Catatan Pendek tentang Perjalanan yang Panjang


Jam digital di ponsel menunjukkan pukul 03.45 saat saya turun dari Damri di Terminal Dua Bandara Udara Soekarno Hatta. Mata masih mengantuk, tubuh juga masih lelah, tapi saya harus tetap menyeret koper dan menggendong ransel menuju counter Garuda Indonesia yang melayani penerbangan internasional, yang ternyata belum buka. Di kursi tunggu, beberapa pria dan wanita bermata sipit duduk berjajar dengan barang bawaan masing-masing. Saya pun duduk tak jauh dari mereka.

Beberapa wanita cantik, rapi, dan tentu saja wangi, menempati meja Counter Garuda satu per satu seraya bersiap melayani penumpang yang akan check in. Saya menghampiri salah satu meja, menyerahkan tiket dan barang bawaan untuk ditaruh di bagasi. Tiga boarding pass sudah di tangan untuk penerbangan Jakarta-Singapura, Singapura-Mumbai, dan Mumbai-Hyderabad. Sejenak saya pandangi tiga boarding pass tersebut seraya membatin, India, see you soon. Setelah melewati imigrasi, saya mengikuti petunjuk menuju Gate 7, yang ternyata belum buka dan masih sangat sepi. Saya menjadi orang pertama yang menunggu di depan Gate 7.


Satu jam berlalu bersama kantuk yang saya tahan, akhirnya saya telah duduk manis di dalam kabin pesawat yang akan membawa saya ke Singapura. Tepat saat matahari bersinar di ufuk timur, burung besi ini bersiap lepas landas, membawa saya meninggalkan Indonesia. Perjalanan Jakarta-Singapura terasa begitu singkat, hanya 1,5 jam dan saya lebih banyak tidur.


Sekitar jam 08.30 waktu setempat, saya tiba di Changi International Airport. Karena hanya transit, maka saya tak perlu melewati imigrasi Singapura. Saya ikuti petunjuk bertuliskan “transfer” untuk penumpang yang hanya transit di Changi, lalu menuju counter Garuda Indonesia sebagaimana arahan yang diumumkan sebelum pesawat mendarat. Mbak-mbak berbahasa melayu di counter tersebut mengarahkan saya untuk menuju Gate B3.

Welcome to Singapura
Hurry up, your boarding time is soon,” katanya dengan logat melayu yang kental.
Boarding time di boarding pass tertulis jam 09.20, sedangkan saat itu jam 09.05. Masih ada waktu 15 menit sebenarnya, tapi ternyata Gate B3 yang terletak di ujung dunia—oke, ini lebay—membuat saya harus berlari-lari agar tidak terlambat. Pada petunjuk arah tertulis bahwa Gate 5 masih sekitar 10 menit dengan jalan kaki. Saya terus berlari seperti Cinta yang tak ingin melewatkan pertemuan terakhir dengan Rangga di bandara. Sayangnya, saya tidak sedang mengejar cowok seganteng Rangga, melainkan mengejar boarding time.

Dan akhirnyaaa..., sampailah saya di depan Gate B3 yang bertuliskan “not ready”, padahal sudah jam 09.20. Saya terpekur sendirian di depan gate. Lalu, datanglah serombongan mbak-mbak cantik bertubuh tinggi langsing berhidung mancung dengan seragam perpaduan kuning dan hitam. Mereka adalah para pramugari Jet Airways yang akan saya naiki. Owalah..., bahkan saya datang lebih dulu daripada para pramugarinya. “Wait a moment,” kata salah satu dari mereka saat saya bertanya kapan gate akan dibuka.

Tak berapa lama, datang pula sepasang kakek nenek yang akan mudik ke kampung halaman mereka di India. Meski sudah tua, namun gurat ketampanan dan kecantikan masih terlihat jelas di wajah mereka. Tahu Amita Bachan? Seperti itulah gambaran sang kakek, sedangkan istrinya... pokoknya cantik khas wanita India. Kami pun ngobrol sambil menunggu boarding time. Mungkin orang menyangka saya adalah cucu mereka. *lol :P

Singkat cerita, Jet Airways telah lepas landas meninggalkan Changi Airport. Rasa kantuk pun menyerang, dan dalam sekejap saya telah lelap. Saat terjaga, seorang pramugari menawari saya makan siang. Saya pilih nasi ayam, meskipun yang saya makan hanya nasi, salad, dan bumbu entah apa yang rasanya asing di lidah saya yang lebih terbiasa dengan sambal trasi.



Hanya sedikit makanan yang masuk ke perut saat itu karena selain tidak terbiasa dengan rasa yang asing, gigi kiri saya juga mulai cenut-cenut. Saya baru ingat bahwa saat menunggu pesawat tadi, saya sempat nyeruput jus kemasan yang menjadi bagian breakfast di Garuda tadi. Rasanya sangat sangat sangat manis padahal saya tidak minum sambil ngaca dan spontan makjleb di gigi saya. Ini bukan jus buah, tapi jus gula rasa buah. :(
 

Semakin lama, gigi semakin cenat-cenut. Sebenarnya saya membawa obat sakit gigi, tapi saya menaruhnya di dalam ransel yang saya taruh di bagasi. Alhasil, saya hanya bisa “menikmati” rasa sakit ini sambil memandang hamparan awan lewat jendela pesawat. Saya berusaha tidur, tapi tidak bisa. Sementara, jam di ponsel—sudah saya setting airplane mode—menunjukkan pukul 14.00. Padahal, seharusnya pesawat landing di Mumbai jam 13.30. Saya semakin risau saat terdengar pengumuman agar penumpang mengenakan kembali seat belt masing-masing karena cuaca buruk. Oh, Tuhan! Untunglah itu tak berlangsung lama. Tanda untuk mengenakan seat belt telah padam, tapi cenut-cenut di gigi tak kunjung hilang.

