai akhirnya, saya sangat bersyukur hari ini karena semua keluhan tinggal kenangan. Sekarang, saya tidak perlu lagi nyetok tablet vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Saya juga tidak lagi rutin membeli minyak kayu putih untuk kerokan. Dalam rentang waktu 3 tahun, hanya 2 kali saya kerokan. Bagi saya, ini prestasi yang luar biasa!

Mungkn kamu bertanya, “Bagaimana bisa, orang yang dulu kehujanan saja langsung meriang kok sekarang cuma 2 kali kerokan dalam 3 tahun?” Ingat ya, 3 tahun, bukan 3 bulan.
Jawabannya sangat sederhana dan bahkan klise. Saya menjadi lebih sehat karena “keajaiban” buah dan sayur.

Dalam perjalanan pulang dari Guci, mampir membeli sayur dan buah. (dok. pri)
Kamu juga suka makan buah dan sayur tapi masih sering sakit?
Mari koreksi, mungkin caranya salah. Saya memang banyak makn buah dan sayur, tetapi bukan tanpa aturan. Aduh ribet banget, makan aja mesti diatur, komentar sebagian orang. Tapi ingat, usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Yuk, simak tips sehat berikut:

1. Mengawali Hari dengan Segelas Jeruk Nipis Hangat

sumber: isigood.com

Bangun tidur kuterus mandi, penggalan lirik lagu yang saya hafal sejak kecil. Tapi sekarang, setiap bangun tidur saya langsung minum segelas jeruk nipis peras (jeniper) hangat. Jadi, selama kita tidur, lever bekerja keras menyaring racun-racun yang masuk ke dalam tubuh. Nah, minum jeniper setiap pagi merupakan tonik bagi lever setelah bekerja keras semalam. Jeruk nipis kan asam, bagaimana dengan penderita sakit mag? Hihihiii..., jeruk nipis memang rasanya asam, tapi sesuatu yang terasa asam belum tentu ber-PH asam sehingga meningkatkan asam lambung. Jeniper tetap aman kok dikonsumsi oleh penderita sakit mag, bahkan GERD sekalipun.

2. Sarapan Buah

jeruk peras (dok.pri)
Setiap pagi, aroma kopi di kantor selalu menguar ke setiap sudut ruang. Tiga tahun lalu, saya termasuk salah satu penyumbang aroma kopi tersebut dari secangkir kopi pagi saya. Tapi sekarang, meneguk jus buah murni atau mengunyah buah-buahan menjadi kebiasaan rutin. Tentu bukan tanpa alasan saya memilih buah sebagai menu sarapan pagi. Di waktu pagi, tubuh memasuki fase pembuangan, baik lewat BAB, BAK, maupun lewat pori-pori (keringat) dan napas. Proses pembuangan ini menyita banyak sekali energi tubuh. Agar energi tubuh fokus pada proses pembuangan, sebaiknya kita sarapan makanan yang ringan atau mudah dicerna. Buah adalah pilihan terbaik, karena selain ringan di pencernaan, fruktosa buah juga sanggup memberi energi untuk beraktivitas.

Ada yang sering mengantuk setelah sarapan nasi goreng, bubur ayam, soto, atau sandwich? Pasti banyak, kan? Wajar, karena makanan-makanan tersebut termasuk makanan yang proses pencernaannya lama, sehingga tubuh butuh energi lebih. Padahal, di waktu bersamaan, tubuh juga memerlukan energi untuk proses pembuangan yang berlangsung di pagi hari. Sarapan buah membuat kita tetap segar dan tidak mengantuk.

memetik apel Malang (dok.pri)

Pilih buah lokal yang matang sempurna. Pilih juga buah yang sedang musim, karena selain masih segar, harganya tentu juga lebih murah.

Satu lagi, dan ini sering menjadi salah kaprah di masyarakat, yaitu makan buah sebagai pencuci mulut setelah makan besar. Buah itu cepat sekali dicerna, hanya sekitar 15-30 menit. Sedangkan makanan lain, misalnya nasi, daging, roti, membutuhkan waktu yang lebih lama, sekitar 2–5 jam. Mengonsumsi buah setelah makan nasi atau makanan lain justru membuat makanan tersebut difermentasi oleh fruktosa buah. Alhasil, makanan yang belum selesai dicerna sudah “busuk” duluan di dalam perut. Sayang banget, kan? Paling tidak, beri jeda 30 menit setelah makan buah jika ingin makan makanan lain.
 
3. Perbanyak Makan Sayur Segar

Sayur segar yang dimaksud di sini adalah sayur mentah alias raw. Kenapa harus mentah? Menurut Dokter Tan Shot Yen dalam bukunya, Sehat Sejati yang Kodrati, jika kita mengonsumsi makanan mentah langsung dari alam seperti sayur segar dan buah, makanan ini masih kaya akan enzim yang akan memecah dirinya sendiri (self-digesting). Senada dengan Dokter Tan, Dokter Hiromi Shinya, seorang spesialis gastrointestinal (pemeriksaan medis yang berkaitan dengan usus), menjelaskan dalam bukunya, The Miracle of Enzyme, bahwa sayuran mentah sangat baik bagi kesehatan karenakan kandungan enzimnya yang masih tinggi. Enzim akan rusak oleh proses pemasakan.

aneka sayuran (dok.pri)
Makan sayur mentah? Mana enak!

