Sebuah “Kejutan” Menjelang Pulang

Rencana: datang lebih awal, duduk manis di kafe atau restoran sambil nulis, baca buku, browsing, dan menikmati makan malam, selama menunggu penerbangan jam 09.45 p.m.


Realita?

Rajiv Gandhi International Airport, Hyderabad, saya sampai di bandara ini sekitar jam 5 sore. Kedua kalinya saya menimbang barang bawaan yang akan saya taruh di bagasi untuk memastikan tidak overweight. Kelar urusan bagasi, saya berpisah dengan beberapa teman dari benua Afrika yang datang ke bandara ini bersama saya. Beberapa di antara mereka akan transit ke Dubai sebelum melanjutkan penerbangan ke Ghana. Sedangkan beberapa lainnya ke New Delhi terlebih dahulu. Hanya saya yang akan terbang menuju Mumbai jam 09.45 malam nanti.


Kami berpisah dan mencari counter maskapai masing-masing. Saya pun menuju counter Jet Airways. Seperti biasa, saya serahkan tiket kepada petugas di counter. Seorang pria muda India tinggi putih dan ramah menerima tiket saya lalu memprosesnya. Tapi... tak seperti biasa, kali ini agak lama saya menunggunya mencetak boarding pass, bahkan ia sempat menelepon seorang rekannya. Meski menggunakan bahasa Hindi, tapi saya yakin ia sedang membicarakan saya. Bukannya GR, tapi saya dengar dengan sangat jelas ia berkata, “Last name... Ayun.” Selebihnya ia berbicara dalam bahasa Hindi.

“Your final destination, Mam?” tanyanya.
“Jakarta,” jawab saya. “What happened?” lanjut saya.
“Nothing.” Ia tersenyum.
Tak lama kemudian, datanglah rekannya menghampiri kami. Tiga boarding pass ia serahkan.

Si petugas counter menjelaskan seraya melihat boarding pass saya, "Madam, your departure time will be at 06.05."

"What???" Saya melongo kaget. Shock seperti seorang kekasih yang diselingkuhi. Harapan untuk bersantai di kafe sambil menunggu flight jam 09.45 kandas seketika.

"Yes, Madam. Your departure time will be at 06.05," ulangnya santai.
"But I didn’t get notification!!!" jawab saya nggak santai karena jam di ponsel sudah menunjukkan angka 05.47.


Ya, Tuhan... tangan saya mulai berkeringat, antara cemas dan bingung jika ketinggalan pesawat.
Andai di depan saya ada cermin, pasti saya bisa melihat kekecewaan yang tampak jelas pada bayangan wajah. Tanpa pikir panjang, saya segera melangkah secepat mungkin menuju security check. Tapi..., ransel gendut berisi buku-buku dan dua tas jinjing membuat saya tak cukup lihai melangkah cepat, apalagi berlari.

"Follow me, Madam." Mas-mas di counter Jet Airways itu memanggil saya.
Kami berjalan cepat setengah berlari menuju security check. Antrean panjang di sana berhasil saya lewati dengan cepat setelah pemuda tampan itu berkata dalam bahasa Hindi, meminta orang-orang yang sedang mengantre agar mendahulukan saya. Sementara, barang-barang di security check diurus olehnya.
Selanjutnya, kami masih harus lari-lari dan menuruni tangga menuju gate.    
“Come on, Madam, this way,” ujarnya.
Ransel di punggung membuat saya agak kewalahan mengikuti langkah cepatnya. Ditambah rasa lapar karena memang belum makan sejak siang. Tapi saya terus berusaha mengikutinya. Makmum kan harus ikut imamnya. #plak
 

Saya tak sempat melihat jam ketika langkah kami yang tergesa-gesa, berhenti di depan gate dengan beberapa orang yang sedang mengantre. Saya pun ikut mengantre, sedangkan mas-mas tadi berdiri di samping petugas yang mengecek tiket. Sebelum masuk ke pesawat, saya ucapkan terima kasih kepadanya dan pelukan perpisahan yang hanya dalam angan.
“Thank you… thank you so much,” ujar saya penuh haru.
“You’re welcome, Madam,” balasnya sembari tersenyum, sangat manis.

Akhirnya, saya bisa duduk manis di window seat favorit saya sembari menyeka peluh di wajah setelah perjuangan melelahkan menuju gate. Saya bersandar di kursi sambil menatap ke luar jendela saat pesawat mulai take off. Semburat jingga di langit barat mengantar kepergian saya meninggalkan Hyderabad. Saya terus menatap senja hari itu, hingga seorang pramugari menawari saya makanan.

“Veg or non veg?”
“Veg.”

Lalu dia menyodorkan semangkuk samosa dengan sedikit kuah kari kental berisi biji-bijian. Enak. Saya sungguh menikmatinya. Ah, semoga ini bukan terakhir kalinya saya makan makanan India di negara India.





Share:

10 comments

  1. Wah hampiiiir. Kadang bener ya, blogger itu sering nemu kejadian seru biar bisa dituliskan hehehe

    Omnduut.com

    ReplyDelete
  2. Bener banget, tapi kalo yg kayak gini jangan sering2 deh, apalagi penerbangan international. Huhuhuu... deg-degannya itu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, aku tahu bener rasanya hampir ketinggalan pesawat. Sereeeem!

      Delete
  3. Waduww untung masih kekejar ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah..., ditolongin mas ganteng. hahaha

      Delete
  4. Cerita2 kecil gini yg kadang justru paling berkesan dr sebuah perjalanan, bukan ttg destinasi :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap dengan perjalanan, berarti harus siap dengan segala dramanya.

      Delete
  5. Gak kereta gak pesawat, selalu ada drama. Dan kali ini mas mas jetstar jd guest star ������

    ReplyDelete
  6. Gak kereta gak pesawat, selalu ada drama. Dan kali ini mas mas jetstar jd guest star ������

    ReplyDelete
  7. Gak kereta gak pesawat, selalu ada drama. Dan kali ini mas mas jetstar jd guest star ������

    ReplyDelete