Waktu sudah menunjukkan jam 14.30, tapi belum juga ada tanda-tanda bahwa pesawat akan segera landing. Sejauh mata memandang hanya hamparan awan putih yang terlihat. Berbagai pikiran berkecamuk; saya masih harus melewati imigrasi India, check out bagasi dan check in lagi, sementara penerbangan dari Mumbai-Hyderabad adalah jam 16.00, bagaimana kalau saya ketinggalan pesawat? Saya juga tak berani mengecek posisi Jet Airways ini karena khawatir jika ternyata perjalanan masih jauh, dan saya akan semakin galau.

 
Sampai jam menunjukkan pukul 15.00, pesawat belum juga landing. Ditambah sakit gigi yang tak kunjung pergi, rasanya lengkap sudah kegalauan ini. Namun akhirnya, saya pun memberanikan menyentuh screen di hadapan saya dan memilih menu fligth path. Terlihat posisi pesawat sudah cukup mendekati Mumbai. Dan..., yang membuat saya sangat lega sekaligus ingin menertawakan kekonyolan diri sendiri adalah sebuah keterangan yang menunjukkan bahwa pesawat akan landing pada jam 13.30 waktu Mumbai dan saat ini di Mumbai masih jam 12.55. Saya baru sadar bahwa ponsel saya belum move on dari Singapura yang memiliki selisih waktu sekitar dua jam lebih cepat daripada India. *rasanya pengen jedotin kepala ke kursi pesawat *lol

Meski sakit gigi masih datang dan pergi, setidaknya saya sudah tenang dan tak khawatir ketinggalan pesawat. Pemandangan di sisi kanan saya mulai berubah; Mumbai dari atas. Terdengar pengumuman untuk kembali mengenakan seat belt. Tepat saat pesawat landing, rasanyaa... hmm...., undescribeable! Finally, I reach Mumbai. Saya dan para foreigners lainnya bergegas menuju imigrasi yang petugasnya cukup jutek, tapi semua berjalan lancar.

Setelah check in bagasi untuk penerbangan lokal ke Hyderabad, saya harus naik-turun lantai menuju gate 47 untuk penerbangan lokal. Saya menunggu cukup lama, sekitar 1,5 jam sambil nge-charge hp dan melihat sekeliling yang dipenuhi orang-orang berhidung mancung. Saya benar-benar di India, batin saya. 


Sementara, sakit gigi masih datang pergi sesekali, bahkan hingga saya landing di Hyderabad tepat jam 17.30 waktu setempat.

Urusan claim bagasi sudah beres. Saya mengikuti tulisan “exit” menuju pintu keluar, lalu mencari seseorang yang membawa tulisan EFL-University. Tak sulit menemukannya di antara banyak orang di bandara.

“Mr. Praveen Kumar?” sapa saya.
Dia mengangguk, “ITP student? From Indonesia?”
Giliran saya yang mengangguk.
Let’s go!” ucapnya disertai gesture ajakan.

Ransel ungu kesayangan di punggung, tas cangklong rajut di depan, dan koper di tangan kanan, membuat saya agak kesusahan mengikuti langkah Mr. Praveen yang berjalan dengan cepat. Alih-alih membantu membawa koper, dia justru berkata, “Come on!”

Hihh..., rasanya saya pengen ngomong, “Adek lelah dan jetlag, Bang. Bantuin Adek bawa koper.” *lol 

Ya, mungkin saya memang agak mengalami culture shock karena di Indonesia, laki-laki tak segan membantu perempuan membawakan barang berat. Dan..., sampai juga saya di tempat parkir lalu duduk kelelahan di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol standar orang baru kenal dan bertemu, sampai akhirnya saya bilang bahwa saya sangat lelah dan mau tidur. Saya pejamkan mata walaupun tidak bisa tidur. Tidur ayam, kata orang.

Perjalanan dari bandara ke hostel ditempuh sekitar 1 jam 15 menit. Mobil pun berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat bertuliskan Amrita Pritam International Women Hostel. Di sinilah saya akan tinggal selama di India. Sampai di kamar, saya membongkar ransel untuk mencari obat sakit gigi. Saya telan satu tablet dan langsung tidur karena kelelahan. All I want was just sleeping.


                                                                                      Hyderabad, one day in June 2016

Share:

8 komentar

  1. Menarik sekali. Ditunggu kisah selanjutnya yaa.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini cerita konyol. Wkwkwkkk... tapi karena konyol itu mungkin jadi menarik.

      Delete
  2. andai yang menjemput adalah mas Sanam Puri, aku pasti semakin gak rela karena kamu ke sana duluan. *lha... emang aku siapa coba!! :>)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sanam Puri terus, sajak e ngefans banget. walaupun yg jemput aku Sanam Puri, tetep aja gak akan mengenalinya. Lha wajahe Sanam Puri koyok opo wae aku gak ngerti. :P

      Delete
  3. Replies
    1. Hahaha... turu membuatku mimpiin Indonesia.

      Delete
  4. Sepanjang baca aku senyam senyum hehe. Dari yang minuman kelewat manis sampe selisih waktu di India. Ah sayang gak sempat ke Hyerdabad aku waktu itu. Ditunggu kisah selanjutnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung senyam senyum, bukan meneteskan air mata. Hehee...
      Hyderabad is worth to visit!

      Delete

meninggalkan komentar lebih baik daripada meninggalkan pacar. hehehe...