Tergantung cara makannya, dong. Ada beragam jenis dressing atau cocolan untuk teman makan lalapan atau salad. Mulai dressing ala western, middle east, sampai dressing lokal seperti sambal pecel atau sambal trasi, semua bisa jadi pilihan. Timun, selada, kubis, kemangi, tauge, tomat, dan masih banyak lagi sayur-sayuran yang enak dimakan mentah. Di negeri tropis seperti Indonesia, buah dan sayuran sangat melimpah.

4. Setop/Kurangi Makanan atau Minuman Pabrikan

Selain memperbanyak konsumsi sayur dan buah, makanan pabrikan atau kemasan juga harus dikurangi, atau bahkan disetop. Coba lihat stok camilan di kulkasmu, berapa banyak olahan pabrik yang tersimpan di sana? Makan makanan pabrikan memang tidak serta-merta membuat kita sakit, tapi dalam jangka waktu lama, tubuh tidak akan bohong.
   
5. Penuhi Kebutuhan Air Putih

sumber: gospelherald.com
Tubuh punya hak untuk dipenuhi kebutuhannya akan air putih sebanyak 2,5 liter atau 8 gelas sehari. Coba hitung, hari ini kamu sudah minum berapa gelas air putih? Ketimbang cairan lainnya, seperti kopi, soda, sirup, atau minuman berenergi, air putih tidak membuat ginjal bekerja keras untuk menyaringnya. Cek air kencingmu, jika berwarna kekuningan, artinya tubuh sedang kekurangan cairan. Jika kebutuhan air tecukupi, air kencing akan berwarna bening.
 
6. Istirahat dan Olahraga Cukup        

Kedua hal ini kadang sering diabaikan. Begadang menjadi bagian dari gaya hidup. Ditambah malas olahraga, lengkap sudah. Istirahat yang cukup itu bukan sekadar rebahan di kasur tapi sambil nonton Youtube atau buka media sosial di gawai, lo. Istirahat yang dimaksud di sini adalah tidur. Karena saat tidur, tubuh kembali meregenerasi sel-sel yang rusak. Metabolisme juga berlangsung saat kita tidur.
Bagaimana dengan olahraga? Olahraga ringan bisa kita lakukan di rumah, misalnya yoga, plank, atau pilates. Jalan kaki keliling kompleks atau bersepeda juga menjadi pilihan mudah untuk tetap bugar dengan berolahraga.

Nah, itulah tips-tips sehat yang selama ini saya lakukan agar tetap bugar dan kuat bawa carrier berliter-liter dengan medan penuh tanjakan. Mau liburan di tengah kota, tepi pantai, atau bahkan puncak gunung sekalipun, buah tetap menjadi menu sarapan saya. Sayur segar juga tak lupa saya bawa karena di gunung pasti tidak ada tukang sayur keliling. Hehehe....

sarapan buah di Pos 3 Merbabu dok. pri
Dokter Hiromi Shinya yang sudah berpengalaman selama 40 tahun melihat bahwa 90% dari segala penyakit diakibatkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan gaya hidup, apalagi bagi manusia modern saat ini. Untuk memulai diet sehat dan menikmati makanan sehat, ada banyak cara, tidak harus menjadi vegetarian atau frutarian.

Ada diet keto, diet mayo, vegan, vegetarian, food combining, dan masih banyak pola makan lain dengan menu diet yang beragam seperti yang ditawarkan oleh www.gorrygourmet.com yang juga menyediakan layanan catering diet Jakarta dan catering sehat Jakarta. Tetapi, menurunkan berat badan sering kali menjadi tujuan utama seseorang mengubah pola makan. Tidak salah, sebenarnya. Namun, kurus atau gemuk bukan satu-satunya tolak ukur kesehatan seseorang, kok.

Saya sendiri memilih makanan berbasis sayur dan buah bukan untuk menurunkan berat badan, wong saya sudah kurus. Saya hanya ingin menjaga kesehatan, salah satunya agar semakin banyak perjalanan yang bisa saya nikmati tanpa harus meriang hanya karena kehujanan atau kerokan di kamar penginapan saat liburan. Ada yang bilang, jika makananmu tidak bisa menjadi obat, makan obat yang akan menjadi makananmu. Hayoo... pilih mana?

di Taj Mahal (dok.pri)

Bumi Tuhan itu luas, dan saya ingin melihatnya. Kalaupun tidak sekarang, semoga suatu saat nanti. Saya tidak ingin di masa depan kelak, saat saya sudah memiliki waktu dan materi lebih banyak untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh, saya justru terhalang kondisi fisik yang tidak lagi kuat. Sedih pastinya jika punya uang, punya waktu, tapi tak punya tenaga untuk melakukan sesuatu. Kalau tidak punya uang tapi masih punya tenaga, tentu kita masih kuat mencari uang. Karenanya, menjaga kesehatan adalah investasi untuk masa depan. Hidup dan mati memang di tangan Tuhan. Tapi, menikmati hidup dengan badan yang sehat adalah tugas kita untuk mengusahakan.


Share:

2 komentar

  1. Makanan yang di ada di gorrygourmet walaupun kelihanya seperti berlemak, tapi takarannya pas, jadi gak bikin gemuk bagi yang memakanya. Kangamir dot kom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas, tulisan saya bukan tentang menu-menu di Gorrygourmet, lo. Kok gak nyambung komennya. Wkwkwk...
      Di blog-blog lain komennya kayak gini juga, ya. Satu komen untuk semua blog. Hehehe

      Delete

meninggalkan komentar lebih daripada meninggalkan pacar. hehehe...